HETANEWS.COM

Wow! Warga Sragen Ini Koleksi Ribuan Fosil di Rumahnya

Sudarsono mengoleksi ribuan fosil di rumahnya di Sragen, Selasa (16/6/2020).

Sragen, hetanews.com - Seorang warga Dukuh Ngadirojo, Desa Sambungmacan, Sragen, Sudarsono (62) mengoleksi ribuan fosil di rumahnya. Di antara koleksi fosil tersebut ada yang ditawar kolektor hingga puluhan juta rupiah. Namun Sudarsono bergeming dan memilih menyimpannya sendiri dengan alasan menjaga kelestarian.

Fosil-fosil berbagai jenis dan bentuk tersebut kini dipajang di ruang tamu rumah Sudarsono. Saking banyaknya koleksi, bapak satu anak ini mengaku tak hafal jumlah pasti fosil koleksinya. Fosil tersebut terdiri atas berbagai jenis hewan, tumbuhan serta biota laut seperti teripang dan coral.

Kepada detikcom, Sudarsono mengaku mulai mengoleksi fosil sejak tahun 1975. Fosil tersebut ditemukan di aliran Bengawan Solo yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumahnya.

"Sekitar tahun 1973, ada proyek pembuatan kanal sodetan Bengawan Solo. Waktu itu tujuannya untuk mengurangi banjir akibat meluapnya aliran sungai. Dari sodetan inilah saya mulai menemukan fosil dan mengumpulkannya sejak 1975," ujar Sudarsono ditemui detikcom di rumahnya, Selasa (16/6/2020).

Pembuatan sodetan tersebut dilakukan dengan membuat saluran sedalam 10 meter. Di dasar sodetan inilah, banyak fosil-fosil ditemukan. Saat itu, Sudarsono mengaku tak mengetahui secara jelas nilai fosil yang ditemukannya.

"Awalnya saya kumpulkan saja, siapa tahu nanti berguna. Dulu saya taruh di kebun, lalu kok banyak tamu yang datang untuk cari gitu-gitu (fosil). Lalu saya masukkan di rumah, saya buatkan rak," paparnya.

Para tamu yang datang untuk melihat koleksi fosil Sudarsono, mayoritas merupakan peneliti dan arkeolog. Banyak di antaranya berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat, Australia dan Jepang.

"Banyak yang tertarik jadi saya semakin semangat mencari fosil. Nggak terasa jumlahnya sudah lebih dari empat ribuan," tukas Sudarsono.

Sudarsono bersama ribuan koleksi fosil purba di rumahnya di Dukuh Ngadirojo, Desa Sambungmacan, Sragen, Selasa (16/6/2020).
Sudarsono bersama ribuan koleksi fosil di rumahnya di Dukuh Ngadirojo, Desa Sambungmacan, Sragen, Selasa (16/6/2020).

"Ya saya dikira gila. Karena ngumpulin gituan. Dulu kan banyak yang belum paham," imbuhnya.Hobi Sudarsono ini bahkan sempat membuatnya dicibir oleh tetangga. Saat itu, banyak orang yang menuduhnya kurang waras karena memiliki hobi mengoleksi tulang belulang.

Hingga akhirnya banyak kolektor yang datang untuk membeli koleksi fosil milik Sudarsono. Tawaran dari Rp 10 hingga Rp 50 juta pernah ditolaknya. Padahal nilai tersebut cukup besar di masa itu.

"Paling tinggi menawar hingga Rp 50 juta. Sekitar tahun 1990-an. Yang ditawar itu fosil gigi gajah purba. Umur fosilnya sekitar 1,8 juta tahun. Saya tolak," tegasnya.

Sudarsono mengoleksi ribuan fosil di rumahnya di Sragen, Selasa (16/6/2020).
Sudarsono mengoleksi ribuan fosil di rumahnya di Sragen, Selasa (16/6/2020).

Sudarsono mengaku menolak tawaran menggiurkan tersebut, karena dari awal dirinya memang tidak ingin mencari untung dari kegemarannya mengoleksi fosil ini. Menurutnya, pendapatannya saat itu sebagai juru foto panggilan serta berjualan tanaman bonsai sudah mencukupi kebutuhannya.

"(Kalau dijual) Lha nanti hilang, rusak atau tidak dirawat. Fosil ini ilmu, untuk generasi selanjutnya. Saya cari bukan karena nilai materinya, tapi ilmunya tinggi sekali," terang Sudarsono.

Sudarsono menyebut, koleksi fosil ini sudah atas sepengetahuan petugas berwenang. Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran bahkan berencana membantu pembuatan museum di rumahnya.

"Ini dari (BPSMP) Sangiran sudah mulai. Laporan sudah di kementerian pusat mau dibikinkan museum di sini," ujarnya.

Dimintai konfirmasi terpisah, Kasi Perlindungan BPSMP Sangiran, Dody Wiranto mengaku telah mengetahui koleksi fosil milik Sudarsono tersebut. Menurutnya, aturan undang-undang memang memungkinkan seseorang mengoleksi fosil secara pribadi.

"Diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Namun pastinya koleksinya bersifat umum. Jika fosil tersebut sangat berharga semisal fosil homo erectus pasti akan kami minta disimpan di balai," terang Dody.

Pasal 2 berbunyi, setiap orang dapat memiliki dan/atau menguasai cagar budaya apabila jumlah dan jenis benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan/atau situs cagar budaya tersebut telah memenuhi kebutuhan negara.Dody menjelaskan, ketentuan tersebut tertuang dalam Bab IV tentang Pemilikan dan Penguasaan. Di mana Pasal 12 ayat 1 berbunyi setiap orang dapat memiliki dan/atau menguasai benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya dan/atau situs cagar budaya dengan tetap memperhatikan fungsi sosialnya.

"Jadi boleh dikuasai perseorangan asalkan dirawat, dan digunakan untuk kepentingan sosial seperti museum. Boleh juga dipindahtangankan asal ada pemberitahuan ke dinas terkait. Yang dilarang adalah dijualbelikan kepada orang asing. Semuanya diatur dalam undang-undang tersebut," beber Dody.

BPSMP Sangiran sendiri secara berkala melakukan pencatatan dan perawatan kepada fosil-fosil yang disimpan di luar situs Sangiran. Dody menyebut ada banyak fosil yang dikuasai perseorangan, semuanya dalam pengawasan BPSMP Sangiran.

Sumber: detik.com 

Editor: suci.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!