HETANEWS.COM

Air Keras yang “Tak Disengaja” dan Ketidakadilan yang Disengaja

Novel Baswedan

Hetanews.com - Jika memang diibaratkan sebagai novel, bisa dibilang alur dari seluruh rangkaian ceritanya berjalan dengan sangat alot. Bagaimana tidak, kasus ini bermula dari tahun 2017, lebih dari tiga tahun lalu.

Pada tanggal 11 April di tahun tersebut, Novel yang berjalan kaki pulang dari masjid usai menunaikan solat subuh, mendengar suara sepeda motor yang mendekat perlahan ke arahnya.

Spontan ia kemudian menoleh ke arah suara motor itu berasal di sisi kanannya. Belum sempat melihat wajah dari si pengendara, Novel keburu disiram air keras yang mengenai wajahnya dan merusak pengelihatannya.

Mantan penyidik KPK, Novel Baswedan.
Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Seakan menjadi bagian dalam suatu rangkaian cerita, detik penyiraman air keras terhadap Novel merupakan awal dari terjadinya konflik. Babak selanjutnya adalah bagaimana upaya pemerintah mencari pelaku dan motif penganiayaan yang menyerang orang yang menyandang status penting dalam tubuh KPK.

Di titik ini, kredibilitas pemerintah sangat dipertaruhkan dalam menegakkan hak asasi manusia dan mendapatkan imege positif dari rakyat Indonesia. Masih hangat dalam ingatan bagaimana respons pertama Presiden Jokowi usai mengetahui kekerasan yang dialami oleh Novel.

Dalam keterangannya, Jokowi mengutuk keras dan mengatakan bahwa penyerangan tersebut merupakan tindakan brutal. Ia juga meminta Kapolri yang tengah menjabat pada saat itu untuk segera mencari pelakunya.

Titik terang dalam kasus ini muncul di penghujung tahun 2019. Setelah lebih dari dua setengah tahun mencari, polisi akhirnya menemukan pelaku pada tanggal 26 Desember 2019. Lucunya, kedua pelaku merupakan anggota polisi aktif, yakni Brigadir Rahmat Kadir dan Brigadir Ronny Bugis.

Cerita dari kasus ini kemudian berlanjut ke proses persidangan. Sampai akhirnya jaksa penuntut umum menuntut kedua pelaku penyerangan terhadap Novel Baswedan dengan memenuhi dakwaan subsider, yaitu Pasal 353 ayat (2) juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan hukuman penjara selama satu tahun. Antiklimaks.

Hukuman ringan untuk pelanggaran HAM berat

Kita semua tahu tuntutan yang diberikan jaksa kepada Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette dianggap sangat ringan untuk kasus kekerasan berat seperti ini.

Bukan saja mengakibatkan kerusakan bagian tubuh, namun juga kasus ini melibatkan orang penting dalam tubuh KPK, yang notabene merupakan badan independen pemberantasan kasus-kasus korupsi di Indonesia.

Tuntutan yang dibacakan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara ini dilakukan terpisah. Rahmat Kadir Mahulette dibacakan tuntutannya setelah Ronny Bugis menerima tuntutan terlebih dahulu. Meski demikian, hasil tuntutan yang diberikan jaksa sama, yakni kurungan satu tahun penjara.

Salah satu pelaku penyiraman air keras ke Novel Baswedan, Rahmat Kadir Mahulette. 
Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga

Ahmad Fatoni selaku Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Jakarta Utara mengatakan bahwa ringannya hukuman untuk kedua orang pelaku tersebut dikarenakan sikap mereka yang koperatif selama persidangan.

Disebutkan bahwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette mengakui kesalahannya, meminta maaf, dan menyesali perbuatannya, termasuk ke keluarga Novel dan Polri. Keduanya juga belum pernah dihukum dan bersikap baik selama di kepolisian.

Fatoni juga menyebutkan hal lain yang turut meringankan hukuman, yakni keduanya tidak bermaksud untuk melakukan penganiayaan berat kepada Novel.

Kerusakan pengelihatan yang dialami Novel adalah sesuatu di luar dugaan, karena keduanya hanya bermaksud memberikan pelajaran ringan dengan menyiram air keras ke arah badan.

Menurut Fatoni, motif dalam kasus ini adalah dendam pribadi. Novel tidak disukai oleh Ronny dan Rahmat karena dianggap mengkhianati Polri. Tim pengacara Novel secara terpisah menegaskan bahwa ringannya tuntutan terhadap dua pelaku tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat pada keadilan.

Maka dari itu, mereka masih ingin berdiskusi dan memperjuangkan langkah selanjutnya untuk menegakkan keadilan terhadap kasus ini. Sementara itu, Novel mengatakan bahwa ia prihatin terhadap tuntutan yang diberikan oleh jaksa.

Menurutnya, dari awal dimulainya persidangan hanyalah bagian dari formalitas semata. “Keterlaluan memang, sehari-hari memberantas mafia hukum dengan UU Tipikor tapi jadi korban praktik lucu begini,” ujar Novel

Persidangan kasus Novel Baswedan.
Foto: ANTARA/Nova Wahyudi

Sebenarnya ada beberapa hal yang diakui oleh jaksa pada persidangan tersebut. Pertama, jaksa membeberkan fakta bahwa memang benar keduanya melakukan penganiayaan yang berencana. Pasalnya, Ronny dan Rahmat terbukti memantau kediaman Novel beberapa kali selama 10 hingga 15 menit.

Hal ini berdasarkan keterangan saksi. Kedua, jaksa mengakui bahwa perbuatan yang dilakukan oleh kedua pelaku merupakan penganiayaan berat karena mengakibatkan kerusakan fisik yang dialami oleh korban.

“Kerusakan kornea mata atau kehilangan panca indera penglihatan. Sehingga unsur penganiayaan berat terbukti,” kata Fatoni selaku jaksa.

Namun tetap saja, pengakuan tersebut tidak dapat memberatkan hukuman Ronny Bugis dan Rahmat Kadir. Fakta tersebut kalah dengan “sikap kooperatif” pelaku.

Terdapat dakwaan primer dalam kasus ini, yakni Pasal 355 ayat (1) KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

Namun dakwaan tersebut tidak terbukti karena menurut jaksa, kedua terdakwa hanya ingin menyiramkan cairan keras ke badan, bukan wajah apalagi mata.

Maka dari itu jaksa hanya menuntut kedua pelaku dengan dakwaan subsider, yakni Pasal 353 ayat 2 KUHP juncto Pasal 55 ayat 1 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

Lucunya hukum di negeri ini

Agaknya wajar bila tuntutan jaksa dalam kasus ini menjadi bulan-bulanan masyarakat Indonesia. Hingga Sabtu (13/6/2020), tagar Novel Baswedan masih menjadi trending topic Twitter di Indonesia. Bukti nyata kekecewaan publik atas sistem hukum di Indonesia.

Hukum harusnya berasaskan keadilan, tidak memandang latar belakang siapa orangnya. Namun dalam kenyataannya, tidak jarang terjadi kasus yang secara nalar logika saja tidak adil dan sebanding dengan hukumannya.

Teringat dalam kasus nenek yang mencuri dua batang kayu jati bernama Asyani (63) pada 2015 silam. Ia mengambil kayu milik Perhutani tersebut untuk dijadikan tempat tidur.

Namun, ia dituntut hukuman kurungan penjara selama satu tahun dengan denda Rp 500 juta subside kurungan 1 hari. Contoh lain juga tercermin dalam kasus dua perempuan asal Surabaya yang mencuri celana pada medio 2017 lalu.

Atas perbuatannya tersebut, Tri Dian (38) dan Mas’uda (34) dituntut 7 tahun kurungan penjara. Hal serupa dialami pula oleh Wahyuni (26), pencuri baju di sebuah butik di daerah Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah yang diganjar hukuman 15 bulan penjara.

Sumber: opini.id

Editor: tom.
Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!