HETANEWS.COM

Pembagian Sembako dari Pemkab dan Provinsi Diwarnai “Provokasi” Warga di Nagori Jawa Tongah

Suasana penyerahan bantuan sembako kepada warga di Nagori Jawa Tongah. (foto/dani)

Simalungun, hetanews.com -  Warga Nagori Jawa Tongah, beberapa hari lalu, telah menerima bantuan dari Pemkab Simalungun dan Provinsi Sumut, berupa  bantuan paket sembako.

Akan tetapi, di balik penerimaan paket sembako itu, ada pula warga yang diduga telah termakan terhasutan dan diduga provokasi dari  salah seorang warga.

Dan menurut keterangan warga lainnya, hasutan itu diduga dilontarkan oleh salah seorang ibu, yang dikenal sebagai istri dari mantan Pangulu atau Kepala Desa, di wilayah tersebut.

Pangulu Nagori Jawa Tongah, Frandy Rajaguguk yang berhasil dikonfirmasi awak media ini, terkait adanya hasutan itu menuturkan, upaya memprovokasi sejumlah warga lainnya yang diduga dilakukan salah seorang warga itu, disinyalir karena tidak terima atas kebijakan Kepala Desa Jawa Tongah yang telah menseleksi data warganya, sebagai penerima  bantuan Bantuan Sosial Tunai (BST) dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.

Anggaran Dana Desa dimaksud, diperuntukan bagi masyarakatnya yang diyakini  miskin, bahkan  terdampak Covid – 19, sehingga yang tidak layak menerima bantuan tersebut, datanya akan dicoret.

Dijelaskan Kepala Desa Jawa Tongah, warganya ada 1512 jiwa.

Sedangkan yang mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa tahap pertama sejumlah 115 KK.

Hal itulah yang menjadi pemicu permasalahan, bahkan muncul sejumlah isu yang ditebarkan oleh salah seorang warga yang merasa tidak terima atas kebijakan dimaksud. 

Frandy Rajagukguk yang menjabat Kepala Desa kemudian mengambil inisiatif untuk menetralkan kembali suasana, di lingkungannya.

Dia menggelar musyawarah untuk mengantisipasi permasalahan kecemburuan sosial yang terjadi di Nagori yang dipimpinnya itu.

Musyawarah desa pun digelar, disaksikan sejumlah warga, Babinsa dari Koramil 10 Balimbingan dan Babinkamtibmas dari Polsek Tanah Jawa.

Rapat berjalan begitu alot, hingga akhirnya melahirkan keputusan, yaitu adanya penambahan data warga sebanyak  30 KK, masuk dalam pengusulan penerima BLT tahap kedua, hingga jumlah BLT untuk tahap kedua yakni 145 KK.

Namun hal itu pun  sesuai kesepakatan sejumlah warga dari 30 KK yang mendapat BLT lanjutan. Itu harus dibagi rata pada 68 warga lainnya secara merata dan hal itu disepakati.

Penulis: tim. Editor: gun.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!