HETANEWS.COM

Pemerintah Diingatkan Jangan sampai Blunder Terapkan

Jakarta, hetanews.com - Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (Instran), Deddy Herlambang meminta seluruh pemangku kepentingan untuk berpikir ekstra agar tidak terjadi blunder ketika kehidupan baru (new normal) diterapkan di angkutan umum massal khususnya di Jabodetabek. Kerumunan masyarakat tanpa jarak atau no physical distancing harus menjadi perhatian utama.

"Blunder dalam artian terjadi kerumunan masyarakat pengguna angkutan umum massal yang pernah terjadi di halte bus, stasiun, dan bandara dalam masa PSBB," kata dia dalam keterangannya kepada merdeka.com, Rabu (3/6).

Dalam kondisi PSBB di transportasi Jabodetabek memang lebih sering disorot hanya angkutan massal (KRL, MRT/LRT, BRT) dan ojol tentunya bandara juga disorot bila ada kerumunan. Sementara untuk angkot (angkutan kota) jarang diamati bagaimana pelaksanaan ketika PSBB dan bajaj (roda 3) juga belum diatur dalam PSBB.

Kalau new normal dilaksanakan konsekuensinya semua lapisan masyarakat akan kembali seperti semula sebelum PSBB untuk belajar dan bekerja. Setelah PSBB berakhir menjadi new normal untuk jumlah perjalanan pengguna angkutan umum pun akan sama dengan normal yang hanya membedakan adalah kualitas perjalanan karena lebih utamakan bersih untuk sehat.

  • Permasalahan Jika Gunakan Transportasi Pribadi

Seperti diketahui, Kementerian Kesehatan sendiri telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi.

Di dalamnya terdapat panduan pencegahan penularan Covid-19 apabila 'terpaksa' menggunakan angkutan umum karena dalam kepmenkes tersebut disarankan bekerja menggunakan kendaraan pribadi.

Namun, apabila semua ingin menggunakan kendaran pribadi, permasalahan transportasi akan muncul, hal ini akan berdampak kepada kemacetan lalu lintas dan mengganggu produktivitas warga itu sendiri.

Sebab, bila banyak menggunakan kendaraan pribadi konsekuensinya emisi gas buang kendaraan bermotor akan terakumulasi yang merusak kualitas udara, otomatis akan mengganggu imunitas tubuh manusia itu sendiri yang akan mudah terinfeksi virus termasuk covid-19.

"Untuk tetap menggunakan transportasi umum, berharap pemerintah tetap berupaya mengunakan konsep menekan dan menarik. Menekan untuk tidak menggunakan kendaraan pribadi, kebijakan nopol ganjil-genap tetap diberlakukan secara normal. Untuk menarik masyarakat menggunakan angkutan umum massal, maka harus ada jaminan kebersihan untuk kesehatan dalam operasi sarana angkutan umum," kata dia. 

sumber: merdeka.com

Editor: sella.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!