HETANEWS.COM

Jejak Raja Girindrawardhana di Mojokerto, Penguasa Era Majapahit Akhir

Jejak Raja Girindrawardhana di Mojokerto

Mojokerto, hetanews.com - Jejak kekuasaan Raja Girindrawardhana Dyah Ranuwijaya, penguasa zaman Majapahit akhir banyak ditemukan di Kabupaten Mojokerto. Bukti-bukti arkeologis tersebut memunculkan hipotesis keraton Majapahit yang disebut Dahanapura pada masa itu, tidak dipindahkan ke Kediri.

Jejak kekuasaan Raja Girindrawardhana banyak ditemukan di Desa Jiyu, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto. Salah satunya berupa patok batas berbahan batu andesit yang ditemukan Hariyono (40), warga setempat. Patok ini mempunyai dimensi tinggi 78 cm, lebar bagian bawah 22 cm bagian atas 19,5 cm, ketebalan bagian bawah 23 cm bagian atas 19,5 cm.

Pada salah satu permukaan batu ini terdapat ukiran beberapa simbol. Yaitu simbol bulan, matahari, dua telapak kaki, tongkat dililit ular, gunung, serta simbol amerta. Hariyono juga menemukan fragmen tembikar, keramik dan sejumlah uang logam kuno. Beberapa tembikar berupa pecahan selubung tiang bangunan dan ukel atau hiasan atap rumah. Seluruh temuan itu dia simpan di rumahnya sampai saat ini.

"Terserah BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) mau diapakan, yang penting saya sudah menyelamatkan. Saya berharap disimpan dan dirawat dengan benar demi kepentingan sejarah," kata Hariyono kepada detikcom di rumahnya, Rabu (3/6/2020).

Ukiran matahari dan bulan melambangkan penguasa siang dan malam, gunung melambangkan julukan Raja Gunung, telapak kaki melambangkan kekuasaan kerajaan, tongat dililit ular melambangkan perintah raja wajib dilaksanakan, serta amerta melambangkan sumber kehidupan. Kombinasi simbol yang sama juga ditemukan pada Prasasti Kembangsore di Desa Petak, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho telah mengecek benda cagar budaya yang ditemukan Hariyono. Menurut dia, batu patok batas memang banyak ditemukan di Desa Jiyu. Ukiran simbol-simbol pada batu tersebut ternyata mempunyai arti tersendiri.

"Beberapa batu patok batas yang ditemukan di Desa Jiyu mempunyai ciri khas peninggalan Raja Girindrawardhana Dyah Ranawijaya. Karena kombinasi simbol yang sama juga ditemukan di Prasasti Kembangsore yang dikeluarkan Raja Girindrawardhana. Sehingga tapal batas kami interpretasikan batu patok ini menjadi tanda batas wilayah kekuasaan Girindrawardhana," terangnya saat meninjau batu patok batas temuan Hariyono.

Jejak kekuasaan Girindrawardhana, lanjut Wicaksono, juga dibuktikan dengan temuan 4 prasasti di Desa Jiyu. Salah satu prasasti bertuliskan angka tahun 1486 masehi saat Girindrawardhana berkuasa. Menurut dia, prasasti tersebut berisi kebijakan Raja Girindrawardhana yang menetapkan Desa Jiyu sebagai tanah perdikan atau tanah bebas pajak.

"Pada Prasasti Jiyu juga disebutkan adanya pembangunan asrama untuk memperingati ibu dari Girindrawardhana. Prasasti Kembangsore juga berangka tahun sama, isinya simah atau pemberian kekuasaan atas tanah oleh Raja Girindrawardhana kepada daerah tersebut agar bebas pajak sebagai balas budi raja atas jasa-jasa daerah tersebut," jelasnya.

Bukti-bukti arkeologis tersebut, kata Wicaksono, belum termasuk struktur bangunan kuno dari susunan bata merah dan batu andesit yang masih terpendam di lahan pertanian Desa Jiyu. Menurut dia, jejak kekuasan Raja Girindrawardhana juga banyak ditemukan di wilayah sekitar Jiyu. Mulai dari Kecamatan Mojosari, Pacet, hingga Jatirejo.

Oleh sebab itu, Wicaksono membuat hipotesis tentang lokasi Dahanapura. Yaitu ibu kota Majapahit pada masa kepemimpinan Girindrawardhana. Pada beberapa prasasti lain disebutkan kota raja Majapahit dipindahkan dari Trowulan, Kabupaten Mojokerto ke Dahanapura akibat perang Paregrek. Yakni perang perebutan kekuasaan Majapahit antara Wikramawardhana dengan Wira Bhumi.

Wicaksono meyakini, wilayah kekuasan Raja Girindrawardhana pada masa Majapahit akhir semakin menyempit. Selain perang saudara yang memperebutkan kekuasaan, wilayah Majapahit semakin kecil akibat semakin kuatnya kerajaan Islam di wilayah pesisir Jawa Timur dan masuknya kongsi dagang Belanda, VOC."Para ahli menduga Dahanapura di Daha, Kediri. Kalau saya merujuk data-data arkeologis, jejak Girindrawardhana banyak ditemukan di Mojosari, Pacet, Kutorejo dan Jatirejo. Girindrawardhana juga dikenal dengan Raja Gunung. Maka lebih tepat ibu kotanya di sini (Desa Jiyun dan sekitarnya) karena dekat dengan Gunung Penanggungan dan Welirang. Dahanapura itu kelihatannya dipindahkan tidak jauh dari kota raja di Trowulan. Bukan yang selama ini merujuk ke Kota Daha di Kediri," cetusnya.

"Hal itu semakin melemahkan kekuasaan Majapahit kelihatannya semakin bergeser ke gunung-gunung. Kota raja di Trowulan ditinggalkan karena dianggap sudah kehilangan kesucian setelah diserang musuh. Banyak wilayah bawahan memisahkan diri. Sehingga wangsa Girindrawardhana kekuasaannya menciut," tandasnya.

Sumber: detik.com 

Editor: suci.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!