HETANEWS.COM

Siap Nggak Siap New Normal

Pasukan memeriksa suhu tubuh seorang penduduk sebelum mengambil beras dari bantuan pemerintah selama wabah virus corona (COVID-19) di sebuah komando distrik militer di Jakarta, Indonesia, pada 5 Mei 2020. Foto: Anadolu Agency/Anton Raharjo

Hetanews.co - Organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), menyatakan bahwa pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) belum bisa dikendalikan. Hingga kini belum ditemukan vaksin untuk menanggulangi COVID-19.

Lembaga-lembaga penelitian di seluruh dunia masih berlomba untuk menciptakan vaksin virus mematikan tersebut, termasuk di Indonesia. Angka manusia yang terpapar, sembuh, dan meninggal dunia akibat virus yang berasal dari Wuhan, China, tersebut terus bergerak naik-turun. Per 30 Mei 2020, WHO mencatat 5.819.962 orang terjangkit COVID-19 dan 362.786 orang di 216 meninggal dunia.

Di Indonesia, jumlah positif COVID-19 mencapai 25.773 orang. 1.573 orang di antaranya meninggal dunia, 7.015 orang sembuh dan 17.185 dalam perawatan. Juga ada 47.714 orang dalam pemantauan (ODP) dan 12.832 pasien dalam pengawasan (PDP). DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Barat merupakan daerah terdampak COVID-19 terbesar.

Sejak awal Maret 2020, Indonesia telah menerapkan kebijakan social/physical distancing atau jaga jarak. Pada 11 April 2020 Presiden Joko Widodo akhirnya menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020, Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Status Darurat Kesehatan Masyarakat dan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Akibat penerapan PSBB, perekonomian lumpuh, daya beli masyarakat melemah, angka pengangguran dan PHK meningkat. Alih-alih melonggarkan PSBB, Jokowi kini menerapkan tatanan kehidupan baru masyarakat. Masyarakat beraktivitas kembali sambil tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

“Keselamatan masyarakat tetap harus menjadi prioritas. Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi resiko wabah ini, itu keniscayaan. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru,” kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 30 Mei 2020.

“Kalau dari sisi epidemologi seharusnya memang belum saatnya. Dari angka kasus harian keseluruhan di Indonesia itu kan jelas, kita kasusnya fluktuatif, terus meningkat.”

Provinsi Sumatera Barat menjadi satu dari empat daerah yang akan diberlakukan new normal.
Foro: Jeka Kampai​​​​​

Sebelumnya, dalam rapat terbatas mengenai persiapan pelaksanaan Protokol Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman COVID-19 melalui telekonferensi, Rabu, 27 Mei 2020, Jokowi menyatakan, Kementerian Kesehatan sudah menyiapkan protokol yang harus disosialisasikan kepada masyarakat. Masyarakat tetap bisa produktif, tapi aman.

“Tatanan normal baru sudah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan ini agar disosialisasikan secara masif, sehingga masyarakat tahu apa yang harus dikerjakan baik mengenai jaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dan dilarang berkerumun dalam jumlah yang banyak,” tegas Jokowi.

Pelaksanaan new normal pada tahap awal akan digelar di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota yang memiliki angka reproduction number (Ro), yaitu angka penyebaran awal virus dan effective reproduction number (Re/Rt), yaitu jumlah kasus baru penularan infeksi di masa sebelumnya, sudah di bawah satu.

Untuk mendisiplinkan masyarakat, pemerintah bakal mengerahkan aparat TNI/Polri. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 sendiri sudah memberikan kewenangan kepada 102 pemda yang berada di zona hijau untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman.

Jokowi saat meninjau persiapan new normal di stasiun MRT beberapa waktu lalu.
Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden​​​​

“Kemarin, tanggal 29 Mei 2020, Bapak Presiden Jokowi memerintahkan Ketua Gugus Tugas untuk memberikan kewenangan kepada 102 pemerintah Kabupaten/Kota yang saat ini berada dalam zona hijau, untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman COVID-19,” kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen TNI Doni Mordano di Media Center Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2020.

Doni mewajibkan setiap kepala daerah memperhatikan ketentuan tentang testing yang massif, tracing yang agresif, isolasi ketat, serta treatment yang dapat menyembuhkan pasien COVID-19.

Ia juga mengatakan kepada para kepala daerah selaku ketua Gugus Tugas tingkat kabupaten/kota agar dalam proses pengambilan keputusan harus melalui Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan DPRD, dunia usaha, akademisi, masyarakat dan media massa.

"Saya ulangi sekali lagi, sangat tergantung kepada kedisiplinan masyarakat dan kesadaran kolektif, dalam mematuhi protokol kesehatan, antara lain, wajib pakai masker, jaga jarak aman, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, senantiasa melaksanakan olahraga yang teratur, istirahat yang cukup, dan juga tidak boleh panik, serta upaya akan selalu dapat mengkonsumsi makanan yang bergizi,” imbuhnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ide penerapan new normal datang sendiri dari Presiden Jokowi. Kenormalan baru ini diterapkan agar perekonomian Indonesia bisa bangkit kembali sambil menunggu perkembangan wabah penyakit COVID-19.

Menurutnya, perkembangan ekonomi didasarkan pada data fundamental serta sentimen publik-pasar. Kedua hal itu akan bergerak dengan sendirinya jika ada harapan yang positif di tengah-tengah masyarakat.

Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto.
Foto: Syailendra Hafiz Wiratama

“Kita lihat dari posisi rupiah, pasar modal relatif baik di tengah pandemi ini dan kepercayaan internasional tinggi. Sehingga dengan demikian yang akan invest di Indonesia akan tetap komitmen, walaupun terjadi delay. 

Expert itu bisa datang ke Indonesia. Yang ingin saya sampaikan expert yang datang ke Indonesia itu juga menciptakan multiplier effect kepada pekerja,” ujar Airlangga kepada  di kantornya, Jakarta, Jumat, 29 Mei 2020.

Multiplier effect itu juga yang kini tengah dibahas para menteri di bidang perekonomian agar bisa segera diwujudkan. Ekonomi Indonesia akan restart dengan mengandalkan jenis-jenis bisnis yang baru. Sebagai contoh industri Alat Pelindung Diri (APD) yang sedang dibutuhkan seluruh dunia saat ini.

Indonesia salah satu produsen APD handal selain Vietnam, Thailand, Bangladesh dan India. “Ada 213 negara mengalami hal yang sama, tetapi yang punya kemampuan ekspor dan punya skill dan kapasitas adalah Indonesia,” terang Airlangga yang juga Ketua Umum DPP Partai Golkar ini.

Namun, beberapa pihak mengkritisi rencana pemerintah terkait new normal. Tatanan kehidupan baru itu dinilai belum saatnya diterapkan dengan melihat masih fluktuatifnya angka penularan virus Corona di berbagai daerah. “Kalau dari sisi epidemologi seharusnya memang belum saatnya.

Dari angka kasus harian keseluruhan di Indonesia itu kan jelas, kita kasusnya fluktuatif, terus meningkat,” kata Pengurus Pusat Bidang Politik dan Kesehatan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dr Syahrizal Syarif kepada detikX, Rabu, 27 Mei 2020.

Syahrizal mengatakan, data pekan lalu menunjukkan rata-rata penambahan kasus positif COVID-19 sekitar 677 kasus, sedangkan pekan sebelumnya rata-rata 535 kasus. Ia mengaku dapat memahami situasi ekonomi yang sudah cukup berat sehingga pemerintah mengambil kebijakan new normal.

Karena itu, ketika new normal nanti diterapkan, harus ada standar minimal yang harus dipenuhi dan tidak bisa ditawar. Di antaranya adalah physical atau social distancing, penggunaan masker dan lain-lain.

Ia juga meminta agar pemerintah memikirkan tempat-tempat keramaian yang kemungkinannya sulit untuk diterapkan kenormalan baru itu, seperti pasar.

“Saya melihatnya kemarin Pak Jokowi pergi ke MRT, ke mal ya kan? Sebetulnya itu kan simbol bahwa pemerintah ingin melakukan pelonggaran, tapi menurut saya yang namanya MRT, mal itu gampang sekali menerapkan protokol kesehatannya, nggak perlu polisi/TNI ada di situ.

Mari kita lihat fasilitas yang lebih sulit menerapkan protokol kesehatan atau social/physical distancing. Misalnya Tanah Abang, ITC Mangga Dua, pasar tradisional. Itu yang susah, dan yang paling berat itu menurut saya adalah sekolah dan pesantren,” imbuhnya.

Ratusan orang mengantre untuk ditest corona di Surabaya, Senin 1 Juni 2020
Foto:  Faiq Azmi

Hal senada juga diungkapkan oleh pakar permodelan statistik kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM-UI) Iwan Ariawan. Setidaknya harus ada tiga syarat yang harus dipenuhi sebelum new normal itu mulai diterapkan.

Pertama, epideminya harus sudah bisa dikendalikan dengan baik. Kedua, situasi yang sudah terkendali itu harus berjalan setidaknya selama 14 hari. Ketiga, adalah kesiapan kesehatan masyarakat, dalam arti alat tes COVID-19 dan APD tidak lagi kekurangan. Iwan memberi contoh ancang-ancang new normal di Jakarta.

“Saya baru webinar dengan mereka, itu mereka sedang melihat seberapa kesiapan mereka. Sekarang sih mereka untuk yang indikator epidemologi belum terpenuhi, tapi untuk dua indikator itu misalnya 14 hari lagi terpenuhi mereka sudah siap mengurangi pelonggaran.

Untuk DKI Jakarta ya ini, mesti melihat itu,” ujar Iwan pekan lalu. Karena masalah itulah Iwan melihat DKI Jakarta masih akan mengevaluasi kembali rencana new normal pada tanggal 5 Juni mendatang.

Iwan menambahkan, selama ini wabah COVID-19 dikontrol dengan pemberlakuan PSBB. Ketika PSBB tetap akan dikurangi dengan menerapkan new normal, pemerintah wajib memikirkan banyak hal. Ambil contoh perkantoran.

Harus diatur dengan ketat bagaimana pembagian kerja para karyawan, alat transportasi ke kantor mereka, dan lain-lain. Begitu juga di pusat perbelanjaan. TNI/Polri memang akan mengatur jumlah pengunjung menjadi setengahnya, namun menurut Iwan, metodenya belum dijelaskan.

“Jadi kalau saya intinya untuk saat ini new normal belum bisa dilakukan, kita masih evaluasi terus. Jadi dua minggu sampai empat minggu ke depan itu kita lihat kurvanya,” pungkas Iwan.

Sumber: detik.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!