HETANEWS.COM

Alasan Ilmiah Banyak Orang Tak Peduli Social Distancing Corona

Warga mengunjungi Pasar Musi di Depok, Jawa Barat, Senin (18/5/2020). Meskipun Kota Depok telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap ke-3 hingga 26 Mei 2020, namun masih banyak warga di pasar tersebut yang melanggar aturan tersebut dengan berkerumun, tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak fisik saat pandemi COVID-19. Foto: ANTARA/ASPRILLA DWI ADHA

Hetanews.com - Pandemi virus corona memaksa sejumlah negara untuk menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Dengan kebijakan tersebutlah laju persebaran virus diharapkan melambat agar kita dapat segera mengontrol kondisi pandemi saat ini.

Namun, sebagian orang tidak mematuhi kebijakan tersebut. Kita dapat melihat contohnya dari kasus beberapa mal di Indonesia yang ramai dipadati pengunjung menjelang Lebaran, hingga berlangsungnya pesta ulang tahun di California, AS, di pertengahan Mei 2020 yang menciptakan klaster baru infeksi corona.

Lantas, apa yang menyebabkan orang-orang acuh terhadap imbauan pembatasan sosial tersebut? Bukankah kebijakan itu bertujuan untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri?

Menurut Joshua Ackerman, seorang profesor psikologi di University of Michigan, individualisme menjadi penyebab penting kenapa orang-orang tersebut acuh kepada kebijakan kesehatan di tengah pandemi.

"Kalau orang berpikir masker adalah alat perlindungan diri dan kamu tidak berpikir demikian, kamu tidak akan menggunakannya," jelas Ackerman kepada ABC News.

Senada dengan Ackerman, Sten Vermund, seorang dekan di Yale School of Public Health, menyebut bahwa orang yang melanggar pembatasan sosial tidak punya rasa perhatian kepada orang lain. "Mereka tidak melihat risiko pribadi yang cukup dan mereka tidak memiliki rasa altruisme yang akut," katanya.

Tak hanya soal individualisme, kemampuan orang untuk mengambil risiko juga jadi alasan mengapa ada sebagian kelompok yang melanggar pembatasan sosial.

Profesor psikiatri di Universitas Yale, Rajita Sinha, menjelaskan bahwa ketidakpastian tentang kapan pandemi akan berakhir, akses informasi, dan keyakinan mendasar seseorang dapat memengaruhi orang tersebut untuk melakukan tindakan pencegahan.

"Fitur-fitur tersebut dari pandemi saat ini benar-benar menempatkan kebutuhan orang untuk kontrol yang merupakan aspek penting dalam mengatasi masalah," kata Sinha. "Mendapatkan kendali adalah cara dasar kita mengatasinya."

Sinha menambahkan, ada beberapa faktor lain yang mendorong orang mengambil risiko di tengah pandemi. Salah satunya adalah kecemasan soal pengangguran, yang membuat mereka tidak peduli lagi dengan urusan kesehatan.

Virus corona sendiri telah menginfeksi lebih dari 6,1 juta orang hingga Minggu (31/5/2020). Sebanyak 2,7 juta pasien COVID-19 berhasil sembuh, sedangkan 371.000 orang meninggal dunia.

Menurut Ackerman, kurangnya pesan yang terpusat dan konsisten dari pejabat suatu wilayah, serta adanya polarisasi sumber berita, akan membuat orang mengambil pilihan yang berbeda.

Dia menambahkan, kemungkinan akan ada peningkatan kasus orang yang tidak mematuhi kebijakan pembatasan sosial untuk menjaga jarak dan menutupi wajah ketika negara-negara akan membuka kembali ekonomi mereka.

Menurutnya, gagasan pelonggaran pembatasan sosial itu bisa menimbulkan perasaan psikologis bahwa pandemi telah berakhir karena kehidupan tampaknya kembali normal.Meski demikian, Ackerman menegaskan, pelonggaran pembatasan sosial dapat memberikan rasa aman palsu kepada sebagian orang.

"Jika kita berpikir tentang informasi yang diberikan kepada orang-orang, salah satu tujuan yang diberikan adalah kita harus meratakan kurva. Sejauh orang berpikir bahwa kurva telah landai, mereka mungkin berpikir yang terburuk ada di belakang mereka," kata Ackerman, dikutip dari ABC News.

Untuk mengatasi masalah ketidakpedulian orang atas pembatasan sosial, imbauan yang jelas dan konsisten dari pejabat di sebuah wilayah menjadi kunci penting.

Sinha mengatakan, orang lebih cenderung mematuhi perintah kesehatan jika mereka memiliki pemahaman yang jelas tentang bagaimana hal itu memengaruhi orang-orang di sekitar mereka.

"Itu dapat dilakukan jika Anda dapat membangun narasi di sekitarnya. Jika Anda mengartikulasikan narasi lengkap bahwa kita sedang bergeser dan bersiap untuk fase berikutnya, beberapa orang akan mendengarkan," katanya.

Sumber: kumparan.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!