HETANEWS.COM

New Normal Akan Berjalan Bertahap

Prajurit TNI berjaga di loket Stasiun MRT Bundaran HI, Jakarta, Rabu, 27 Mei 2020. Foto: Beritasatu Photo / Joanito De Saojoao

Jakarta, hetanews.com - Juru bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Achmad Yuriant, mengatakan, penerapan kenormalan baru (new normal) akan dilaksanakan secara bertahap, tidak serempak di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Sebab, persoalan di masing-masing daerah tidaklah sama.

“Terdapat 102 kabupaten kota yang tidak terdampak Covid-19. Hal ini dapat dimaknai, upaya untuk tetap menjaga agar tidak terjadi penularan harus tetap dilaksanakan di seluruh wilayah di Indonesia,” ungkapnya dalam telekonferensi, Minggu (31/5/2020).

Pemerintah saat ini telah melakukan kajian secara komprehensif bersama tim ahli, pakar, dan perguruan tinggi untuk memantau setiap daerah.Terdapat beberapa aspek yang dinilai untuk mencari titik strategi mengentikan penyebaran kasus Covid-19 yang makin meluas.

Pertama, harus ada kajian epidemiologis di daerah tersebut sebelum menetapkan kenormalan baru. Dengan ini, pemerintah dapat memberi pertimbangan jika daerah tersebut telah berhasil menurunkan sampai 50% kasus positif dari angka tertinggi yang pernah dicatat. Selain itu, jika kasus itu masih ada maka positive rate atau rata-rata harus turun di bawah 5%.

“Ini akan menjadi sebuah ukuran, apakah daerah tersebut bisa masuk ke tahap selanjutnya untuk menjalankan konsep kenormalan yang baru ini,” jelasnya.

Kedua, dari segi sistem kesehatan yang diberlakukan di daerah tersebut. Di antaranya tentang penggunaan tempat tidur ICU dalam dua minggu terakhir, dan juga sistem pengawasan kesehatannya.

Yurianto mengatakan pemerintah daerah juga harus melakukan simulasi dan sosialisasi kepada masyarakat terhadap kenormalan baru. Misalnya, simulasi protokol kesehatan di pasar-pasar tradisional ataupun modern.

"Oleh karena itu hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk menuju kenormalan yang baru. Maka harus diperlukan sosialisasi, edukasi, dan simulasi. Termasuk juga di bidang pendidikan," kata dia.

Bukan Perlombaan

Pelaksanaan kenormalan baru bukan seperti lomba lari antardaerah. Yurianto menjelaskan, penerapan kenormalan baru tergantung pada penyebaran virus corona di masing-masing daerah.

"Kita tidak menganggap bahwa kenormalan yang baru itu ibarat bendera start lomba lari, untuk semuanya bergerak bersama-sama, tidak. Sangat tergantung pada kondisi epidemiologis masing-masing daerah," jelasnya.

Untuk itulah, strategi penerapan kenormalan baru secara bertahap ini merupakan bentuk dari kehati-hatian bersama. Strategi ini pun akan cepat memberikan buah manis apabila masyarakat berperan secara aktif dalam pelaksanaannya.

“Mari kita mengambil peran serta. Jangan sampai kenormalan baru ini menjadi suatu eforia baru bahwa, kenormalan baru menjadi kebebasan kita melakukan aktivitas biasa seperti sebelum pandemik berlangsung. Kita harus berhati-hati, bergerak, produktif, tetapi tetap aman dari Covid-19,” jelasnya.

Sumber: beritasatu.com

Editor: tom.