HETANEWS.COM

Ketika Investasi Militer Lebih Besar dari Vaksin

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Foto: REUTERS/Jonathan Ernst

Hetanews.com - Setiap beberapa tahun, umat manusia menyerah pada histeria massal karena penyebaran pandemi global. Di abad ini saja, ada SARS, H1N1, Ebola, MERS, Zika, dan sekarang virus Corona. Semuanya menghasilkan raksi, yang kalau dipikir-pikir, tampaknya tidak cukup proporsional dengan dampak nyata pandemi tersebut.

Wabah SARS tahun 2002 di Cina (sejenis coronavirus yang ditularkan dari kelelawar) menginfeksi 8.000 orang dan membuat kurang dari 800 orang meninggal. Meskipun demikian, pandemi ini membuat sekitar $40 miliar hilang karena kegiatan ekonomi lumpuh, perbatasan ditutup, perjalanan dibatasi, bisnis terganggu dan biaya perawatan.

Seorang bayi memakai masker untuk mencegah penularan virus corona baru di Stasiun Kereta Cepat Hong Kong West Kowloon di Hong Kong, China, Kamis (23/1/2020).
Foto: ANTARA/Reuters/Tyrone Siu.

Pandemi Kepanikan yang Berulang

Reaksi semacam ini bisa dimengerti. Pandemi corona dan penyakit menular yang membunuh anak-anak kita memicu naluri bertahan hidup purba. Ilmu kedokteran modern dan sistem kesehatan telah menciptakan ilusi bahwa kita memiliki kendali biologis penuh atas nasib kolektif manusia.

Meskipun sebetulnya dunia modern sebenernya mempercepat laju penyebaran patogen tersebut. Ada alasan bagus untuk takut pada jenis pandemi menular jenis baru. 

Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) memperkirakan bahwa patogen yang sangat menular, mematikan dan mirip dengan flu Spanyol tahun 1918 mampu membunuh hampir 33 juta orang di seluruh dunia hanya dalam waktu enam bulan.  

Penumpang kapal pesiar World Dream pergi dengan bus setelah masa karantina atas penularan virus korona baru berakhir di Kai Tak Cruise Terminal di Hong Kong, China, Minggu (9/2/2020).
Foto: ANTARA/Reuters/Tyrone Siu.

Meskipun demikian, reaksi ketakutan dan tidak manusiawi membuat penanganan tidak produktif. Kita adalah spesies biologis yang hidup di antara organisme lain yang kadang-kadang menimbulkan bahaya. Kita memiliki keunggulan evolusioner atas jumlah dan laju mutasi yang cepat.

Senjata kita yang paling kuat melawan ancaman itu adalah kecerdasan. Karena ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta kapasitas untuk tindakan kolektif, kita juga sudah memiliki alat untuk mencegah, mengelola dan menangani pandemi global.

 Daripada merengek setiap kali patogen baru menular, kita seharusnya menggunakan sumber daya, organisasi dan kecerdikan yang sama dengan yang kita gunakan untuk membangun dan mengelola aset militer kita.

Investasi Vaksin Lebih Penting dari Senjata

Secara khusus kita membutuhkan tiga pendekatan. Pertama, kita harus berinvestasi dalam sains dan teknologi. Kemampuan militer kita saat ini adalah hasil dari triliuanan dolar investasi dalam riset dan pengembangan.

Namun kita justru hanya menggunakan sebagian kecil sumber daya tersebut untuk membuat vaksin, antibiotik dan diagnosis untuk memerangi patogen berbahaya. Kemajuan dalam biologi memungkinkan kita untuk memahami kode genetik patogen baru dan kemampuan mutasi.

Pekerja menggunakan pakaian pelindung memeriksa penumpang yang tiba untuk naik pesawat, disewa Kementerian Dalam Negeri Amerika Serikat untuk mengevakuasi warga Amerika dan Kanada dari China, Jumat (7/2/2020).
Foto: Reuters/Edward Wang

Kita sekarang dapat memanipulasi sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit, dan dengan cepat mengembangkan terapi dan diagnostik yang lebih efektif. 

Vaksin RNA baru, misalnya, dapat memprogram sel kita sendiri untuk menghasilkan protein yang mengingatkan sistem kekebalan untuk mengembangkan antibodi terhadap suatu penyakit, yang pada dasarnya mengubah tubuh kita menjadi "pabrik vaksin."

Memandang ke depan, mandat organisasi penelitian seperti US Defense Advanced Research Projects Agency dan Biomedical Advanced Research and Development Authority, yang sudah mendanai program melawan bioterorisme dan ancaman biologis lainnya, harus diperluas untuk mendukung lebih banyak penelitian untuk merespon pandemi.

Riset Biomedis Harus Diutamakan

Pendekatan kedua adalah kesiapan strategis. Kita sudah menaruh kepercayaan besar kepada militer karena menghargai komitmen para pelayan publik dan tentara yang dengan waspada menjaga warga negara dari ancaman keamanan nasional.

Tapi sementara itu, kesehatan masyarakat dan lembaga penelitian ilmiah perlu diisi dengan bakat individu yang serupa. Tapi mereka menerima dukungan pemerintah yang jauh lebih sedikit.

Tahun 2018, Presiden Donald Trump dan pemeritahannya sudah menutup US National Security Council’s untuk mengkoordinasikan penanganan pandemi. Kebijakan ini juga sudah menggunduli wewenang Centers for Disease Control (CDC) yang memantau dan menyiapkan epidemi.

Penerjun payung Angkata Bersenjata Amerika Serikat menaiki ke pesawat angkut C-17 Rabu (1/1/2020) menuju Irak.
Foto: ANTARA/Reuters/Jonathan Drake.

Namun, yang lebih korosif adalah penolakan pengembangan ilmu pengetahuan oleh negara yang justru mengikis kepercayaan publik terhadap keahlian ilmiah dan medis. Pertimbangkan skenario di mana Amerika Serikat diserang oleh negara lain.

Kami tidak mengharapkan sekretaris pertahanan tiba-tiba mengumumkan, sebagai tanggapan, pemerintah akan segera membuat senjata siluman baru sambil merancang serangan balik. Gagasan itu konyol. Tapi akurat mencerminkan respon kita saat ini terhadap ancaman pandemi biologis.

Pendekatan yang lebih baik adalah mengakui dedikasi pekerja kesehatan dan ilmuwan, menciptakan infrastruktur untuk mengembangkan dan menggunakan teknologi kesehatan darurat, serta secara proaktif mendanai lembaga yang bertugas menangani pandemi.

Sebagai langkah pertama, pemerintah AS harus membangun kembali unis NSC yang sudah ditutup karena Pandemi Czar. Termasuk mendanai lembaga yang bertanggungjawab mengatasi ancaman pandemi, seperti CDC, Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan Institut Kesehatan Nasional.

Sinergi Multilateral antar-negara

Pramugari menggunakan pakaian pelindung dan masker saat membagian makanan ringan bagi warga Kanada.
Foto: Reuters/Edward Wang

Langkah ketiga adalah respon global yang terkoordinasi. Meskipun bertentangan dengan gagasan Trump tentang “Amerika yang Utama”, respon multilateral terhadap pandemi global jelas merupakan kepentingan nasional Amerika. AS perlu memimpin isu-isu di mana kerjasama memiliki keuntungan dibandingkan kebijakan tingkat nasional.

AS harus mendukung mekanisme global untuk mengidentifikasi dan memantau patogen yang muncul; mengoordinasikan petugas kesehatan yang ditempatkan di lokasi epidemi; menciptakan fasilitas pembiayaan baru (seperti asuransi epidemi global) yang dapat dengan cepat memobilisasi sumber daya untuk tanggap darurat; dan mengembangkan serta menstok vaksin.

Yang harus dilakukan adalah pemerintah perlu menambang dukungan untuk CEPI yang dibentuk setelah epidemi Ebola tahun 2014 untuk mengembangkan dan mendistribusikan vaksin.

Pendanaan awal badan tersebut, yang disediakan oleh koalisi pemerintah dan yayasan, berjumlah hanya $ 500 juta, atau sekitar setengah dari biaya satu pembom siluman. Anggarannya harus jauh, jauh lebih besar.

Patogen Lebih Berbahaya dari Perang

Warga membeli persediaan mie instan setelah Singapura meningkatkan peringatan wabah virus korona menjadi oranye, di sebuah supermarket di Singapura, Sabtu (8/2/2020).
Foto: ANTARA/Edgar Su

Dalam perlombaan senjata dengan patogen, tidak ada kedamaian. Satu-satunya pertanyaan adalah apakah kita bertarung dengan cara yang baik atau buruk. Melawan dengan buruk berarti membiarkan patogen mengganggu secara berkala dan menjadi beban besar dalam bentuk hilangnya produktivitas ekonomi.

Berjuang dengan baik berarti berinvestasi dengan tepat dalam sains dan teknologi, mendanai orang-orang dan infrastruktur yang tepat untuk mengoptimalkan kesiapsiagaan strategis, dan mengambil alih kepemimpinan untuk respons global yang terkoordinasi.

Hanya masalah waktu sebelum kita dihadapkan dengan patogen yang benar-benar mematikan yang mampu mengambil lebih banyak nyawa daripada yang terburuk dari sejarah perang manusia. Kita cukup cerdas sebagai spesies untuk menghindari nasib itu.

Tetapi kita perlu menggunakan yang terbaik dari pengetahuan, bakat, dan kapasitas organisasi untuk menyelamatkan diri. Dan kita harus fokus pada persiapan yang bertanggung jawab, dari  sekarang.

Sumber: opini.id

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!