HETANEWS.COM

4 Kasus Peretasan WhatsApp Aktivis yang Kritisi Pemerintah

Logo Aplikasi WhatSapp. Foto: Istimewa

Jakarta, hetanews.com - Upaya peretasan kerap kali menyerang kalangan aktivis. Ketua Pengembangan Organisasi YLBHI Febi Yonesta mengatakan bahwa para aktivis memang menjadi target peretasan.

Terbaru, nomor WhatsApp mahasiswa penyelenggara diskusi online bertema "Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan" menjadi sasaran peretasan.

Peretasan di kalangan aktivis, kata Mayong, panggilan akrabnya, merupakan serangan untuk membungkam masyarakat yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.

"Ini watak yang nyata dari pemerintah yang anti-kritik, sehingga kemudian pendekatan kriminalisasi, represi ketertiban itu dikedepankan untuk mengatasi kritik. Hacking ini sebetulnya adalah suatu bentuk seragan masyarakat yang vokal dan kritis terhadap kebijakan pemerintah," kujar Mayong, Sabtu (30 Mei 2020).

Melansir berbagai sumber, tercatat sejumlah kasus peretasan menyerang para aktivis yang vokal terhadap pemerintah, diantaranya sebagai berikut;

1. Azhar Jusardi Putra

Seorang aktivis yang kerap disapa Azhar itu tergabung dalam gerakan Gejayan Memanggil dan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB). Dia mengkritisi kebijakan pemerintah yang mengesahkan RUU Cipta Kerja, Omnibus Law.

Azhar mengatakan kejadian bermula saat pesan singkat masuk ke handphone Azhar menjelang tengah malam pada, Rabu (22 April 2020).

Isi pesan itu memintanya untuk mengirimkan kode verifikasi One Time Password (OTP) aktivasi WhatsApp. Azhar mengisinya, tetapi selalu gagal, bahkan pengisian melalui fitur two step authentication juga tidak bisa.

"Sekitar 2-3 kali masuk, habis itu nggak bisa masuk lagi. Habis itu akun saya langsung berubah menjadi akun bisnis," kata Azhar.

Dari situ, Azhar mengetahui bahwa akun WhatsApp miliknya telah diretas. Ia pun curiga upaya peretasan itu bermaksud mengganggu gerakan yang kini ia geluti.

2. Evan Putro

Percobaan peretasan akun WhatsApp juga pernah terjadi pada aktivis HAM, Evan Putro. Evan mengaku mengalami percobaan peretasan.

"Tiba-tiba aku dapat SMS dari WhatsApp isinya OTP sampai dua kali," kata Evan kepada DW Indonesia, Jumat (24 April 2020).

Namun, Evan mengklaim berhasil mencegah peretasan akun WhatsApp miliknya. Sebab, dia menanyakan hal itu kepada para temannya yang lebih mengerti dan disarankan untuk menerapkan two-factor-authentication (2FA). Secara cepat, ia menerapkan fitur keamanan tersebut agar terhindar dari kasus peretasan WhatsApp.

3. Syahdan Hussein

Syahdan Hussein adalah anggota dari tim hubungan masyarakat (humas) Gejayan Memanggil. Dia mengalami kasus peretasan, pada Kamis (23 April 2020). Melansir Tempo, Syahdan mengatakan tidak bisa mengakses akun WhatsAppnya sekitar pukul 04.00 WIB.

"Ada tulisan you've registered your number on another phone, padahal sudah pakai otentifikasi ganda dan PIN," ujar Syahdan.

Firza, rekan Syahdan, mengatakan selama dikendalikan peretas, hacker menggunakannya untuk mengancam dan melakukan pelecehan seksual terhadap salah satu teman perempuan Firza via WhatsApp.

Menggunakan akun WhatsApp Syahdan, peretas meminta korban mengirimkan foto bugil. Pelaku juga mengancam menyebarkan isi percakapan korban di pesan Instagram yang diretasnya. Kejadian itu diduganya merupakan salah satu bentuk untuk membuat citra negatif terhadapnya.

4. Ravio Patra

Peneliti kebijakan publik dan pegiat advokasi legislasi, Ravio Patra juga sempat mengalami kasus peretasan sebelum dirinya ditangkap oleh Kepolisian karena diduga menyebarkan informasi provokatif.

Sebelum penangkapan, akun WhatsApp Ravio diretas. Informasi awal peretasan itu berdasarkan penuturan Direktur Eksekutif Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet), Damar Jumianto. Menurut Damar, pada Rabu sekitar pukul 14.00, Ravio mengadu ke Damar dengan menunjukkan bahwa akun WhatsApp miliknya telah diretas.

"Ia menunjukkan saat coba menghidupkan WhatsApp, muncul tulisan: You've registered your number on another phone'. Lalu, dicek ke kotak masuk SMS, ada permintaan pengiriman kode One-time password (OTP)," ujar Damar.

Selama akun itu dikuasai, peretas menyebarkan pesan massal bernada provokatif. Pesan tersebut berbunyi, "Krisis Sudah Saatnya Membakar! Ayo Kumpul dan Ramaikan 30 April, Aksi Penjarahan Nasional Serentak, Semua Toko Yang Ada Didekat Kita Bebas Dijarah."

Ravio adalah aktivis yang kerap mengkritik kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah. Sebelumnya, melalui akun twitter miliknya @raviopatra, ia mengkritik Staf Khusus Presiden, Billy Mambrasar yang diduga terlibat konflik kepentingan dalam proyek-proyek pemerintah di Papua.

Ravio telah melaporkan kasus peretasan itu ke polisi. Namun hingga kini belum diketahui perkembangannya dari pihak kepolisian.

Sumber: cyberthreat.id

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!