HETANEWS.COM

Masyarakat Dunia, Bersatulah Kembali!

Hetanews.com - Pandemi virus corona telah membawa dunia masuk ke dalam kondisi disekuilibrium yang berbahaya. Seruan dari kelompok nasionalis populis dan kebutuhan untuk melakukan kerja sama global serta mengambil tindakan kolektif dengan cara saling berseteru.

Sayangnya, sejauh ini kelompok nasionalis yang menang. Tapi orang-orang yang berpikiran global dan bisa melawan di mana pun mereka berada, harus melakukan perlawanan dimulai di AS. Dalam beberapa dekade setelah Perang Dunia II, AS memainkan peran sebagai kekuatan hegemoni global yang ramah.

Supremasi perekonomian dan militer AS memberikannya sebuah kepentingan yang jelas untuk membuat dan mempertahankan keteraturan dalam kerja sama dan tindakan kolektif internasional.

Karena alasan tersebut, AS memimpin pendirian lembaga-lembaga seperti PBB, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Organisasi Perdagangan Dunia (yang sebelumnya bernama Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan).

Presiden Xi Jinping berjalan melewati para pejabat yang menggunakan masker ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) saat tiba untuk sidang pembuka Konferensi Permusyawaratan Politik Rakyat Tiongkok (KPPRT) di Balai Agung Rakyat di Beijing, China, Kamis (21/5/2020).
Foto: ANTARA /REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

Tapi dengan melemahnya kekuatan dan pengaruh AS, setidaknya relatif terhadap Tiongkok, pemerintahan Presiden AS Donald Trump kembali menerapkan isolasionisme.

Dengan perlawanan politik dalam negeri yang minim, Trump mulai menerapkan langkah-langkah antiimigrasi yang agresif, melakukan perang dagang dengan Tiongkok, dan menolak kolaborasi dengan para negara sekutu G7 dan G20 untuk mengatasi dampak perekonomian dari pandemi ini.

Ketika AS tidak ikut serta dalam aksi kolektif global, pemerintahan-pemerintahan lain menjadi semakin berani dalam menerapkan respons terhadap virus ini yang mementingkan diri mereka sendiri, misalnya membatasi ekspor pangan dan masker, serta buru-buru bekerja mendapatkan hak kekayaan intelektual dan keuntungan dari vaksin COVID-19 yang efektif.

Sementara itu, keputusan Trump untuk membekukan pendanaan AS untuk WHO di tengah pandemi ini bukan diambil untuk kepentingan keuangan melainkan sebagai simbol dari doktrin “Amerika First” (Amerika yang Pertama) yang diusungnya.

Ironisnya bagi AS adalah sikap antiglobalisasi yang agresif dari Trump tercermin dengan semakin mendalamnya polarisasi di dalam negeri, karena pandemi ini menunjukkan dan meningkatkan kesenjangan yang sudah ada sejak sebelum pandemi.    

Pendemo berseru di depan kantor polisi kelima pada hari keempat aksi protes setelah insiden tewasnya George Floyd saat ditahan polisi di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, Jumat (29/5/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Nicholas Pfos

Sayangnya, saat ini tidak ada negara lain yang bisa memberikan kepemimpinan internasional. Uni Eropa (UE) pasca-Brexit masih berjuang melawan nasionalisme sempit di antara negara-negara anggota UE, dan tidak bisa membuat kesepakatan yang sederhana untuk bergotong-royong mengakomodasi pengungsi.

Dan UE masih menemui jalan buntu sehubungan dengan penerbitan “obligasi corona” bersama untuk membantu menyelamatkan perekonomian mereka dari krisis yang ada saat ini.  

Sementara itu, Tiongkok di bawah Presiden Xi Jinping tidak punya insting dan kredibilitas internasional yang diperlukan untuk mendorong kerja sama global. Tentunya, Tiongkok menginginkan peran kepemimpinan global.

Tiongkok telah bergabung dengan kreditor G20 lainnya dalam menangguhkan bunga utang negara-negara berpendapatan rendah untuk semua negara kreditor bilateral  dan di antara para kreditor, Tiongkok adalah salah satu kreditor terbesar dan termahal, karena Inisiatif Sabuk dan Jalan dan telah menjanjikan $2 miliar untuk WHO.

Tapi pada saat yang sama, Tiongkok mengeksploitasi pandemi ini dengan menjadi lebih agresif terhadap Hong Kong dan di Laut Cina Selatan. Langkah-langkah positif yang diambil Tiongkok lebih bertujuan untuk berkompetisi dengan AS dibandingkan untuk mendorong kolaborasi internasional.

Staf medis melakukan protes di gerbang Downing Street setelah hari terakhir kampanye "Clap for our Carers" sebagai dukungan kepada NHS, menyusul penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di London, Britain, Kamis (28/5/2020). Foto: ANTARA/REUTERS/Hannah McKay

Refleks nasionalis sebagai respons terhadap pandemi ini tidak mengagetkan. Meskipun virus corona, sama seperti perubahan iklim, tidak mengenal batas negara, sebagian besar orang mengidentifikasi diri mereka sebagai warga negara dari negara mereka masing-masing.

Hampir semua orang pada dasarnya adalah seorang nasionalis  atau patriot, kalau Anda lebih suka istilah itu. Selain itu, sulit untuk membayangkan alternatif terhadap tatanan internasional berdasarkan negara-negara berdaulat seperti yang ada saat ini.

Para sejarawan umumnya melihat penciptaan sistem negara yang ada saat ini sebagai kontributor utama terhadap dunia yang lebih damai dengan lebih banyak orang menjalani hidup yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya.

Dan hal ini memang benar, ekonom Dani Rodrik berargumen bahwa negara kebangsaan adalah persyaratan untuk demokrasi liberal, dan demokrasi tidak bisa bekerja pada tingkat global.

Seorang karyawan Nissan menghadiri protes atas penutupan pabrik Zona Franca di depan dealer mobil Nissan, saat penyebaran penyakit virus korona (COVID-19) di Barcelona, Spanyol, Jumat (29/5/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Albert Gea

Tapi, pada saat yang sama pandemi ini telah mengingatkan kita bahwa kita sangat bergantung pada kerja sama antar negara. Kerja sama tersebut bisa dalam bentuk eksplisit, misalnya perjanjian dagang, atau implisit, misalnya mengelola risiko keuangan global atau memenuhi tujuan-tujuan dalam perjanjian iklim Paris.

Saat ini, kegagalan untuk berkolaborasi untuk mengatasi COVID-19 adalah ancaman bagi kita semua, karena semua orang rentan terhadap virus ini sampai tidak ada seorang pun yang bisa tertular.

Melawan nasionalisme destruktif yang dipersonifikasikan oleh Trump memerlukan warga negara yang baik di setiap negara untuk menuntut pemerintah mereka untuk bekerja sama dan mendukung lembaga multilateral, dan berupaya untuk mendapatkan manfaat dari peraturan-peraturan dan norma-norma internasional yang sudah disepakat.

Di abad ini, untuk pertama kalinya, langkah-langkah tersebut menjadi kepentingan semua negara dan warga negara di dalamnya.

Seorang wanita berlari saat polisi menembakkan gas airmata untuk membubarkan pengunjuk rasa ditengah aksi demo yang terus berlanjut setelah seorang polisi kulit putih tertangkap kamera pejalan kaki menekankan lutunya ke leher pria kulit hitam Afrika-Amerika George Floyd, yang kemudia meninggal di rumah sakit, di Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat, Kamis (28/5/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Carlos Barria

Untungnya, menganggap diri sendiri utamanya sebagai warga negara dari suatu negara bukan berarti mereka tidak bisa menganggap diri sebagai warga negara global. Pada akhir tahun 2000an, misalnya, lebih dari 80% responden survei di 17 negara maju setuju bahwa mereka punya “tanggung jawab moral untuk berupaya mengurangi kelaparan dan kemiskinan ekstrem di negara-negara miskin.”                            

Kita semua mendapatkan manfaat dari kerja WHO, IMF, G7, dan G20, dan ketika organisasi-organisasi ini melemah, maka kita jangan menyalahkan kelemahan mereka, tapi kita harus melihat hal ini sebagai kegagalan dari negara-negara anggota yang paling berkuasa untuk memastikan ketahanan dari organisasi-organisasi tersebut.

Dan ketika pandemi menciptakan rasa solidaritas antara sesama warga AS, hal ini bisa mengajarkan semua orang di mana pun untuk melihat melampaui batas negara mereka dan merangkul ide solidaritas global.   

Pekerja NHS bereaksi di Rumah Sakit Universitas Aintree di hari terakhir kampanye 'Clap for our Carers' sebagai dukungan dari NHS, ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19), Liverpool, Inggris, Kamis (28/5/2020).
Foto: ANTARA/REUTERS/Phil Noble

Warga AS harus memimpin upaya ini. Orang AS sudah terbiasa melihat negara mereka memimpin dalam keadaan krisis global seperti yang dilakukan oleh pemerintahan George W. Bush sehubungan dengan AIDS, dan pemerintahan Barack Obama dalam mengatasi krisis keuangan global dan epidemi Ebola.

Warga AS kini harus menuntut pemerintahan Trump melawan pandemi ini dengan strategi yang menyeimbangkan kepentingan nasional AS dengan jangkauan dan kekuatan internasional mereka yang sangat diperlukan.   

AS tidak lagi menjadi kekuatan hegemoni global, tapi kepemimpinan mereka masih menjadi pilihan terbaik bagi dunia dalam krisis saat ini. Jika ada saat untuk menguji pernyataan tersebut, maka ini adalah saat yang tepat.         

Sumber: opini.od

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!