HETANEWS.COM

Akankah Jumlah Kasus Covid-19 Bertambah bila New Normal Diterapkan?

bWarga mengantre untuk mendapatkan takjil dengan menjaga jarak di Jl. Cempaka Warna RT 05 RW 06, Cempaka Putih Timur, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2020). Setiap hari selama Ramadan, relawan dan donatur membagikan 400 hingga 600 takjil kepada warga kurang mampu dan terdampak virus corona COVID-19. Foto: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Hetanews.com - Presiden Joko Widodo telah menyiapkan sejumlah wilayah di Indonesia untuk mulai melakukan new normal atau tatanan kehidupan baru. Wilayah yang nanti diterapkan baru empat provinsi, di antaranya adalah DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Sumatera Barat (Sumbar), dan Gorontalo.

"Ini akan kita lihat dalam satu minggu dampaknya seperti apa, kemudian akan kita lebarkan ke provinsi, kabupaten/kota lain apabila dirasa terdapat perbaikan yang signifikan" ujar Jokowi (26/5/2020).

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menjelaskan, untuk tahap pertama, pendisiplinan yang akan dilaksanakan dengan kerja sama TNI, Polri, pemerintah daerah, dan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 tersebut akan dilakukan secara serentak di DKI Jakarta, Bekasi, Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Gorontalo.

"Dari data yang ada, di 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota, ada 1.800 obyek yang akan kita laksanakan pendisiplinan tersebut. Yang kita laksanakan adalah pendisiplinan protokol kesehatan agar masyarakat tetap menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan kita siapkan tempat mencuci tangan. Mudah-mudahan tahap pertama bisa berjalan dengan baik," papar Hadi.

Tim gugus tugas penanganan Covid-19 Mahakam Ulu, memeriksa ketat lalu lintas warga di Pelabuhan Ujoh Bilang, Mahakam Ulu, Kaltim, Selasa (19/5/2020).
Foto: Dok. DKP2KB Mahakam Ulu. 

Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menilai, jumlah kasus akan meningkat bila penerapan new normal tidak melihat beberapa kriteria. Hal itu sesuai dengan yang pernah dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Karena kalau tidak melihat kriteria atau kriteria-kriteria ini, potensi terjadinya kluster baru di tempat-tempat publik akan sangat besar," ujar Dicky , Sabtu (30/5/2020).

Oleh sebab itu, lanjut Dicky, sebelum menerapkan new normal maka harus dilihat dari keseluruhan faktor. Tidak dapat dilihat dari satu atau dua indikator, misalnya hanya melihat faktor penurunan jumlah kasus saja atau hanya melihat angka reproduksi yang menurun.

"Jadi bukannya kita akan menyehatkan perekonomian, ini justru akan menjadikan kondisi pandemi yang hampir terkontrol, menjadi makin buruk," jelas dia.

"Harus juga mempertimbangkan masukan-masukan dari para ahli yang terkait, artinya potensi yang disebut dengan the second peak atau puncak kedua akan dapat terjadi," imbuh Dicky.

Kriteria yang dimaksud

Beberapa kriteria yang disinggung Dicky tadi adalah sebagai berikut: Pertama, program edukasi dan sosialisasi yang masif kepada masyarakat dan institusi dalam kurun waktu lebih kurang selama dua minggu.

"Perlu edukasi yang masif ditujukan kepada mereka, masyarakat, institusi-institusi seperti perkantoran, sekolahan, pasar, mal, dan lain sebagainya," jelas Dicky. Kemudian, adanya aturan pola kerja baru, pola pelayanan baru, pola belajar baru, serta pola-pola lain yang dapat menunjang terjadinya new normal.

Pola-pola baru itu dibuat dan diterapkan di setiap lokasi umum, perkantoran, dan tempat yang biasa digunakan masyarakat untuk berkumpul. "Tapi, itu harus didukung sarana dan prasarana. Misal adanya wastafel yang memadai di sekolah, penyediaan masker di tempat umum, dan sebagainya," ungkapnya.

Kriteria selanjutnya yakni adanya penurunan test rate dalam tujuh hari terakhir, dan disertai peningkatan cakupan jumlah testing Covid-19. Dicky mengungkapkan, penurunan jumlah pasien akibat Covid-19 yang dirawat di rumah sakit dalam tujuh hari juga masuk kriteria new normal dapat diterapkan.

"Lalu, juga nihilnya kasus kematian dalam tiga hari terakhir," papar Dicky. Baca juga: Temuan Sejumlah Gejala dan Cara Baru Virus Corona Menyeran

Gelombang kedua belum akan muncul

Menurut Dicky, mungkin saja gelombang kedua Covid-19 di Indonesia belum akan muncul, pasalnya gelombang pertama masih masih belum selesai. Oleh karena itu, ia berpesan kepada pemerintah agar memandang sejumlah kriteria atau indikator serta masukan dari para ahli.

"Jadi nanti jika penerapan new normal itu diterapkan dengan tidak memandang sejumlah faktor tadi, maka Indonesia akan mengalami puncak kedua, puncak ketiga dan seterusnya akibat kelalaian karena terlalu terburu-buru dan tidak dipertimbangkan dengan matang," pungkas dia.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.