HETANEWS.COM

Risiko Bayi Baru Lahir Terinfeksi COVID-19

Perawat menggendong bayi berusia 45 hari yang baru saja keluar dari ruang perawatan intensif usai menjalani pengobatan Covid-19 di rumah sakit Istanbul, Turki, Selasa (12/5/2020). Foto: Ibrahim Mase/DHA via AP

Hetanews.com - Kasus bayi terinfeksi COVID-19 di Indonesia sudah terjadi beberapa kasus, baik itu yang sudah terkonfirmasi maupun yang meninggal dengan status pasien dalam pengawasan (PDP).

Belakangan viral foto pemakanan seorang bayi berusia 10 hari yang meninggal dengan status PDP. Bagaimana bayi bisa terinfeksi COVID-19? Simak ulasan berikut.

Kasus bayi baru lahir meninggal karena terinfeksi COVID-19

COVID-19 menginfeksi manusia tanpa pilih-pilih usia, tua muda bisa tertular tanpa terkecuali. Di Yogyakarta, tim relawan pemakaman jenazah COVID-19 memakamkan korban termuda yang pernah mereka tangani. 

Minggu (17/5/2020) Wisnu Adityawardana, salah satu anggota tim pemakaman, menerima peti kecil yang sudah terbungkus rapi bersama selembar surat tugas.

Dalam suratnya tertulis keterangan, jenazah adalah seorang bayi berusia 10 hari dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP). Selama ini Wahyu memakamkan jenazah COVID-19 dari berbagai usia dan bayi ini adalah jenazah pasien COVID-19 termuda yang pernah ia makamkan.

Foto: Hafidz Tama/Infokom Satgas COVID-19 PMI Bant

“Peti kecil ini terasa berat sekali,” kata Wisnu dengan suara tercekat. Memakamkan jenazah pasien COVID-19 adalah tugas berat secara emosional.

Sebelum dimasukkan ke liang lahat, Wisnu dan rekannya terlebih dulu menyalatkan jenazah bayi tersebut. Sedangkan keluarga hanya menyaksikan dari kejauhan tanpa bisa memberikan sentuhan terakhirnya. 

“Saya berharap ini peti terakhir yang kami makamkan. Tolong diam di rumah, ikuti aturan physical distancing sebentar saja sampai keadaan membaik,” ucapnya.

Wisnu berharap dengan membagi kisah pemakaman bayi korban COVID-19 ini bisa mengingatkan masyarakat bahwa virus corona bisa menginfeksi siapa saja.

Beberapa kasus bayi terinfeksi COVID-19

Informasi tentang bagaimana bayi berusia 10 hari ini tertular COVID-19 tidak diketahui oleh tim pemakaman. Karena alasan keamanan, informasi tentang bayi ini juga tidak dibuka untuk publik. 

Namun, selain bayi ini, telah ada setidaknya puluhan kasus bayi tertular COVID-19 dari beberapa sumber penularan. Berikut beberapa kasus yang diumumkan oleh petugas daerah masing-masing.

1. Di Mataram, Nusa Tenggara Barat, seorang bayi 3 bulan positif terinfeksi COVID-19 dan harus dirawat intensif di ruang isolasi. Setelah melakukan pelacakan, diketahui bayi ini tertular dari kedua orangtuanya. 

2. Di Sulawesi Selatan, bayi berusia 3 bulan diketahui tertular virus corona saat perjalanan pulang dari Malaysia bersama ibunya yang seorang TKI. Bayi ini dipercaya tertular dari orang lain karena si ibu dinyatakan negatif. 

3. Di Malang, bayi berusia 1,5 tahun juga terinfeksi COVID-19. Bayi ini diinfokan terinfeksi COVID-19 setelah mengalami gejala sesak napas dan dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Diketahui kedua orangtua bayi sehari-harinya bekerja sebagai pedagang bakso, meski begitu tidak diinfokan dari mana sumber penularannya.

4. Seorang bayi yang lahir prematur di Rumah Sakit dr. kariadi Semarang terinfeksi COVID-19. Karena prematur maka bayi ini harus menjalani perawatan selama 3 pekan di rumah sakit. Bayi ini diduga tertular virus corona karena terlalu lama dirawat di rumah sakit atau dalam istilah medis disebut penularan nosokomial.

Kasus bayi baru lahir yang terinfeksi COVID-19 juga terjadi di beberapa negara lain. Salah satunya kasus yang terjadi di Rusia di mana seorang bayi diyakini tertular dari ibunya yang terlebih dahulu dinyatakan positif COVID-19 saat hamil.

Bagaimana bayi terinfeksi COVID-19?

Penularan COVID-19 pada bayi sama dengan jalur penularan pada umumnya, yakni melalui droplet (cipratan air liur) atau sentuhan pada permukaan benda yang terkena virus corona. Tapi khususnya untuk bayi baru lahir yang dinyatakan terinfeksi COVID-19, para ilmuwan masih mencari tahu lebih lanjut mengenai jalur penularannya. 

Sejauh ini belum ada cukup bukti adanya penularan langsung dari ibu ke janin, penularan diyakini bisa terjadi saat proses melahirkan. Tapi beberapa penelitian dan contoh kasus yang dipublikasi masih dalam skala kecil.

British Journal of Anesthesia memublikasikan studi berjudul Evidence of mother-to-newborn infection with COVID-19. Studi ini berisi penjelasan proses melahirkan pada tiga ibu hamil yang telah positif terinfeksi COVID-19. Ketiga kasus berikut terjadi di provinsi Henan, China.

Kasus pertama, proses melahirkan dilakukan dengan operasi caesar. Petugas medis menggunakan alat pelindung diri (APD) dan semuanya dinyatakan negatif COVID-19. Ibu menggunakan masker selama persalinan kecuali saat intubasi (pemasangan alat bantu pernapasan).

Setelah persalinan, bayi langsung dibawa keluar ruang operasi dan ditangani oleh petugas yang tidak berkontak dengan ibu. Keesokan harinya bayi dibawa pulang dan dirawat oleh neneknya. Pada hari ke-6, bayi dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 dan tiga hari kemudian si nenek juga dinyatakan positif.

Kasus kedua, pada kasus ini petugas medis memutuskan untuk melakukan persalinan caesar pada ibu hamil di usia 30,5 minggu (sekitar 7 bulan) kehamilan karena berbagai pertimbangan medis.

Ibu menggunakan masker selama proses melahirkan, sedangkan bayi langsung dibawa ke ruang NICU (neonatal intensive care unit) segera setelah proses bersalin. Pada hari ketiga, bayi ini dinyatakan negatif COVID-19. 

Kasus ketiga, proses persalinan dilakukan dengan operasi caesar. Ibu menggunakan masker dan batuk-batuk ringan selama proses melahirkan. 

Karena kekurangan oksigen, bayi harus menerima penanganan klinis di ruang operasi selama 10 menit. Setelah itu, bayi langsung dibawa ke ruang NICU dan hasil tes menunjukkan negatif COVID-19. Namun hasil CT scan pada dada mendiagnosis si bayi positif COVID-19.

Pencegahan yang harus dilakukan saat melahirkan di masa pandemi

Bayi yang terinfeksi COVID-19 gejalanya sama seperti orang dewasa, yakni demam, batuk, gangguan pernafasan, diare, dan ada yang tanpa gejala.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), anak bayi dengan usia kurang dari 12 bulan kemungkinan lebih memiliki risiko komplikasi gejala COVID-19 yang lebih tinggi daripada anak-anak yang lebih tua.

Ardiansjah Dara Sjahruddin, SpOG, MKes, dokter spesialis kebidanan dan kandungan Rumah Sakit Siloam Semanggi, mengatakan hal tersebut dikarenakan bayi baru lahir belum membangun sistem imun di dalam tubuhnya.

Karena belum ada penelitian pasti tentang jalur penularan ibu pada bayi, disarankan semua bayi baru lahir dari ibu pasien COVID-19 harus segera melakukan tes COVID-19. CDC bahkan menyarankan hal ini untuk dijadikan prioritas. 

Ibu hamil yang akan melahirkan di masa pandemi ini juga harus melalui serangkaian prosedur pencegahan penularan COVID-19 yang dimulai sejak masa kehamilan.

Sumber: hellosehat.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!