HETANEWS.COM

Corona dan Kebangkitan Kebencian Manusia

Presiden AS Donald Trump (kanan), dan Presiden China Xi Jinping berbicara saat acara bisnis di Aula Besar Rakyat di Beijing. Foto: AP/Andy Wong

Hetanews.com - Pandemi virus Corona (Covid-19) telah menjadi semacam pemicu bagi praktik “kambing hitam” yang kini menimpa Tiongkok di berbagai negara. Menariknya, sejarah mencatat bahwa wabah kerap kali membuka pintu kebencian dan praktik “kambing hitam”.

Ditengah situasi serba tidak pasti akibat virus Corona (Covid-19), tentunya diharapkan agar terjadi sinergi semua pihak guna menyelesaikan pandemi ini dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Namun, kenyataannya mungkin jauh dari harapan.

Pasalnya, kita justru disajikan tontonan praktik “kambing hitam” atau saling menyalahkan, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Tidak hanya sekedar menyalahkan semata, Covid-19 juga telah semakin memupuk sentimen anti Tiongkok di berbagai negara karena merupakan sumber dari virus.

Mokoto Rich dalam tulisannya As Corona Spread, So Does Anti-Chinese Sentiment turut menyebutkan bahwa sentimen rasial tersebut telah memberikan dampak politik yang destruktif bagi negeri Tirai Bambu.

Tidak jauh-jauh ke Barat apalagi ke AS, di Jepang saja, fenomena rasial tersebut tampak ketika sebuah restoran sushi di negeri Matarahi Terbit sampai menolak melayani orang Tiongkok kendati 90 persen pembelinya dari negara tersebut.

Di Indonesia? Kondisi tidak kalah mengkhawatirkan. Seorang etnis Tionghoa bernama Endar yang merupakan pemilik Ho Teh Tiam, toko teh tradisional Tiongkok di Medan, Sumatera Utara, turut memberikan pandangannya atas hal ini.

Dalam gundahnya, ia menyampaikan kekhawatiran akibat masifnya sentimen anti-Tiongkok yang menjamur di berbagai lini sosial media. Tidak berlebihan memang, sejarah kelam tindakan rasial sampai perundungan telah banyak terjadi di republik ini.

Sama halnya dengan Endar, Hanna Kozlowska dalam tulisannya How Anti-Chinese Sentiment is Spreading on Social Media juga memberi perhatian khusus atas digunakannya sosial media untuk menyebarkan sentimen anti-Tiongkok. Itu misalnya terlihat dengan banyaknya postingan bertuliskan “Chinese virus”, “Chinese coronavirus”, “Wuhan virus”, hingga mengganti nama “Kung Fu” menjadi “Kung Flu”.

Kemudian, atas besarnya kerugian ekonomi akibat pandemi Covid-19, kelompok masyarakat di AS bahkan mengajukan tuntutan class action agar Tiongkok membayar kompensasi sebesar US$ 6 triliun atau sekitar Rp 90 ribu triliun karena negeri Tirai Bambu tersebut dinilai gagal untuk mencegah Covid-19 menyebar ke penjuru dunia.

Disayangkan memang, tidak seperti harapan penulis buku Sapiens Yuval Noah Harari agar sinergi dan kolektivitas global dapat terjadi untuk menanggulangi pandemi Covid-19, praktik kambing hitam semacam itu justru yang harus menjadi kenyataan. Lantas, hal apakah yang dapat dimaknai dari fenomena riskan ini?

Sejarah yang Berulang

Jika mengacu pada Endar ataupun Kozlowska, mungkin banyak dari kita yang menduga bahwa masifnya penyebaran sentimen anti-Tiongkok disebabkan oleh sosial media yang membuat pertukaran informasi menjadi begitu cepat dan mudah untuk dilakukan.

Namun, Zarrar Khuhro dan tulisannya Plague & Prejudice memberikan bantahan yang cukup atas dugaan tersebut. Menurutnya, alih-alih dipahami sebagai fenomena yang baru, prasangka ataupun praktik saling menyalahkan justru telah menjadi momok yang selalu berulang ketika wabah penyakit tengah terjadi.

Wabah Athena di Yunani pada abad kelima SM misalnya, kendati belum terdapat sosial media seperti WhatsApp, berita palsu (hoaks) terkait wabah tersebut masif menyebar dari mulut ke mulut.

Imbasnya, orang-orang Peloponnesia dituduh sebagai biang keladi wabah karena beredar kabar mereka telah meracuni sumur dan waduk Athena. Tidak hanya berimbas pada kekerasan pada orang-orang Peloponnesia, kabar tersebut juga membuat mereka seolah menjadi masyarakat kelas kedua di bawah orang-orang Athena.

Sekitar 600 tahun kemudian Di Romawi, wabah Antonine yang sebenarnya dibawa pulang oleh tentara Romawi yang selesai berperang, justru dilimpahkan kepada orang-orang Kristen oleh Kaisar Marcus Aurelius.

Menurutnya, wabah tersebut terjadi karena orang-orang Kristen menolak untuk menghormati dewa-dewa Romawi. Alhasil, kampanye penganiayaan terhadap orang-orang Kristen masif terjadi waktu itu.

Lalu, pada Wabah Hitam atau Black Death di Eropa yang begitu terkenal, orang-orang Yahudi menjadi pesakitan karena dituduh telah meracuni sumur dan menggunakan ilmu hitam untuk memanggil wabah sebagai upayanya untuk menghapuskan orang-orang Kristen.

kata, pembantaian orang-orang Yahudi adalah buah dari tuduhan tersebut. Pada kasus kambing hitam terhadap Tiongkok, menariknya hal tersebut tidak hanya terjadi pada Covid-19, di kasus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) pada 2003 lalu, Tiongkok juga disalahkan karena dinilai mengakibatkan pandemi tersebut.

Tidak tanggung-tanggung, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan memberikan catatan khusus pada laboratorium di Beijing sebagai penyebab virus.

Melihat pada terus berulangnya pencarian kambing hitam ketika terjadi wabah, tentu dapat disimpulkan bahwa fenomena tersebut tidak disebabkan oleh faktor perkembangan teknologi informasi seperti sosial media. Jika demikian yang terjadi, suatu pertanyaan fundamental mencuat, mengapa praktik kambing hitam semacam itu terus terjadi?

Sebuah Misteri?

Samuel K. Cohn dalam tulisannya Pandemics: Waves Of Disease, Waves of Hate from the Plague of Athens to A.I.D.S. memiliki istilah menarik dalam menggambarkan fenomena tersebut.

Menurutnya, tidak hanya menjadi bencana kesehatan, wabah nyatanya juga telah bertransformasi menjadi gelombang kebencian atau wave of hate.

Mengacu pada temuan berbagai sejarawan, Cohn menyebutkan bahwa kebaruan dan efek misteri penyakit adalah kunci yang membuka rasa tidak aman yang ekstrem dan ketakutan untuk kemudian menyalakan praktik kambing hitam dan kekerasan massal, khususnya terhadap minoritas.

Pada kasus Covid-19 yang merupakan virus baru dan masih berbalut misteri, khususnya karena diselimuti oleh banyak teori konspirasi, kita dapat melihat bagaimana gelombang rasial kemudian menyalak dengan keras.

Tidak hanya itu, dengan berlakunya new normal, di mana kehidupan sosial begitu dibatasi, atau setidaknya tidak sebebas sebelumnya, kita dapat melihat bagaimana hal tersebut menciptakan ketegangan tersendiri.

Di AS misalnya, gelombang demonstrasi terus turun di New York untuk mendorong dibukanya lockdown. Mengutip Profesor Sejarah dari New Mexico State University, William Eamon, terjadinya penyakit baru, terutama epidemi, memang dapat memberikan semacam penegasan visual bahwa sesuatu yang sangat salah tengah terjadi di lingkungan sosial yang lebih luas.

Lebih peliknya, penyakit baru yang terjadi juga dapat menjadi penghambat suatu budaya untuk mengasimilasi kebaruan karena berbagai ketegangan yang tercipta. Penjelasan Eamon tampaknya sangat relevan dalam menggambarkan kondisi ketegangan yang terjadi di tengah pemberlakuan lockdown atau new normal.

Mungkin dapat disimpulkan, Covid-19 telah menciptakan ketegangan tersendiri karena banyak kelompok masyarakat yang tidak dapat menerima perubahan karena keinginan mereka untuk bersosialisasi menjadi terbatasi.

Di Indonesia sendiri, riak-riak tersebut juga terlihat. Pada April lalu misalnya, beredar video yang memperlihatkan amarah masyarakat karena dilarang melakukan salat tarawih oleh seorang warga.

Tidak hanya soal perkara ibadah, dengan banyaknya trik dan intrik dalam melakukan mudik kendati telah dilarang oleh pemerintah, itu memperlihatkan bagaimana masyarakat benar-benar sulit untuk menerima perubahan bahwa aktivitas yang sebelumnya lumrah tersebut tidak dapat dilakukan di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) seperti saat ini.

Namun, kendati wabah kerap melahirkan gelombang kebencian, dalam temuannya, Cohn menyebutkan bahwa wabah juga terkadang menjadi pemicu untuk menyatukan komunitas, hingga menjadi penyembuh luka atas ketegangan sosial, politik, agama, ras dan etnis. Itu misalnya terjadi pada Great Influenza 1918-19 dan Demam Kuning di berbagai kota dan wilayah di Amerika dan Eropa.

Pada titik ini, para pakar memang belum sampai pada kesimpulan bahwa karakteristik wabah apa yang membuat gelombang kebencian terjadi atau tidak terjadi. Di luar perdebatan yang belum selesai ini, satu hal yang jelas, pandemi Covid-19 ini tidak boleh membuat kita mengulang sejarah dengan menyalakkan gelombang kebencian, rasial, ataupun kekerasan. Itulah harapan kita semua. 

Sumber: pinterpolitik.com

Editor: tom.