HETANEWS

Prank: Tapi Bohong

YouTuber Ferdian Paleka (tengah) dan dua rekannya yang terlibat dalam video prank pembagian sembako berisi sampah. Foto: DOK. HUMAS POLRESTABES BANDUNG

Hetanews.com - Belakangan ini aksi prank menjadi perhatian banyak orang. Hal ini berkaitan dengan beberapa kasus prank di Tanah Air. Biarpun prank bukan masalah baru di media sosial, tetapi hingga saat ini masih banyak yang menirunya.

Bukan hanya untuk lucu-lucuan, tetapi lebih kepada ngerjain orang. Prank yang artinya gurauan, kelakar, olok-olok, biasanya dibuat oleh seorang YouTuber yang kemudian di-upload pada kanal YouTube pribadi. Ia akan senang kalau banyak yang memberi like atau yang subscribe.

Selama ini konten prank biasanya bersifat ngerjain orang, menjahili, memperdaya, mengolok-olok, bikin kaget, lucu-lucuan. Tetapi banyak pelaku prank yang kadang keterlaluan, lepas kontrol. Hal ini membuat banyak orang marah, emosi, tersinggung, hingga tidak mustahil dilaporkan ke polisi.

 Oleh karena itu, konten prank memang sebaiknya tidak keblablasan. Pencarian ide prank tetap pada koridor bercanda sehat. Jangan sampai terkesan menghina, melecehkan, merendahkan, menakuti.

Kasus Hukum

Baru-baru ini ada beberapa kasus prank yang berujung pada urusan polisi karena sudah dianggap keterlaluan. Santer tersiar penangkapan YouTuber berinisial FP yang membagikan bingkisan berisi sembako sampah dan batu kepada waria/transgender di Kiaracondong, Bandung.

Video prank berisi sembako sampah dan batu ini berujung ditangkapnya FP oleh polisi di Kilometer 19 Tol Jakarta-Merak. Kemudian ada lagi prank dari Bone, Makassar, yang juga berujung urusan polisi.

Waktu itu AR (perempuan) ngeprank yang membuat tenaga medis di rumah sakit panik. Pasalnya, AR berpura-pura menjadi pasien positif Covid-19. Ia berpura-pura sesak napas dan kejang- kejang. Tapi bohong. Kemudian ada lagi prank dari Jakarta Timur.

Pelaku prank memberikan kardus sepatu kepada pengendara motor di Terowongan Ceger. Kardus tersebut ternyata berisi mayat bayi. Mengerikan sekali. Hingga kini pelaku masih dicari polisi.

Sadar Diri

Bagi yang suka ngeprank, konten prank memang harus selalu baru. Gagasan yang mengejutkan. Oleh karena itu, tidak aneh apabila konten prank yang di-upload terkadang di luar batas normal. Di satu sisi, membuat konten prank memang sebuah kerjaan kreatif. Setidaknya lain dari yang lain.

Ditambah lagi harus mengandung unsur keterkejutan dan lucu. Ini tantangan tersendiri bagi pelaku prank. Sudah banyak kasus prank yang berurusan dengan polisi atau yang didamprat orang yang tidak senang. Ini tentu pelajaran berharga bagi yang suka ngeprank.

Oleh karena itu, agar tidak liar dan terhindar dari urusan polisi, sebaiknya sesama YouTuber yang fokus pada prank membuat aturan main atau kesepakatan mandiri, yaitu poin-poin apa saja yang wajib dihindari dalam aksi prank.

Kalaupun dirasa tidak perlu ada kesepakatan bersama karena dianggap sudah tahu antara yang boleh dan yang tidak boleh, setidaknya secara mandiri membuat poin-poin yang wajib dihindari dalam aksi prank.

Tinggikan unsur etika. Misalnya, aksi prank tidak boleh bermuatan SARA, tidak menghina, tidak merendahkan, tidak melecehkan, tidak mencelakakan, tidak mengandung pornografi atau pornoaksi, dsb. Hal-hal tersebut sebagai penjaga saja dan warning bagi pelaku prank.

Komedian S. Bagyo pernah berkata bahwa melucu itu serius. Apabila dikaitkan dengan prank, maka konten prank pun serius. Artinya, konten dipikirkan lebih dulu, jangan asal jeplak. Dan tidak seenaknya bilang: tapi bohong

Baca juga: Ferdian Paleka dan pelajaran bagi prank youtuber tak beretika

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.