HETANEWS

Pasien Isolasi Covid 19 Di RSUD Djasamen Bisa Depresi

Foto: Ruang Dahlia RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar. Rumah sakit milik pemerintah kota Pematangsiantar ini menjadi rumah sakit rujukan pasien Covid 19 atau Corona Virus Disease 19 di Provinsi Sumut.

Siantar, hetanews.com - Seorang pasien OTG Covid 19 mengungkapkan kondisi para pasien selama diisolasi terkait Covid 19 di RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar. Pengalaman selama 9 hari menjalani isolasi pun dibeberkan dari apa yang dialaminya maupun pengamatannya.

Tim Medis 

RSUD Djasamen ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan Covid 19 sejak Maret lalu. Saat ini ada 9 orang pasien yang dirawat terkait Covid 19. Diantaranya pasien, OTG, PDP dan Pasien Positif. 

"Saya masuk Senin (11/5) lalu. Dua hari kemudian, hari Rabu dan Kamis di-swab. Sekarang menunggu hasilnya," ujar seorang Pasien OTG yang diisolasi di RSUD Djasamen, Selasa (19/5/2020).

Ayah 3 orang anak ini sebelumnya sudah dirapid test dengan hasil reaktif. Sehingga ia pun diisolasi ke rumah sakit rujukan Covid 19 yang bertempat di Jalan Sutomo, Pematangsiantar itu.

"Permasalahan yang kita hadapi disini, pelayanan medis itu sama sekali hampir tidak ada. Saya tidak pernah dikunjungi perawat apalagi dokter selama sembilan hari disini. Termasuk  pasien yang dinyatakan positif. Sampai detik ini tidak ada kunjungan dokter maupun perawat," katanya.

"Keluhan ini bukan hanya saya yang merasakan. Disini ada 9 pasien yang diisolasi dan yang dinyatakan positif disini sudah ada 4," ucapnya menambahkan. 

Tak Ada Yang Menerima Pasien

Pemko Pematangsiantar menyalurkan dana Tidak Terduga atau TT senilai Rp 3 Milar ke Dinas Kesehatan untuk memaksimalkan pelayanan RSUD Djasamen saragih sebagai rumah sakit rujukan Covid 19. Dana tersebut juga untuk penangan Covid 19.

Kepada Hetanews, pasien yang sudah 9 hari ini diisolasi itu menuturkan pengalamanya tiba di rumah sakit plat merah tersebut.

"Ketika saya sampai disini saja, kita ini tidak dianggap sebagai manusia. Kita diantar ambulance dijemput dari rumah pake ambulance. Lalu diturunkan ambulance, kemudian ambulance pergi. lalu disini bengong, gak ada yang menerima. Petugas satu orang pun gak ada disini," tuturnya. 

 "Tidak ada petugas disini. dan itu bukan berlaku untuk saya saja, semua pasien hampir begitu perlakuaanya," katanya menambahkan.

Nasi kotak yang sehari hari diberi kepada pasien yang diisolasi.

Satpam Beri Makan Pasien
Kesan pertama tak ada petugas medis yang menerima berlanjut ke pelayanan rumah sakit. Ternyata, kata dia, selama diisolasi pasien hanya diberi makan. Itu pun bukan petugas medis. Satpam rumah sakit yang memberi pasien makan.

"Fasilitasnya, seperti puskesmas. Paling dikasih makan. Yang ngasih makan kita satpam. Pagi sarapan, makan siang dan malam. Jadi sangat memprihatinkan," ungkapnya.

Selain pasien OTG, penanganan pasien positif Covid 19 juga mengalami hal serupa. Meski seharusnya penangan terhadap pasien positif harus lebih intensif.

"Pasien positif itu harus ditangani. Saya bandingkan dengan pasien positif di RSUP Adam Malik. Sebelum dinyatakan positif saja perawatanya intensif. Jadi betul betul diperhatikan sama dokter. Setiap 4 jam sekali selalu ditanyai," ucapnya. "Kalau disini, ketemu sama Perawat saja gak ada. Apalagi dokter."

Walikota Hefriansyah melakukan cek suhu tubuh  dengan thermo gun usai perjalanan luar kota. [Foto: Protokoler]

Tak Ada Cek Suhu Tubuh
Tidak seperti yang dibayangkan orang kebanyakan. Para pasien yang dirawat dan diisolasi di RSUD Djasamen ternyata bukan menerima perawatan layaknya pasien sakit biasa. Pasien OTG Covid 19 ini mengaku belum pernah di cek suhu tubuhnya.

"Jangan bermimpi. Harapan kita pertama dibawa kemari kita diterima, kita didata. Kemudian di cek kesehatan minimal suhu tubuh dan ditensi, baru setelah itu kita diisolasi. Ternyata gak ada semua itu," ucapnya.

Pengalaman itu membuat dirinya kesal. Bahkan sekalipun ia tidak mengetahui progress kesehatannya. Ingin melapor kepada petugas medis, dokter maupun perawat tak ada yang bertugas sebagai piket.

"Sampai sekarang kita gak tau berapa suhu tubuh kita. Kemudian tensi kita gak tau. Bayangkan misalnya tengah malah ada pasien disini yang mau mati kita gak tau melapor kemana. Jadi disini gak ada semacam piket perawat," bebernya.

Karena tidak ada petugas medis maupun piket, akhirnya para pasien berinisiasi untuk pindah dari ruangan yang satu ke ruangan lain. Namun masih di wilayah isolasi.
  
"Kami kemarin sama 3 orang. Sebelum ada dinyatakan positif kami sama. Setelah dia positif kami pindah. Dan itu pun gak perawat yang datang untuk memindahkan itu. Ngeri lah. Sangat luar biasa ngeri."

Walikota Hefriansyah dan Wakilnya Togar Sitorus foto bersama dengan perwakilan komunitas di Balaikota Pematangsiantar. [Foto; Protokoler]

Pasien Tak Tahu Mengadu Kemana
Gugus tugas percepatan penanganan covid 19 gencar mengabarkan jumlah persebaran covid 19 di Pematangsiantar. Tak cuma itu, Tim Gugus juga turun ke lokasi untuk menertibkan warga yang berkerumun. 

Namun selama ini tidak pernah dilaporkan kondisi rumah sakit rujukan dalam pelaporan Gugus Tugas dalam via live streaming. Sementara menurut pasien OTG ini, para pasien jika ingin butuh sesuatu gak tau mau melapor kemana.

"Jadi sekarang kita mau melapor gak tau kemana. Ke gugus tugas atau rumah sakit kita gak tau. Gak tau siapa yang bertanggung jawab disini. Gak ada [Pokso] pengaduan. Ini sudah ngeri. Kalau hanya makan, di rumah saja bisa makan," imbuhnya.

Muncul Depresi Atas Situasi Yang Dihadapi

Selain berjuang melawan virus, para pasien terpaksa menghadapi situasi rumah sakit yang belum memberikan kenyamanan kepada mereka yang diduga terpapar Covid 19. Kepada hetanews, pasien berjenis kelamin pria ini mengeluh depresi selama menjalani isolasi.

"Penyakit yang baru sebenarnya disini Depresi. Bukan penyakit corona itu. Depresi kita disini. Kalau kita mau keluar dari sini juga gak papa karena gak ada menjaga. Kalau misalnya  ke Kok Tong pun kita gak masalahnya itu," katanya seraya tertawa menghibur diri.

Dalam amatannya selama di rumah sakit, pernah seorang Pasien baru yang diisolasi ke RSUD Djasamen mendapat perlakuan serupa seperti yang ia alami sewaktu pertama kali masuk isolasi.

Seng pembatas antara ruang isolasi di RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar.

"Kemarin ada pasien yang baru diantar. Status Reaktif. Diantarkan kesini pakai ambulance, saya lihat dia duduk karena gak tau mau melapor kemana,"

"Ibu ibu itu, akhirnya sampai malam disitu [duduk]. Dihubungi saudaranya kemudian ada seorang petugas membuka pintu dan dia tinggal sendiri di gedung cukup besar. Kemudian malam dia gak dapat makan. Mungkin karena belum terdata, jadi nasi kami kami kasih ke dia," ungkapnya.

Ia menjelaskan, kondisi rumah sakit itu tak ada bedanya setelah ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan Covid 19. Tak ada peralatan medis khsusus untuk pasien corona. Tapi hanya ada penambahan seng pembatas untuk ruang isolasi.

Ia juga menuturkan, kondisi rumah sakit pemerintah itu tak seperti rumah sakit Covid 19 yang kita lihat di Televisi atau chanel You Tube. Lengkap dengan peralatan medis dan tenaga medis lengkap dengan APD.

"Jangan bandingkan dengan yang di Tv, malu kita. Ruang isolasi hanya dikasih batas seng. Ada pagar seng. Jadi jangan membayangkan seperti yang di Tv, ada oksigen dan peralatan medis. Itu gak ada, asli lempang." katanya.

Terakhir, ia mengatakan para pasien yang tinggal dalam isolasi semuanya dalam keadaan sehat. Mereka juga saling memberi semangat satu sama lain. "Untungnya kami masih sehat sehat disini. Saling menghiburkan kita disini. Kami fine fine saja, baik baik saja disini," tutupnya.

Baca juga: Soal Pasien Positif Mengaku Tak Pernah Ditemui Dokter, dr Ronal: Kalau Ada Kekurangan Nanti Saya Perbaiki

Penulis: gee. Editor: edo.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.