HETANEWS.COM

Canda Prayoga Dibantai di Kebun Karet, Otak Pelaku Pembunuhan Dihukum 9 Tahun Penjara

Putusan pembunuhan disidangkan secara online melalui vidcon. (foto/ay)

Simalungun, hetanews.com – Terdakwa RBP (17), warga Simalungun, yang menurut Undang – undang masih dikategorikan sebagai anak, akhirya diganjar 9 tahun penjara oleh hakim tunggal, dalam sistem peradilan anak, di PN Simalungun, Kamis (14/5/2020).

"Terbukti melakukan pembunuhan dan berusaha menghilangkan barang bukti dengan mengubur korbannya... dan seterusnya..,"kata hakim Hendrawan Nainggolan, dalam persidangan yang digelar secara online melalui vidcon.

Putusan hakim itu, konform (sama) dengan tuntutan jaksa, Juna Kaban SH.

RBP dinyatakan terbukti bersalah melanggar  pasal 181 KUH Pidana Jo pasal 55 (2) ke-1 KUH Pidana Jo UU RI No 11/2012 tentang sistem peradilan pidana anak. 

Terdakwa terbukti membunuh Canda Prayoga (13) yang ditemukan sudah menjadi mayat, di kebun karet, dalam posisi duduk.

Berdasarkan fakta, pembunuhan itu dilakukan terdakwa  RBP, bersama-sama dengan temannya, MA (18) yang diadili secara terpisah, pada  Sabtu, 4 April 2020, lalu. Mayat korban ditemukan  di areal kebun karet PTPN III Bangun,  pada Rabu, 8 April 2020 lalu oleh seorang penggembala sapi dan melaporkannya ke Polsek Bangun.             

Terungkapnya kasus pembunuhan ini, setelah seorang penggembala sapi, menemukan mayat Canda Prayoga. Polisi bertindak cepat dan berhasil menangkap pelaku yang nyatanya masih berteman dengan korban.             

RBP menjadi otak pembunuhan, karena merencanakan pembunuhan korban pasca MA bingung untuk menebus sepeda motornya yang sudah digadaikan seharga 500 ribu. Lalu RBP mengatakan "kita ambil saja handphone dan sepeda motor si Canda,"katanya.

"Aku gak bisa kalau nusuk, tapi kalau mencekik aku bisa,"katanya lagi, lalu MA pun menyetujuinya.               

Rencana itu pun dilakukan, pada Sabtu, 4 April 2020 malam. Korban yang sudah diundang untuk minum - minum di rumah MA, akhirnya datang bersama beberapa teman lainnya. Lalu pada sekitar pukul 23.40 WIB, MA mengajak korban dengan alasan menemui cewek.            

MA bersama korban dan RBP menuju kebun karet, disitulah korban dicekik hingga tewas. Para pelaku mengambil cangkul dan menggali tanah yang tak cukup dalam. Korban dalam posisi jongkok, dikubur dengan tanah dan ditutup dedaunan.             

Barang curian berupa HP dijual kepada Khoirul Laksono als Kopral di Bukit Maraja seharga Rp850 ribu. Sedangkan sepeda motor korban, dijual para terdakwa, bersama Kopral ke Tebingtinggi. Sepeda motor korban dijual seharga Rp1.750.000 kepada Rudi dan uangnya Rp 500 ribu digunakan untuk menebus sepeda motor MA yang digadaikan. Sisanya dibagi dan untuk minum- minum, di Bukit Maraja.          

Terdakwa didampingi orangtuanya dan juga pengacara, Besar Banjarnahor SH, mempunyai hak yang sama dengan jaksa selama 7 hari untuk pikir-pikir, apkah menerima ataupun mengajukan banding atas vonis tersebut. Persidangan dibantu panitera pengganti, A Manurung, dinyatakan selesai dan ditutup.

Penulis: rahayu. Editor: gun.

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Daftarkan diri Anda sebagai anggota Heta News untuk selalu mendapatkan buletin berita populer langsung di kotak surat elektronik Anda!

Berlangganan

Aplikasi Heta News sudah tersedia di Google Play Store. Silakan pasang di ponsel pintar Anda!