HETANEWS.COM

Adili Pelaku Pembakaran Transgender

Ilustrasi. Foto: kompas.com

Hetanews.com - Seminggu sudah kasus Mira, transpuan yang menjadi korban pembakaran hidup-hidup oleh sejumlah preman dan sopir truk di Jakarta Utara. Perkembangan kasus saat ini masih dalam penyidikan dan polisi dalam seminggu baru menangkap 3 orang dari 6 tersangka.

Mereka adalah preman yang terlibat dalam aksi pengroyokan, mereka semua juga sering terlibat dalam kasus bajing loncat muatan truk di Cilincing.

Pasca kejadian polisi langsung menyelidiki kasus pengroyokan yang diduga ada unsur kejahatan kebencian terhadap LGBT. Sempat ada pernyataan kontroversial dari pihak Polres Jakarta Utara dalam proses penyelidikan kasus Mira.

Pihak kepolisian menyatakan mereka tidak akan membawa kasus ini sebagai tindakan pidana pembunuhan transgender yang disiram bensin dan dibakar secara sengaja. Mereka meyakini tersangka yang menyulut api tidak sengaja atau berencana melakukan tindakan tersebut.

“Salah satu tersangka menyalakan api, tapi tidak sengaja membakar korban (Mira),” kata Kapolres Jakarta Utara, Kombes Pol Budhi Herdi Susanto. Tersangka bisa dikenakan pidana kekerasan fisik dengan ancaman pidana penjara 12 tahun.

Padahal konsekuensinya korban meninggal, kok bisa cuma kena pidana pengroyokan Pasal 170 KUHP? Kan bisa kenain pasal berlapis seperti pembunuhan berencana yang hukumannya 20 tahun sampai seumur hidup.

Keadilan yang Setara untuk Teman-teman LGBT di Indonesia

Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, meminta polisi untuk selidiki kasus lebih dalam lagi karena pernyataan tersebut masih terlalu dini.

“Polisi perlu melakukan investigasi yang adil dan independen. Mereka tidak bisa memihak seakan pengacara pelaku kejahatan,” katanya minggu lalu.

Dalam kesempatan yang berbeda Usman lanjut menerangkan fenomena kekerasan terhadap Mira yang posisinya rentan diskriminasi hukum. Usman mengatakan kasus Mira bisa dijerat dengan pasal berlapis seperti Pasal 340 KUHP (Pembunuhan Berencana), Pasal 338 (Pembunuhan) dan Pasal 351 (Penganiayaan).

“Saat mereka membeli bensin dan menyiramkannya ke korban itu saja sudah memenuhi unsur tindakan terencana menghilangkan nyawa orang,” katanya dalam diskusi bertema ‘Dampak Covid-19 dan Pemberitaan Media Terhadap Transgender’ oleh Serikat Jurnalis Keberagaman (SEJUK).

Ia juga mengatakan kasus Mira juga memenuhi unsur penyiksaan di mana ada tindakan main hakim sendiri saat Mira diduga mencuri handphone tersangka. Alih-alih melaporkan tindakan Mira ke polisi para tersangka malah ambil keputusan sendiri memproses dugaan tindakan Mira.

Mira pun tidak terbukti mencuri barang milik korban dan pelaku justru menghabisi nyawa korban. Lebih lanjut Usman mengatakan ada dugaan kebencian terhadap teman-teman LGBT dalam kasus Mira. Ada dua unsur yang mencakup kekerasan terhadap Mira.

Pertama, penghakiman massa yang menyebabkan korban dipersekusi sampai menghilangkan nyawa. “Kedua, kejahatan kebencian. Korban alami kekerasan diduga karena identitas gendernya yang menjadikan korban layak dihabisi,” ujarnya.

Indonesia Belum Akui Hak-hak Keadilan LGBT Secara Utuh

Dalam kasus Mira rawan sekali terjadi diskriminasi hukum mengingat identitasnya sebagai termasuk kelompok LGBT. Usman bilang mengingat tidak adanya kerangka hukum yang spesifik menyinggung hak-hak dasar teman-teman LGBT.

Pasal 28 UUD dasar masih terlalu umum, hanya mengatakan hak hidup semua orang yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun.

Kesempatan yang setara di mata hukum tanpa diskriminasi bagi LGBT jadi sulit terealisasi, Menurut Usman terdapat beberapa kasus yang menimpa teman-teman LGBT tidak selesai dalam proses peradilannya.

Seperti kasus persekusi transpuan di Bekasi yang libatkan ormas agama. Korban dipukuli perutnya dan dihina secara verbal terkait identitasnya tidak diterima oleh Tuhan.

Pemisahan identitas LGBT yang berujung diskriminasi hukum oleh oknum terjadi karena kekerasan sistematis. Aspek itu terjadi karena beberapa stakeholder pemerintah berusaha memisahkan LGBT dari masyarakat karena identitasnya yang dianggap menyimpang.

Seperti yang terjadi di Aceh, ketika pemda mengecam keberadaan LGBT, penegak hukum juga ikut mendiskriminasi bahkan represif. Ini ikut mempengaruhi persepsi personal penegak hukum dalam menjalankan proses peradilan.

Bahwa teman-teman LGBT adalah kelompok menyimpang yang bisa diperlakukan berbeda. “Makanya, perlu sensitivitas pada keberagaman gender buat mereka (penegak hukum). Kurangi asumsi personal,” tegas Usman.

Pemberitaan Negatif LGBT Perburuk Keadaan

Kanzha Vina, aktivis transpuan dari Koaliasi Crisis Response Mechanism (CRM) mengatakan media berkontribusi dalam kasus pembunuhan Mira. Pemberitaan yang menyudutkan komunitas LGBT perburuk keadilan peradilan dan juga posisi LGBT di masyarakat.

“Judul, tagline dan isi berita memberi dampak langsung pada teman-teman LGBT,” tegasnya dalam diskusi.

Usman Kansong, Direktur Pemberitaan Media Indonesia, mengemukakan setidaknya ada beberapa pola yang media dalam beritakan isu terkait LGBT.

Pola satu media yang enggan beritakan isu LGBT sama sekali. Pola kedua perusahaan media yang negatif memberitakan teman-tema LGBT. Mereka ikut legetimasi diskriminasi LGBT yang terjadi di masyarakat.

“Mereka anggap LGBT itu menyimpang, kalau diberitain ke masyarakat bahwa mereka demikian gak ada masalah. Karena sebagian masyarakat juga setuju,” ungkapnya.

Dua pola yang seperti ini, tergolong tipe media yang takut terhadap penurunan iklan dan pembaca karena dianggap pro LGBT. Ada ketakutan dari mereka, pengiklan tidak mau iklan lagi di medianya dan pembaca akan kabur, sehingga berdampak terhadap penurunan jumlah page view. “Ketakutan mereka bisa jdi gak benar. Buktinya media saya baik-baik saja.”

Model dua pola ini yang berbahaya bagi komunitas LGBT. Alih-alih menyuarakan hak yang setara mereka malah menyutukan dan memperburuk anggapan LGBT sebagai komunitas yang menyimpang dari masyarakat.

“Kenapa ini terjadi? Karena sensitivitas gender di pekerja media belum merata. Bisa jadi wartawannya sudah sadar kesetaraan. Tapi editor atau redakturnya belum tentu, malah sangat mengecam. Ini mempengaruhi pola pemberitaan,” terang Usman.

Dalam kasus Mira ada beberapa media yang mengeksploitasi kehidupan Mira. Stigma masyarakat Mira dianggap meresahkan dibeberkan dalam pemberitaan. Padahal ini tidak terkait dengan proses penyelidikan kasus pembakaran Mira sebagai manusia.

Pola yang terakhir adalah paling minor dalam media. Media yang ikut menyuarakan hak-hak dasar komunitas LGBT. Dan proposi berita yang seimbang. “Yang kaya gini sudah cuek sama faktor ekonomi. Mereka lawan arus dan menyuarakan hak semua masyarakat yang setara,” kata Usman Kansong.

Mira Juga Manusia

Kanzha Vina yang ikut dalam mengadvokasi kasus Mira mengapresiasi kerja Polsek Cilincing yang melakukan penyidikan seadil-adilnya. Meskipun baru 3 dari 6 tersangka mereka tetap melakukan pengejaran pelaku.

Menurutnya upaya-upaya polisi dalam menangangi sudah cukup gesit sampai tetap memproses hukum pelaku. “Ada proses kekerasan di kasus itu. Tinggal pihak kepolisian saja sejauh mana mereka melihat kasus ini,” ujarnya ketika ditelepon.

Kanzha Vina

Ia tetap percaya bahwa tindakan kekerasan ini ada unsur kesengajaan pembunuhan serta kebencian terhadap komunitas LGBT. Memang agak sulit untuk melihat kasus ini murni kriminalitas atau ada unsur transphobia.

“Coba kalo pelakunya laki-laki atau perempuan? Takutnya karena dia (Mira) transgender, dianggap sampah dan tidak berguna, maka layak untuk dibunuh. Ini mengkhawatirkan bagi kami sebagai transpuan,” katanya.

Perempuan yang aktif di komunitas Sanggar Waria Remaja (Swara) ini berharap pelaku bisa diadili seadil-adilnya seperti mekanisme hukum lainnya. Ia sendiri tidak ingin kasus hukum ini tidak selesai seperti kasus yang libatkan LGBT sudah lalu.

“Yang kami harapkan nilai kemanusiaan. Boleh gak setuju dengan kami atas nama moral dan agama, apapun. Kami tidak minta disetujui. Tapi hargai hak kami untuk hidup seperti kalian,” tegas Kanzha.

Baca juga: Dituduh Mencuri, Seorang Waria Dibakar Hidup-hidup dan Tewas

Sumber: opini.id

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!