HETANEWS

Tolong Lah! China Jangan Jual Kelelawar Lagi

Ilustrasi Kelelawar. Foto: Shutterstock

Hetanews.com - Setelah perang habis-habisan Provinsi Hubei, China tidak ada penambahan kasus Covid-19. Pada 25 Maret 2020 pemerintah juga sudah melonggarkan kebijakan lockdown dan aktivitas kota pulih secara bertahap.

Setelah dua bulan penuh masyarakat diperintahkan untuk secara total mengisolasi diri di rumah. Namun, ada fakta lain yang akan membuat anda tercengang. 

Senin (30/3/2020) kemarin pemerintah setempat mengizinkan pasar asal usul kemunculan virus corona beroperasi kembali setelah ditutup pada awal Februari 2020 lalu.

Pasar basah Huanan di Hubei, Wuhan ini masih menjual berbagai hewan liar untuk dikonsumsi seperti kelelawar, ular, anjing, kucing dan tikus. Perlu anda ingat, kemunculan virus corona berjenis baru itu pertama ditemukan di pasar ini pada akhir Desember lalu. Dugaannya berasal dari kelelawar, ular dan trenggiling. 

Awal Kemunculan Corona 

Tepat sehari sebelum tahun baru, China mendapatkan ‘kado kejutan’ dari semesta. Otoritas China melaporkan tengah menangani belasan kasus flu yang belum teridentifikasi penyebabnya. 

Hari berikutnya peneliti mengumumkan flu tersebut berasal dari virus corona yang baru saja ditemukan di pasar tradisional.

Virus tersebut sudah menyerang seorang pria tua yang mengalami pneumonia dan diduga sudah menginfeksi puluhan orang yang ia temui di pasar. Ada dugaan lain bahwa virus sudah menginfeksi manusia sejak pertengahan November 2019. 

Tanggal 7 Januari 2020 otoritas China mengumumkan secara resmi terdapat virus corona baru yang diduga berasal dari kelelawar, ular dan trenggeling. Peneliti belum bisa mengatakan virus tersebut hewan mana yang pertama menyebarkan.

Seperti virus corona sejenisnya diduga menyebar lewat batuk, bersin dan kontak dengan manusia. Pada 11 Januari 2020 media telah melaporkan kematian pertama dari virus corona.

Korban adalah pria berumur 61 tahun yang pertama kali terinfeksi virus novel baru. Namun, hasil pemeriksaan visum mengatakan pria tua tersebut punya riwayat penyakit liver dan tumor di perut. 16 Januari 2020 virus sudah terbukti menyebar keluar daerah Wuhan, China.

Bahkan kontaminasi virus dilaporkan oleh beberapa negara seperti Thailand, Jepang dan Korea Selatan. Masing-masing negara melaporkan warga negaranya alami gejala pneumonia setelah berpergian dari Wuhan. 

22 Januari 2020 teridentifikasi bisa menular antar manusia. Dan kematian karena virus saat itu mencapai 17 orang dan menginfeksi 550 orang.  Seminggu kemudian semua kasus corona melonjak di China, dilaporkan terjadi 7.000-an kasus alami 170 kematian.

Virus sudah menyebar dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) menyatakan outbreak yang harus dihadapi oleh semua negara. Memasuki bulan Februari sejumlah negara melaporkan warganya positif terinfeksi virus corona.

Virus bahkan sudah sampai di Amerika hingga membuat kecaman dagang dari presiden Trump. Italia menjadi negara Eropa pertama yang mengumumkan warganya di Lombardy positif virus corona. 

Virus makin meledak hingga masuk ke Indonesia pertama kali pada awal Maret 2020. Sejak itu Indonesia terus alami kenaikan kasus hingga sekarang menjadi salah satu negara yang rata-rata angka kematiannya tertinggi di seluruh dunia. Pada 20 Maret 2020 Hubei, wilayah China awal kemunculan virus menyatakan tidak ada kasus Covid-19 lagi. 

Kelelawar Pembawa Segala Virus 

Kuat dugaan virus corona yang sedang mewabah ini berasal dari hewan liar yang dijual di pasar tradisional Huanan, Wuhan. Peneliti belum bisa memastikan hewan mana yang jadi sumber utama dugaan kuat ke kelelawar dan trenggiling. 

Dua hewan ini merupakan hewan liar yang memiliki risiko tinggi membawa virus dan menularkan ke manusia. Menurut Profesor Andrew Cunningham dari Zoological Society London (ZSL), ada berbagai macam spesies hewan liar merupakan pembawa virus baru, terutama kelelawar yang bisa menyebarkan virus sejumlah manusia. 

Profesor Jonathan Bill, zoologis dari University of Nottingham mengatakan kelelawar dapat membawa banyak virus karena perilakunya. “Kelelawar juga mamalia, ada kemungkinan besar penyakit atau virus dari mereka ditularkan ke manusia,” katanya.

Gak heran kelelawar memang jadi dalang beberapa wabah seperti virus Ebola dan Nipah. Dua virus ini diketahui berasal langsung dari kelelawar. SARS dan MERS juga diantarkan oleh kelelawar, tapi penularan ke manusia dari hewan ternak yang telah terinfeksi virus dari kelelawar. 

Peneliti menemukan setidaknya ada 61 virus yang pernah infeksi kelelawar dari berbagai jenis. Perilaku mereka tinggal di gua dan memakan berbagai buah membuat mereka rawan terkena virus baru.

Imun mereka yang kuat menjadikan mereka pembawa virus sempurna tanpa mengalami gejala. Saat mereka terbang untuk mencari makan membuat imun mereka kebal terhadap virus, namun tetap terinfeksi.

Penyebaran virus akan semakin kuat dengan pola hidup mereka yang saling berkerumun satu sama lain. Ini menjadikan virus menyebar dari satu ekor ke yang lain. 

Kelelawar memiliki jangkaun terbang yang cukup luas. Mereka sebagai pembawa virus yang tidak memiliki gejala penyakit bisa menyebar lewat kotorannya. Kotoran yang jatuh di tanah hutan di makan oleh semut atau serangga lainnya.

Serangga ini dimakan oleh trenggiling yang juga di makan manusia. Ini adalah gambaran kasar bagaimana virus bisa menular dari hewan ke manusia. 

Ketika virus baru sampai di manusia tidak ada obatnya. Cara satu-satunya hanya meningkatkan imun tubuh untuk melawan virus yang baru diketahui tersebut. Kecuali sudah ditemuka vaksinnya. 

Tapi Wabah Ini Diperburuk oleh Manusia Sendiri

Meski kelelawar adalah pembawa virus, tapi kejadian pandemi yang terjadi pada manusia bukan salah mereka. Profesor Andrew menuduh kelelawar sumber dari bencana pandemic yang terjadi pada manusia. “Gampang menuduhnya. Tapi kita perlu memahami cara kita berinteraksi dengan mereka (kelelawar) yang mungkin jadi sebab pandemi,” katanya. 

Dia menyinggung perilaku orang-orang di pasar tradisional yang bisa jadi penyebab kuat virus dari hewan menginfeksi manusia. Kondisi pasar tradisional yang menjual berbagai hewan liar seperti Pasar Huanan, menjajakan hewan saling berdekatan.

Aktivitas pemotongan dilakukan di tempat yang sama, daging dijajakan dan percikan darah atau kotoran berada di sekitar manusia. “Disini penularan virus terjadi, ujung-ujungnya aktivitas manusia kan,”

Perilaku manusia terhadap lingkungan yang menebang pohon sehingga hilangkan habitat mereka juga perburuk wabah.

Ini terjadi secara tidak langsung, ketika habitat hewan liar hilang, interaksi dengan manusia semakin dekat. Hewan menjadi stress dan mudah terserang virus yang bisa menginfeksi manusia juga. 

“Kelelawar dan hewan liar lainnya tak selalu buruk. Justru kita bisa belajar dari mereka, kok bisa virus yang ada dalam tubuh tidak membuat mereka sakit,” tegas Profesor Cunningham. 

Sumber: opini.id

Editor: tom.