HETANEWS

1,6 Juta Orang di Dunia Terinfeksi Covid-19, Bagaimana Kehidupan di Negara Tanpa Virus Corona?

Dalam foto yang dirilis UNICEF memperlihatkan dampak kerusakan di Port Vila, ibu kota Vanuatu, Sabtu (14/3/2015) setelah Badai Pam menerjang negara kepualauan di Pasifik Selatan itu. Foto: AP/UNICEF Pacific

Hetanews.com - Secara global, di seluruh dunia tercatat ada 1.600.984 kasus positif terinfeksi virus corona. Jumlah kematian pun mencapai 95.604 kasus dan 355.671 orang berhasil sembuh. 

Hingga kini, setidaknya ada 15 negara di dunia yang belum melaporkan adanya kasus infeksi Covid-19 di wilayahnya. Salah satunya adalah Vanuatu. Negara ini memiliki penduduk kurang dari 300.000 orang dan berada sekitar 1.800 kilometer timur Australia.

Vanuatu sendiri merupakan sebuah negara kepulauan dengan 80 pulau yang tersebar. Di lokasinya yang cukup jauh ini, bayangan virus corona bukannya tidak menjadi momok bagi penduduk negara. 

Dua anak dari Ariitaimai Salmon, penduduk Vanuatu, adalah beberapa di antara orang-orang yang dikarantina pada sebuah hotel. Mereka baru kembali dari Sidney.

"Bagi anak-anak saya, bisa pulang ke rumah adalah sebuah kelegaan meskipun artinya mereka harus menjalani karantina di sini selama dua minggu. Mereka menjalaninya dengan sangat baik" kata Salmon sebagaimana dikutip The Guardian.

Salmon sendiri adalah seorang manajer operasi dan pelanggan dari Au Bon Marche, sebuah rantai supermarket terbesar di Vanuatu.

Ia telah menghabiskan beberapa minggu terakhir untuk meyakinkan warga Vanuatu bahwa ada persediaan makanan yang cukup untuk penduduk, bahkan saat perbatasan telah ditutup. Au Bon Marche merupakan salah satu dari sedikit perusahaan yang akan bertahan dari dampak virus corona yang terjadi di dunia.

Sektor perekonomian terdampak

Bagi mereka yang bekerja di sektor perhotelan dan pariwisata, yang sebelumnya menyumbang lebih dari 40 persen dari PDB Vanuatu, belum ada kejelasan kapan kondisi akan kembali normal.

Kapal pesiar pun telah sepenuhnya berhenti beroperasi. Begitu pula dengan maskapai nasional Air Vanuatu, yang telah menangguhkan semua penerbangan masuk dan keluar dengan batas waktu yang belum dapat ditentukan. Banyak restoran dan hotel yang ditutup secara sukarela untuk sementara.

Namun demikian, ada pula yang berusaha untuk tetap beroperasi dalam batasan yang diberlakukan pemerintah, yaitu tutup pada pukul 19.30 atau sebelum jam malam. Sebelumnya, pemerintah Vanuatu melarang masyarakat berada di luar rumah antara pukul 21.00 dan 04.00 waktu setempat. 

Di sepanjang jalan utama Port Vila, tempat-tempat cuci tangan telah disediakan, dari mulai di luar toko, bank, hingga restoran. Kebanyakan terdiri atas wadah plastik besar dan keran portabel.

Peraturan darurat yang dikeluarkan pemerintah Vanuatu mewajibkan semua bisnis untuk menyediakan fasilitas cuci tangan dengan biaya sendiri. Upaya ini juga dilakukan untuk mempromosikan praktik hidup bersih.

Beberapa bisnis pun benar-benar harus ditutup. Seorang pengusaha lokal yang mengekspor kayu cendana ke China, Christoph Tahumpir, harus mentup operasinya ketika pelabuhan ditutup. Ia khawatir dengan meningkatnya pengangguran yang akan terjadi, tetapi di sisi lain, Tahumpir setuju bahwa perbatasan harus tetap ditutup.

"Jika virus datang ke sini, itu akan berdampak orang-orang yang lebih tua di keluarga saya dan saya tidak dapat mengunjungi mereka di rumah sakit. Itu akan sangat menyedihkan" tutur Tahumpir. 

Juru bicara utama untuk tim penasihat pemerintah atas Covid-19 Russel Tamata menyatakan bahwa tindakan agresif yang diambil pemerintah sudah benar.

"Kami tahu bagaimana virus menyebar dan ketika kami melihat budaya dan bagaimana kami hidup di sini, kondisinya sangat mendukung. Jika virus datang, akan terjadi bencana," kata Tamata.

Menurut Tamata, kondisi tersebut yang menjadi alasan perlu ketatnya aturan dengan perbatasan. "Kita tidak punya sumberdaya dan fasilitas untuk menanganinya. Kesalahan sekecil apa pun akan berdampak sangat buruk bagi kita" tambah Tamata.

Kesiapan fasilitas medis

Pemerintah China sendiri telah berkomitmen untuk memasok peralatan dan bahan pada April bagi Vanuatu, untuk membangun unit perawatan intensif di Port Vila. Saat ini, Vanuatu telah melakukan perubahan pada rumah sakit utama negara Vila Central Hospital. Perubahan dilakukan pada bangsal tuberkulosis menjadi bangsal isolasi. 

Namun, hanya ada 20 tempat tidur yang tersedia di seluruh rumah sakit. "Jika seorang pasien mengalami komplikasi, kami hanya memiliki dua ventilator yang tersedia" ujar Tamata. Di Vanuatu, ada sekitar 60 dokter, tetapi kebanyakan baru lulus.

Baru-baru ini, Vanuatu juga menerima perawat-perawat dari Kepulauan Solomon. Karena kekurangan perawat lokal, Vanuatu telah mempekerjakan perawat dari Kepulauan Solomon sejak pertengahan 2019. 

Bencana lain

Saat Vanuatu tengah mempersiapkan kemungkinan terburuk mewabahnya virus corona, sebuah badai dikabarkan terjadi di negara itu dan menghancurkan pulau-pulau di bagian utara. 

Skala kerusakan belum diketahui secara pasti, tetapi kondisi ini cukup mendistraksi upaya pemerintah dalam menghadapi Covid-19. Peraturan larangan berkumpul untuk lebih dari lima orang pun dilonggarkan untuk kepentingan penyelamatan dan evakuasi massal.

Terlepas dari kerentanan Vanuatu ini, Tamata tetap optimis tentang peluang Vanuatu untuk tetap bertahan di tengah wabah virus corona ini. "Kami telah melihat Covid-19 sebagai ancaman dan juga berkah.

Praktik kebersihan dasar telah digaungkan sejak lama, tetapi berkat virus corona, orang-orang pada akhirnya menyadari pentingnya praktik ini dilakukan," kata Tamata.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.