HETANEWS

Islamofobia Perburuk Krisis Corona di Asia Selatan

Para petugas kepolisian India (Asia Selatan) memberikan hand sanitizer kepada tunawisma. Foto: newscom

Hetanews.com - Komunalisme telah memecah belah India tepat ketika negara itu membutuhkan persatuan dan menjadi negara dengan lonjakan pesat kasus COVID-19 di kawasan Asia Selatan.

Sorotan berita Asia Selatan minggu ini di antaranya adalah kenaikan tajam kasus COVID-19 di seluruh kawasan dan pembicaraan damai intra-Afghanistan tertunda.

Sementara itu, negara Asia Selatan lainnya, India, dilaporkan mencabut beberapa pembatasan pada ekspor obat anti-malaria hydroxychloroquine yang dipandang sebagai kemungkinan pengobatan infeksi virus corona baru.

Covid-19 Dan Komunalisme

“Kami baru saja menang ketika mereka melakukan segalanya untuk mengalahkan kami,” keluh Arnab Goswami, pembawa acara televisi India (Asia Selatan) yang berapi-api dan pemilik mayoritas saluran pro-pemerintah Republic, selama siaran jam tayang utama pekan lalu.

“Kami” yang disebutkan Goswami dapat merujuk ke India dan perjuangannya melawan pandemi COVID-19. “Mereka” di sini adalah Jamaah Tabligh, gerakan dakwah Islam yang menggelar pertemuan besar di New Delhi pada awal Maret 2020 dan telah diidentifikasi sebagai sumber utama penyebaran infeksi virus corona baru di India (Asia Selatan).

Namun, bagi para penonton reguler program Goswami yang memecah belah, penggunaan istilah “kami” dan “mereka” dapat ditafsirkan sebagai cara untuk membeda-bedakan 1,1 miliar umat Hindu dan 200 juta Muslim dalam negara demokrasi terbesar di dunia tersebut. Retorika dog whistle tersebut tampaknya telah berhasil.

Tagar #CoronaJihad muncul 300.000 kali di Twitter, TIME melaporkan. Beberapa politisi yang berafiliasi dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa menyebut perkumpulan Jamaah Tabligh sebagai “terorisme corona”, yang secara terbuka melantangkan nada Islamofobia.

Sementara itu, berita palsu telah mengipasi api sektarian. Seperti yang dilaporkan BuzzFeed, sebuah video menunjukkan sekelompok pria Muslim mengalami kesulitan bernapas dan seorang pria Muslim lain meludahi seorang polisi.

Keduanya seakan berniat untuk menyebarkan COVID-19. Video itu segera beredar luas di media sosial. Video-video itu kemudian terbukti telah berumur beberapa bulan dan tidak terkait dengan pandemi, tetapi dampaknya sudah menyebar pesat.

Jemaah Tabligh Layak Dikritik

Foreign Policy melaporkan, kelompok Jamaah Tabligh mengadakan pertemuan tahunan di kawasan Nizamuddin West New Delhi yang padat di New Delhi pada 8-10 Maret 2020 dengan mendatangkan ribuan peserta dari seluruh wilayah.

Diduga beberapa dari para hadirin adalah bagian dari pertemuan serupa sebulan sebelumnya di Kuala Lumpur, Malaysia, peristiwa yang ternyata menjadi sumber ratusan kasus COVID-19 di seluruh Asia Tenggara.

Nizamuddin West, rumah bagi tempat peribadatan Islam yang terkenal dan ramai, sangat rentan terhadap penyebaran infeksi dengan cepat. Pihak berwenang setempat seharusnya lebih berhati-hati atau menunda pertemuan tahunan para jamaah tersebut.

Namun, selain layak dikritik, umat Muslim bukanlah satu-satunya yang berkumpul dalam jumlah besar di India pada saat itu, meski mereka telah menanggung kebencian nasional dalam jumlah sangat besar.

Seperti yang dilaporkan wartawan Rana Ayyub untuk Foreign Policy, kebencian komunal telah menimbulkan dampak tersendiri. Minggu lalu, seorang anak yang baru lahir meninggal setelah sebuah rumah sakit menolak menerima keluarganya yang beragama Islam.

Kesenjangan Di India

Para turis ikut terkunci selama pandemi corona di India (Asia Selatan).
Foto: Reuters

Nisid Hajari, penulis Midnight’s Furies: The Deadly Legacy of India’s Partition, menggambarkan dalam Bloomberg pekan lalu bagaimana partisi India tahun 1947 membuat 14 juta orang melintasi perbatasan baru. Lebih dari 1 juta orang tewas dalam perjalanan itu, sebagian besar dalam kekerasan antar-agama.

Dengan 45 juta pekerja migran yang terusir dan ratusan juta orang tinggal di lingkungan yang padat di seluruh negeri, India sekarang menyerupai bom waktu.

Di tengah gelombang musim panas yang akan datang, kesenjangan akan melebar di antara kaum kaya dan miskin: lemari es, pendingin ruangan, makanan, internet, dan ruang berlimpah. Ketegangan agama hanya akan memperburuk situasi.

Kenaikan Kasus Covid-19

Jumlah infeksi virus corona baru terus meningkat tajam di Asia Selatan, dengan total di seluruh kawasan mendekati 10.000 kasus. India kini telah melampaui Pakistan sebagai negara dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi yang dilaporkan. Namun, pengujian tetap lambat, sementara jumlah kasus sebenarnya bisa jadi jauh lebih tinggi.

Pengiriman Uang Berkurang

Jutaan orang Asia Selatan bekerja di luar negeri dan mengirim uang kembali ke dalam negeri. Aliran dana itu bisa melambat secara drastis saat pekerjaan mengalami paceklik di tengah penutupan wilayah akibat pandemi di seluruh dunia. Ekonomi kawasan itu dikhawatirkan akan kehilangan banyak uang. Nepal, misalnya, selama ini memperoleh lebih dari seperempat PDB negara dari pengiriman uang.

Dialog Intra-Afghanistan Tertunda

Taliban telah membatalkan negosiasi dengan pemerintah Afghanistan setelah penundaan dalam usulan pembebasan tahanan. Suhail Shaheen, juru bicara Taliban yang berbasis di Qatar, menulis di Twitter pada Selasa (7/4/2020), kesepakatan “telah ditunda dengan satu atau lain alasan”. Pihaknya mengaku “tidak akan berpartisipasi dalam pertemuan sia-sia.”

Seorang juru bicara pemerintah Afghanistan menanggapi dengan mengatakan akan terus bekerja mengupayakan kesepakatan tersebut. Kegagalan untuk melanjutkan pembicaraan dapat menyebabkan lebih banyak kekerasan di negara itu, menunda rencana penarikan pasukan Amerika Serikat tahun ini.

Pembunuhan Jurnalis Daniel Pearl

Di Pakistan, empat pria yang baru-baru ini dibebaskan oleh pengadilan atas pembunuhan reporter The Wall Street Journal pada 2002 Daniel Pearl telah ditangkap kembali oleh pihak berwenang.

Menurut Reuters, yang melihat salinan perintah yang dikeluarkan oleh pemerintah Provinsi Sindh, ada kekhawatiran keempat orang itu akan bertindak “bertentangan dengan kepentingan negara” jika dibebaskan.

Pearl, yang meliput Karachi setelah tragedi 9/11, diculik dan dipenggal pada 2002. Langkah Pakistan untuk menahan keempat pria itu terjadi setelah Alice Wells, diplomat terkemuka Amerika Serikat untuk Asia Selatan, menulis di Twitter, pembebasan oleh pengadilan Sindh adalah “penghinaan terhadap korban terorisme di mana pun.”

Penangkapan Tingkat Tinggi Bangladesh

Abdul Majed, mantan kapten militer Bangladesh yang secara terbuka mengakui perannya dalam pembunuhan pemimpin kemerdekaan pada 1975 dan mantan perdana menteri Sheikh Mujibur Rahman, ditangkap di Dhaka pada Selasa (7/4/2020).

Majed dilaporkan bersembunyi selama beberapa dekade, mungkin di India. Hingga kini belum jelas kapan dia kembali ke Bangladesh. Menteri dalam negeri negara itu Asaduzzaman Khan menggambarkan penangkapan tersebut sebagai “anugerah terbesar”. Sheikh Mujib adalah ayah dari perdana menteri saat ini, Sheikh Hasina Wazed.

Kontroversi Obat anti Malaria

Tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyebabkan India membatalkan larangan ekspor hydroxychloroquine. Obat anti-malaria itu telah disebut-sebut sebagai kemungkinan pengobatan untuk penyakit COVID-19. India adalah produsen obat itu yang terbesar di dunia dan telah membatasi ekspornya pada Maret 2020 untuk menjaga pasokan.

Industri Garmen Bangladesh Melemah

Bangladesh akan kehilangan pendapatan sebesar US$6 miliar dari ekspor garmen tahun ini, menurut dua badan industri utama yang dikutip oleh Reuters. Kerugian tersebut merupakan seperenam dari ekspor garmen tahunan negara itu dan dapat terus meningkat karena ritel Barat seperti Gap, Zara, dan Primark membatalkan pesanan.

Bangladesh adalah produsen pakaian terbesar kedua di dunia setelah China. Negara itu juga memiliki lebih dari 4.000 pabrik dan sekitar 4 juta pekerja garmen.

Dampak Lockdown India

Tenaga medis di India (Asia Selatan) selama corona.
Foto: RFI

Dalam panggilan konferensi Foreign Policy pada Jumat (3/4/2020) lalu, mantan kepala bank sentral India Raghuram Rajan mengkritik cara pemerintah India yang dengan tiba-tiba mengumumkan penutupan wilayah (lockdown) secara nasional pada 24 Maret 2020, sehingga sebanyak 45 juta pekerja migran terlantar.

“Kita tidak melakukan pekerjaan dengan baik untuk memberi tahu para migran itu tentang bagaimana mereka akan dirawat,” tutur Rajan. Ia menambahkan, langkah terburu-buru mereka berikutnya untuk kembali ke desa-desa berpotensi menyebarkan virus corona baru di pedesaan India.

Demokrasi India

Bagaimana kita bisa menyusun demokrasi untuk negara yang belum pernah mengalaminya? Itulah pertanyaan yang diselidiki oleh pakar hukum Madhav Khosla dalam buku barunya, India’s Founding Moment: The Constitution of a Most Surprising Democracy.

Pengacara yang mengawasi penciptaan konstitusi Bhimrao Ramji Ambedkar mengatakan pada 1948, “Jika ada yang salah dengan konstitusi baru, alasannya bukan karena kita memiliki konstitusi yang buruk. Apa yang bisa kita katakan adalah, Manusia pada dasarnya jahat.”

Negara Yang Mengandalkan Ekspor

Selain data tentang pengiriman uang, ekonomi Asia Selatan juga bisa disimak dari sudut pandang yang berbeda. Ekspor barang dan jasa menyumbang hanya 5,9 persen dari PDB Afghanistan.

Negara-negara manakah di kawasan yang paling bergantung pada ekspor? Apakah itu maladewa, Bhuta, Sri Lanka, atau India? Jawabannya ialah Maladewa.

Menurut Bank Dunia, ekspor barang dan jasa negara itu, yang mencakup nilai perdagangan barang, transportasi, perjalanan, dan layanan lainnya, merupakan 69 persen dari PDB negara pulau itu. Bhutan berada jauh di urutan kedua dengan 31 persen, diikuti oleh Sri Lanka, India, Bangladesh, Nepal, dan Pakistan.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.