HETANEWS

Kepala WHO Mengaku Menerima Pelecehan dan Ancaman Mati Selama Wabah Corona

Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers di Jenewa pada 30 Januari 2020. Tedros mengumumkan status darurat dunia atas virus corona yang hingga saat ini, sudah membunuh 212 orang di China. Foto: AFP/FABRICE COFFRINI

Jenewa, hetanews.com - Kepala Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan pada Rabu (8/4/2020) bahwa dirinya untuk pertama kali mendapat serangan pribadi.

Dilansir dari media Perancis AFP, serangan itu termasuk penghinaan rasial dan ancaman kematian selama wabah virus corona. Menanggapi hal itu, Tedros menyatakan, "Saya tak peduli."

"Saya orang kulit hitam dan bangga. Saya tidak peduli disebut negro. Ketika seluruh komunitas kulit hitam dihina, ketika Afrika dihina, maka saya tidak (bisa) menoleransi," kata Tedros.

Ungkapannya itu ternyata buntut dari saran dua ilmuwan Perancis yang menyatakan bahwa vaksin corona bisa diuji coba kepada orang-orang Afrika. Pada pekan lalu, dua dokter di Perancis, Jean-Paul Mira dan Camille Locht, dikecam dan dianggap rasialis setelah mengusulkan agar tes vaksin virus corona dilakukan kepada orang-orang Afrika.

Pernyataan itu ditayangkan di kanal televisi LCI pada Rabu (1/4/2020). Di program kanal televisi tersebut, diskusi yang dibahas seputar vaksin tuberkulosis BCG yang bisa digunakan untuk melawan virus bernama resmi Covid-19.

Dukungan untuk Tedros

Pada Rabu (8/4/2020) malam, Tedros me-retweet dukungan pribadi yang telah dia terima dari Uni Afrika serta presiden Afrika Selatan, Nigeria, dan Rwanda terkait pelecehan terhadapnya.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres juga memberikan dukungannya, dengan mengatakan bahwa ini bukan waktunya untuk mengkritik tanggapan awal terhadap wabah tersebut.

"Sekarang adalah waktu untuk bersatu bagi komunitas internasional untuk bekerja bersama dalam solidaritas untuk menghentikan virus ini dan konsekuensinya yang menghancurkan," kata Guteres dalam sebuah pernyataan.

Sebelumnya, WHO dianggap terlalu khawatir ketika menghadapi epidemi H1N1 pada 2009 lalu. Akan tetapi, lima tahun kemudian, WHO juga dituduh terlalu berlebihan dalam menyatakan darurat atas wabah Ebola di Afrika barat, yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Sekarang badan kesehatan internasional tersebut dituduh menunda membunyikan peringatan atas wabah Covid-19 karena takut menyinggung Beijing.

Mereka dianggap telah menunggu terlalu lama untuk menyatakan virus corona sebagai pandemi global dan gagal mengoordinasikan respons internasional yang koheren.

Sejauh ini, Tedros telah memberikan konferensi pers virtual tiga kali seminggu dalam upaya untuk selalu bersikap terbuka tentang bagaimana organisasi tersebut menghadapi pandemi.

Tedros juga dapat meminta dukungan selebritas tingkat atas, seperti superstar AS Lady Gaga. Dia telah bekerja sama dengan penyanyi tersebut untuk meluncurkan konser raksasa kesadaran virus corona secara daring pada 18 April 2020 mendatang yang berjudul "One World: Together at Home", menampilkan ikon musik seperti Paul McCartney dan Stevie Wonder.

Tedros mengatakan, akan lebih buruk lagi jika dunia tidak bersatu untuk melawan penyebarannya.

"Ayo berjuang sekuat tenaga untuk menekan dan mengendalikan virus ini," kata Tedros. Kalau tidak, dengan apa yang kita lakukan sekarang, saya pikir kita akan menyesalinya," pungkas Tedros.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.