HETANEWS

Sejarah Ungkap Sebab Pandemi Corona (COVID-19)

Ilustrasi pandemi flu 1918 yang membunuh 50 juta jiwa di dunia. Foto: RTE

Hetanews.com - Penyakit menular muncul di setiap zaman, dan hampir selalu mengakibatkan pergolakan politik. Untuk zaman ini, penyakit itu telah datang.

Pada 1377 Masehi, sejarawan Arab Ibnu Khaldun menerbitkan buku Muqaddimah, yang masih digunakan untuk studi sejarah dunia sampai saat ini. Tujuannya tidak sederhana.

Penelitian luas Ibnu Khaldun dan perjalanan panjangnya telah membuat ia menyimpulkan ada hukum universal dinamika sosial. Ia bermaksud menggunakan bukunya untuk menjabarkan teori peradaban manusia yang mencakup segalanya.

Kontribusi Muqaddimah-nya yang paling orisinal adalah konsep asabiyyah, atau solidaritas kelompok. Bagi Ibnu Khaldun, pola dasar sejarah manusia adalah siklus dinasti, naik turunnya peradaban, dan asabiyyah (rasa tujuan bersama dan kohesi sosial) adalah sumber kekuatan yang memungkinkan aksi kolektif selama fase pertumbuhan sebuah dinasti atau peradaban.

Namun, pada akhirnya, kesuksesan dan kemakmuran berperan dalam merusak rasa solidaritas yang memungkinkan satu kelompok untuk naik ke kekuasaan. Dengan demikian, peradaban terkorupsi dari dalam.

Ibnu Khaldun mengembangkan teori perintis tentang perubahan historis, menggabungkan ranah sosial dan politik dengan dinamika ekonomi dan demografi.

Yang luar biasa, sejarawan Arab meramalkan bagaimana penyakit menular dapat terintegrasi ke dalamnya. Dia telah hidup melalui Black Death, dengan bencana-bencana biologis terburuk dalam sejarah manusia.

Bagi Ibnu Khaldun, wabah penyakit merupakan komponen integral dari keruntuhan peradaban. Wabah bukan hanya takdir Tuhan atau fenomena acak dari alam. Mereka adalah fenomena yang rentan yang memiliki penjelasan rasional. Epidemi mungkin merupakan hasil dari pertumbuhan populasi itu sendiri.

Peradaban yang kuat dengan pemerintahan yang baik akan memfasilitasi peningkatan populasi. Namun secara paradoksal, peningkatan demografis akan memicu penyakit epidemi yang mematikan dan disintegrasi sosial.

Pandemi COVID-19 bukanlah Black Death, dan Ibnu Khaldun jelas bukan ahli epidemiologi. Namun, seperti jatuhnya Tembok Berlin atau runtuhnya menara kembar pada peristiwa 9/11, ada perasaan kolektif yang membuat kita sadar kita hidup melalui sesuatu yang penting.

Di saat-saat seperti ini, kita mau tidak mau beralih ke masa lalu untuk mencari pola. Bukan hanya ilmu kedokteran dan model ekonomi yang menawarkan jawaban untuk saat ini.

Sejarah juga dapat mengajarkan kita tentang penyebab pandemi virus corona, dan kemungkinan konsekuensinya. Sepanjang sejarah, peristiwa epidemi selalu merupakan gabungan dari kebetulan dan struktural.

Epidemi adalah peristiwa kebetulan karena, misalnya, epidemi muncul ketika mikroorganisme patogen (virus, bakteri, protozoa) berpindah dari satu spesies ke spesies lain, ketika mutasi genetik acak meningkatkan transmisi atau virulensi kuman, atau ketika interaksi antara kelompok manusia memfasilitasi cepatnya penyebaran penyakit menular.

Akibatnya, epidemi sering tampak sebagai peristiwa acak yang datang entah dari mana. Guncangan biologis seperti itu merupakan kekuatan gangguan yang terus-menerus ada dalam sejarah manusia: menghancurkan kekaisaran, menggulingkan ekonomi, atau menghancurkan seluruh populasi.

Terutama ketika peristiwa itu memicu atau bertepatan dengan krisis lain (krisis iklim, krisis legitimasi, krisis moneter, dan konflik bersenjata), terjadilah momen-momen transformasi atau pengalihan dalam aliran sejarah.

Namun, jika dilihat dalam rentang waktu yang lebih panjang, peristiwa epidemi memiliki ritme dan alasan. Dalam arti tertentu, setiap zaman mendapat penyakit menular yang layak diterimanya secara ekologis, menurut pendapat Kyle Harper di Foreign Policy.

Kumpulan penyakit manusia adalah produk ekologi dan evolusi. Ada sekitar 300-400 spesies patogen manusia yang telah diidentifikasi. Dibandingkan dengan simpanse, kerabat terdekat kita, kuman-kuman manusia banyak, jahat, dan berfokus untuk mengeksploitasi kita.

Kumpulan penyakit manusia yang berbeda adalah hasil dari sejarah kita, dari cara-cara khusus yang kita lakukan, yang membentuk kembali kondisi ekologis di Bumi, dan menjadikan diri kita target yang luar biasa menarik sebagai tuan rumah bagi parasit mikroba.

Pandangan ekologis tentang penyakit menular ini diartikulasikan dan dipopulerkan satu generasi yang lalu oleh sejarawan global William McNeill. Kita telah belajar banyak untuk saat ini tentang asal usul evolusi penyakit manusia, tetapi kerangka kerjanya masih masuk akal.

Sebagai contoh, alasan manusia memiliki begitu banyak penyakit gastrointestinal adalah karena, sekitar 12.000 tahun yang lalu, kita mulai hidup di pemukiman aglomerasi permanen, yang dikelilingi oleh limbah kita sendiri, belum lagi limbah hewan kita, yang penuh dengan patogen yang ditularkan dengan rute fecal-oral.

Selain itu, alasan manusia memiliki begitu banyak penyakit pernapasan adalah karena kita memiliki jumlah populasi yang besar dan kepadatan yang tinggi. Itu mendukung patogen yang strateginya adalah berpindah dari paru ke paru.

Sepanjang sejarah yang tercatat, wabah dan pandemi telah menjadi sumber ketidakstabilan yang luar biasa dalam urusan manusia.

Di tengah pandemi COVID-19, ada baiknya mengingatkan diri kita sendiri tentang besarnya beberapa peristiwa penyakit sebelumnya, dan ketahanan masyarakat manusia ketika dihadapkan dengan bencana biologis.

Black Death adalah pandemi wabah pes, penyakit mengerikan yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Wabah pes benar-benar merupakan penyakit yang ditularkan melalui kutu binatang pengerat, yang terbentuk secara permanen di antara koloni tikus di Asia Tengah.

Sepanjang sejarah, wabah itu telah berulang kali muncul dan menyebabkan pandemi besar pada manusia yang sebenarnya merupakan efek samping dari panzootic (pandemi hewan atau penyakit yang menyerang hewan dari banyak spesies terutama di wilayah yang luas), terutama pada tikus.

Pandemi abad ke-14 itu melanda Timur Dekat, sebagian besar Afrika, dan seluruh Eropa. Black Death menewaskan sekitar setengah dari populasi seluruh benua.

Kemudian, wabah itu berulang secara lebih sporadis sekali atau dua kali satu generasi selama berabad-abad. Penyakit lain seperti cacar, campak, influenza, demam kuning, dan malaria juga bertanggung jawab atas kematian banyak orang.

COVID-19 belum terlihat seberapa jika dibandingkan dengan monster-monster sejarah ini. Namun jelas, penyakit ini, yang akan menyebabkan kematian relatif jauh lebih kecil daripada pandemi besar dalam sejarah, akan memiliki dampak besar.

Dampak sosial, ekonomi, dan mungkin geopolitik dari COVID-19 akan menyaingi dampak pandemi influenza 1918 yang jauh lebih mematikan.

Penyakit baru ini menyerang jantung tatanan global kita yang saling bergantung. Ini adalah pandemi global pertama dari era media sosial, zaman polarisasi budaya dan politik.

Akibatnya, pandemi ini memiliki estetika sendiri, pengalaman tersendiri. Ini adalah tantangan ekonomi baru dalam banyak hal.

Pasar tenaga kerja kita yang hiperefisien, sangat bergantung pada rantai pasokan yang rumit, dan ketepatan waktu; ekonomi kita yang sangat bergantung pada konsumen, perusahaan, dan utang negara.

Tidak ada sistem-sistem dalam sejarah yang telah menghadapi gangguan sebanding dengan gangguan akibat pandemi COVID-19. Kita akan membutuhkan waktu dan perspektif untuk memilah cara-cara pandemi ini akan mengubah dunia kita.

Memang, saat ini kita tengah menyaksikan beberapa lapisan tatanan sosial kita mulai berantakan, dan sejarah mengingatkan kita guncangan biologis seperti ini seringkali bertepatan dengan momen-momen transformasi, perubahan, dan terkadang, kemajuan.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.