HETANEWS

‘Virus Wuhan’ Menjalar Sepanjang Proyek Jalur Sutra China

Virus China menjalar lewat jalur sutra China hingga Italia. Foto: Wired

Hetanews.com - Demokrasi barat mungkin akan kalah di perang propaganda virus corona, tetapi China juga tidak akan memenangkannya.

Italia dengan China terhubung oleh Jalur Sutra (Silk Road), rute darat yang digunakan sejak zaman kuno oleh para pedagang untuk saling bertukar barang. Pedagang Venesia, Niccolò dan Maffeo Polo, pernah mengunjungi Beijing pada 1266.

Mereka termasuk orang-orang Eropa Barat pertama yang melakukan perjalanan ke China. Pada 1271, mereka mengunjungi China untuk kedua kalinya, ditemani oleh putra Niccolò, Marco.

Meskipun mereka berangkat melalui Jalur Sutra di Asia Tengah, mereka pulang ke Italia melalui laut, mengunjungi Sumatra, Sri Lanka, dan Gujarat di sepanjang perjalanan.

Peta perjalanan mereka mirip seperti peta Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) yang digadang-gadang pemerintah China saat ini. Inisiatif itu, yang kadang-kadang disebut sebagai Jalur Sutra Baru, terdiri dari jaringan infrastruktur transportasi terencana yang dibiayai oleh China, menghubungkan negara itu ke Eropa, Afrika, dan seluruh Asia.

Hampir 50 tahun setelah kepulangan Niccolò, Maffeo, dan Marco Polo dari China, wabah penyakit pes melintas melalui rute yang sama ke Barat, tempat penyakit itu dikenal sebagai Black Death. Dipercaya berasal dari China, penyakit itu menyebar melalui darat dan laut, dan mengikuti rute perdagangan ke Eropa dan Timur Tengah.

Kedua rute darat dan laut ini akhirnya bertemu di Italia, di mana wabah menewaskan hingga 75 persen dari populasi di beberapa daerah. Pedagang-pedagang Italia Utara yang terinternasionalisasi mungkin memainkan peran kunci dalam menularkan penyakit ini ke seluruh Eropa.

Sama seperti Black Death, virus corona sekarang telah membunuh lebih banyak orang di luar China daripada di dalam negeri. Negara-negara Eropa seperti Italia, Spanyol, Prancis, dan bahkan Swiss yang kaya, terbukti tidak mampu membendung virus itu.

Namun ketika virus corona merusak Barat, China telah berhasil memutarbalikkan narasi propaganda untuk keuntungannya sendiri. China telah mengirim masker, respirator, dan bahkan dokter spesialis ke negara Marco Polo, di saat mitra-mitra Uni Eropa Italia sebagian besar mengabaikan permintaan bantuannya.

Presiden China Xi Jinping bahkan menyarankan, bantuan itu dapat menjadi dasar bagi “jalur sutra kesehatan” yang menghubungkan Eropa dan China. Dia sepertinya lupa China telah mendeklarasikan jalur sutra kesehatan tiga tahun lalu pada konferensi Inisiatif Jalan dan Sabuk di Beijing.

Ketika Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte memimpin Italia masuk ke jaringan Inisiatif Sabuk dan Jalan China tahun lalu, ia mungkin mengharapkan gelombang investasi China yang akan meningkatkan ekonomi Italia yang sekarat.

Pada akhirnya, ia harus menghadapi impor yang tidak diharapkan dari China: COVID-19. Tidak ada yang tahu pasti dari mana COVID-19 berasal, tetapi penyakit ini tampaknya telah menyebar pertama kali dari pasar hewan di Wuhan, di mana hewan hidup disimpan dalam kondisi yang tidak bersih dan dijual untuk konsumsi manusia.

Lebih dari 700 tahun yang lalu, Marco Polo mengagumi pasar-pasar ini karena memiliki “pasokan yang lengkap dari setiap jenis daging.” Pasar ini telah memunculkan SARS pada 2002, penyakit pernapasan lain, seperti COVID-19, yang dikaitkan dengan kelelawar.

Bahaya yang ditimbulkan oleh pasar hewan hidup bukan satu-satunya pelajaran yang gagal dipelajari China dari epidemi SARS. Ketika China pertama kali mengidentifikasi SARS pada Januari 2003, mereka menutupi berita itu selama dua minggu. Tepat saat orang-orang mudik untuk merayakan Tahun Baru Imlek. China melakukan kesalahan yang sama 17 tahun kemudian.

Xi Jinping, kiri, bersama Giuseppe Conte di Roma, Italia pada 23 Maret 2020.
Foto: Bloomberg/Alessia Pierdomenico

Jadi dalam beberapa hal, menurut pendapat Salvatore Babones di Foreign Policy, COVID-19 benar-benar merupakan “virus China”, atau “virus Wuhan”. Bukan hanya karena kebetulan virus itu merebak di sana terlebih dulu.

Bisa dibilang, virus itu menyebar luas karena pemerintah China menolak untuk belajar dari pengalaman saat SARS. Virus mungkin merupakan kekuatan alam, tetapi epidemi virus corona jelas tampaknya buatan China, kata Babones.

Untuk membelokkan fakta-fakta ini, menurut Babones, Partai Komunis China telah sibuk berusaha mengubah pandemi virus corona menjadi keuntungan propagandanya. China tidak hanya menawarkan bantuan kepada negara-negara yang dilanda virus, tetapi juga menggembar-gemborkan keberhasilannya dalam mengendalikan epidemi sendiri.

Kementerian Luar Negeri China juga telah menampik retorika “virus China” Trump dengan menyatakan virus itu sebenarnya berasal dari Amerika Serikat, dibawa ke China oleh para atlet Angkatan Darat AS yang berpartisipasi dalam latihan militer di Wuhan pada Oktober 2019.

Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah serangan propaganda virus corona China akan membuahkan hasil. Propaganda China mungkin berhasil di negara-negara anti-Barat seperti Serbia dan Iran.

Namun, bahkan orang-orang Italia saat ini meragukan ketulusan bantuan China. Pandemi virus corona juga tampaknya telah mengubah opini publik terhadap China di banyak negara miskin di Afrika dan Asia Tenggara.

Negara-negara yang terkena pandemi virus corona tentu akan terus menerima tawaran masker dan respirator China, dan tidak diragukan lagi rakyat mereka akan berterima kasih atas bantuannya.

Meskipun demikian, begitu krisis berlalu, model sosial dan politik China yang lebih luas masih tidak menarik bagi semua kecuali beberapa elit dengan moral yang korup.

Negara polisi China yang berat tangan mungkin telah menaklukkan virus corona, tetapi hanya sedikit negara yang akan menganut aturan satu partai hanya untuk memastikan keselamatan mereka dalam pandemi di masa depan.

Pandemi ini telah membunuh lebih banyak orang di Amerika Serikat daripada di China, setidaknya menurut angka dari data resmi. Pandemi juga menewaskan lebih banyak orang di Eropa.

Pemerintah China hampir pasti akan mencoba menggunakan fakta-fakta ini untuk membujuk orang-orang tentang model pemerintahannya yang superior. Beberapa orang mungkin akan menelan mentah-mentah propaganda itu.

Yang lainnya akan berkiblat ke negara-negara seperti Jepang dan Taiwan sebagai bukti negara demokrasi dapat secara efektif mengelola kesehatan masyarakat melalui pemantauan proaktif dan tindakan pencegahan.

Jika Amerika Serikat dan Uni Eropa sekarang dalam krisis, itu karena mereka gagal bertindak tegas untuk membendung gelombang ketika mereka pertama kali tahu itu tahu akan datang. Namun, ini adalah kegagalan kebijakan, bukan kegagalan demokrasi.

Ketika tiba saatnya untuk mempelajari COVID-19, dunia akan memahami pandemi ini dimungkinkan oleh kebijakan yang buruk dan implementasi yang lebih buruk, bukan oleh kebebasan pribadi dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Perdagangan jalur sutra modern akan terus berlanjut seperti biasa, tetapi “jalur sutra kesehatan” China tidak akan menuju ke mana-mana. Warga dunia lebih mungkin untuk meminta nasihat kesehatan masyarakat pada demokrasi makmur Asia Timur daripada ke China.

Negara-negara demokrasi barat pada akhirnya mungkin akan kalah di perang propaganda virus corona, tetapi China jelas tidak akan memenangkannya.

Sumber: matamatapolitik.vom

Editor: tom.