HETANEWS

Matematika Ungkap Jumlah Maksimal Kumpulan Orang saat Pandemi Corona

Demonstran pro-demokrasi berbaris di Chater Garden selama aksi protes melawan rencana pemerintah Hong Kong melarang penggunaan masker wajah menggunakan aturan kolonial pada 4 Oktober 2019. Foto: AFP/Nicolas Asfouri

Hetanews.com - Pemerintah Indonesia menghimbau warga untuk melakukan physical distancing dan menghindari acara berkumpul selama pandemi Covid-19. Sebetulnya, semua jenis perkumpulan berisiko terhadap penularan Covid-19.

Namun, berapa jumlah orang yang bisa disebut sebagai agenda berkumpul? Studi baru dari aspek matematika dilakukan oleh sekelompok ilmuwan dari University of Vermont, AS.

Studi ini dilakukan bukan hanya sebagai pencegahan penyebaran virus SARS-CoV-2, namun sebagai upaya nyata dalam pemulihan di kemudian hari.

Penelitian ini dimuat dalam jurnal arXiv.org pada 12 Maret 2020. Para peneliti menggunakan rumus matematika untuk mengetahui jumlah orang yang bisa dianggap sebagai “berkumpul” selama masa pandemi Covid-19.

Model yang mereka ambil memasukkan konsep friendship paradox, yang menyebutkan bahwa teman Anda memiliki jaringan sosial yang lebih besar dibanding Anda sendiri.

Dengan konsep ini, adanya perkumpulan (berapapun jumlah orangnya) akan berdampak sangat buruk karena mungkin ada orang yang sudah terinfeksi.

Para peneliti menyimpulkan bahwa jika jumlah orangnya lebih dari 30 orang, hal itu akan sangat berdampak buruk terhadap penyebaran virus. Jika jumlah orangnya lebih dari 20, peneliti menganggap lebih masuk akal untuk memutus mata rantai.

Hasilnya, model matematika ini menyebutkan jumlah orang yang bisa dianggap sebagai “perkumpulan” adalah 23 orang.

“Namun kami yakin ada ambang atas dan ambang bawahnya,” tutur Laurent Hebert-Dufresne, ilmuwan komputer dari University of Vermont seperti dikutip dari Science News, Selasa (7/4/2020).

Meski perhitungannya menunjukkan angka 23, tidak menutup kemungkinan angkanya akan berkurang apabila pemerintah daerah masing-masing sadar penuh akan kemungkinan penyebaran virus yang masif.

“Jumlah perkumpulan orang yang berkurang menandakan kita harus lebih menggalakkan social distancing,” tutur Marc Lipstich, ahli epidemiologi di Harvard TH Chan School of Public Health di Boston.

Para peneliti juga menyimpulkan bahwa risiko transmisi antarmanusia bisa bertambah 10 kali lipat dari jumlah orang yang hadir dalam kelompok.

Sumber: kompas.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.