HETANEWS

Pantai Kosong dan Jalanan Sepi, Kondisi Bali Setelah Ditinggal Turis Asing

Wisata Tanah Lot di Bali. Foto: Unsplash/Harry Kessell

Jakarta, hetanews.com - Turunnya kedatangan turis internasional sampai 95 persen sangat mempengaruhi jutaan warga yang sudah lama tergantung dari industri pariwisata.

Mangku Nyoman Kandia sudah bekerja sebagai pemandu wisata sejak tahun 1984. Dia mengatakan tidak bisa menghitung lagi berapa turis dari seluruh dunia yang pernah dipandunya, namun situasi sekarang ini belum pernah ia alami sebelumnya.

"Tidak ada turis, tidak ada uang," katanya.

Tidak banyak tempat di dunia ini seperti Bali dimana hampir semua penduduknya menggantungkan diri dari industri pariwisata.

Seorang pengendara motor melewati Tugu Peringatan Bom Bali di Legian, daerah yang biasanya ramai dengan turis.
Foto: AP

Menurut data dari Badan Pariwisata Dunia di tahun 2018, sekitar 12 juta warga Indonesia menggantungkan diri pada sektor pariwisata, dengan mayoritas diantara mereka tinggal di Bali.

Pemerintah Indonesia sudah mengumumkan paket stimulus ekonomi bernilai lebih dari Rp 400 triliun guna membantu perekonomian. Serangkaian inisiatif guna memberi pelatihan bagi mereka yang terkena dampak COVID-19 sudah dilakukan di tiga kawasan, termasuk Bali.

Namun masih banyak yang tidak bisa mengikuti program tersebut, membuat mereka harus menggantungkan diri pada pemerintah daerah atau sanak keluarga untuk bisa bertahan.

Sam Huang, professor ekonomi dari Edith Cowan University di Australia Barat mengatakan memburuknya ekonomi di sektor pariwisata tidaklah terjadi di Bali saja.

"Bisnis pariwisata sekarang ini sangat mengalami kesulitan, karena banyaknya penutupan perbatasan oleh berbagai negara dengan pembatasan pergerakan dilakukan untuk menghentikan penyebaran virus corona," kata Professor Huang.

Dia mengatakan pendapatan dari turis yang datang ke Australia bisa turun 60-70 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

"Bagi negara dan kawasan yang betul-betul menggantungkan diri pada sektor pariwisata, berkurangnya pendapatan ini pasti lebih besar lagi."

Professor Huang menambahkan industri pariwisata baru dapat bangkit kembali setelah dua sampai empat bulan, setelah pandemi COVID-19 dinyatakan berakhir oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Pandemik ini memberikan pelajaran bagi kita untuk mempertimbangkan kembali proporsi yang tepat dari industri ini dalam bagian dari ekonomi sebuah negara atau kawasan."

Sumber: detik.com

Editor: tom.