HETANEWS

Kematian Melonjak, Warga Indonesia Wajib Pakai Masker

lustrasi orang mengenakan masker di tengah wabah corona Indonesia. Foto: Flipboard

Hetanews.com - “Masker bedah dan masker N95 hanya untuk pekerja medis. Silakan gunakan masker kain. Ini penting karena kita tidak tahu apakah banyak orang tanpa gejala ada di luar sana,” kata Achmad Yurianto.

Otoritas kesehatan Indonesia telah mewajibkan warga negara untuk memakai masker bedah atau masker kain ketika akan memulai kegiatan di luar. Ini menjadi langkah baru yang diputuskan demi membatasi penyebaran virus corona (COVID-19) yang telah membunuh hampir 200 orang, dan menginfeksi 2.300 orang di negara ini.

Direktur jenderal Departemen Kesehatan untuk pengendalian dan pencegahan penyakit, Dr Achmad Yurianto, mengatakan setiap orang harus memakai masker bedah atau masker kain ketika berada di luar mulai Minggu (5/4/2020). Ini sudah sejalan dengan rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Masker bedah dan masker N95 hanya untuk pekerja medis. Silakan gunakan masker kain. Ini penting karena kita tidak tahu apakah banyak orang tanpa gejala ada di luar sana,” katanya saat konferensi pers.

Indonesia melaporkan pada Minggu (5/4/2020) dengan 181 kasus anyar virus corona, maka jumlah total infeksi di negara ini menjadi 2.273.

Ada tujuh kematian lainnya dalam periode 24 jam, menjadikan jumlah kematian keseluruhan di negara terpadat keempat di dunia itu menjadi 198, tertinggi di Asia Tenggara. Jumlah pasien yang pulih naik 14 hingga 164, tulis The Straits Times.

“Dengan data ini, kami percaya penularan masih berlangsung di luar sana. Masih ada kasus tanpa gejala di antara kita. Beberapa dari kita masih tidak menyadari betapa rentannya terpapar infeksi,” ujar Yurianto menanggapi angka terbaru.

Pihak berwenang memperkirakan, antara 600.000 dan 700.000 orang di Indonesia berisiko terinfeksi virus ini. Pemerintah sedang memperluas pengujian berdasarkan hubungan perjalanan untuk mengurangi wabah tersebut. Sementara itu, Presiden Joko Widodo mengumumkan darurat kesehatan masyarakat pada 31 Maret 2020.

Pemerintah juga memperkenalkan langkah-langkah pembatasan sosial skala besar yang mencakup penutupan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, sosial dan budaya, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, trotoar, serta sarana transportasi.

Berdasarkan peraturan yang diteken Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto pada Jumat lalu, kota-kota dan daerah dapat menerapkan langkah-langkah jarak sosial skala besar dengan persetujuan menteri setiap kali jumlah infeksi dan kematian meningkat secara signifikan, dan ada hubungan epidemiologis dengan kejadian serupa di daerah atau negara lain, tulis The Straits Times.

Sementara pembatasan berlaku untuk banyak aspek kehidupan, pengoperasian layanan penting, seperti supermarket, apotek, dan tempat pengisian bensin tetap diizinkan buka.

Dr Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi di Universitas Indonesia, memperkirakan dengan langkah-langkah physical distancing yang saat ini sedang dilaksanakan, akan ada 1,25 juta hingga 1,75 juta infeksi di Indonesia, dengan 47.984 hingga 144.266 kematian. Wabah ini diperkirakan akan memuncak pada akhir Mei atau awal Juni, katanya.

Berbicara pada konferensi pers yang sama dengan Dr Yurianto, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi mengatakan, langkah-langkah jarak sosial skala besar berusaha untuk memutuskan rantai infeksi.

Dia menambahkan, tindakan karantina akan diberlakukan untuk kasus yang dicurigai selama 14 hari masa inkubasi virus, dan akan diperpanjang jika transmisi masih terjadi.

“Indikator keberhasilan langkah-langkah jarak sosial skala besar adalah penurunan jumlah kasus dan tidak adanya transmisi ke daerah atau wilayah baru,” katanya.

Pakar kesehatan masyarakat dan pemimpin daerah juga menyerukan pemerintah nasional untuk melarang bepergian besar-besaran dari kota-kota Indonesia, yang dikenal sebagai “mudik”, untuk Idul Fitri.

Pasalnya, mereka khawatir jutaan orang dari Jakarta, yang sekarang menjadi pusat penyebaran, akan menyebarkan penyakit ke kampung halaman mereka di seluruh Indonesia.

Jakarta sejauh ini merupakan daerah yang paling parah dilanda epidemi, dengan jumlah kematian di kota itu mencapai 95 orang, dan 1.124 infeksi. Itu belum termasuk data tak resmi yang terjadi di lapangan, mengingat jumlah pemakaman bulan lalu tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Sekitar setengah dari infeksi baru yang diumumkan pada Minggu, 96 di antaranya berada di kota yang lebih dari 10 juta penduduk itu. Namun, Presiden Jokowi menolak permintaan untuk lockdown dan mudik, tapi memerintahkan pemerintah daerah untuk memantau pembawa virus potensial.

Pemerintah sedang menguraikan peraturan yang akan memungkinkan angkutan umum serta kendaraan pribadi untuk menerapkan langkah-langkah jarak sosial selama bepergian, tutur Ridwan Djamaluddin, Wakil Infrastruktur dan Transportasi di Kementerian Koordinator untuk Urusan Maritim dan Investasi.

Operator angkutan umum, misalnya, diharapkan untuk menaikkan biaya tiket dan membatasi jumlah penumpang dalam perjalanan. Insentif ekonomi bagi mereka yang memilih untuk tidak kembali ke kota asal mereka sedang dipersiapkan, tambah Ridwan.

Sementara itu, pemerintah Filipina mengatakan sedang mempertimbangkan perpanjangan penutupan di pulau utama Luzon selama dua minggu. Lockdown saat ini akan berakhir pada 12 April 2020.

Negara itu melaporkan 152 kasus baru pada Minggu (5/3/2020), menjadikan jumlah infeksi di negaranya menjadi 3.246. Ada juga delapan kematian lagi, yang menambah jumlah korban menjadi 152, tulis The Straits Times.

Thailand melaporkan lebih dari 102 kasus infeksi virus corona pada hari yang sama, menjadikan jumlah total di negara itu menjadi 2.169 kasus. Korban tewas meningkat tiga menjadi 23, dengan pria Thailand berusia 46 tahun di antara para korban yang telah kembali dari Inggris.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.