HETANEWS

Irak Bersumpah Akan Serang Pasukan Amerika

Tentara Irak berbaris selama latihan seremonial militer menandai peringatan pertama kemenangan Irak atas Negara Islam. Foto: DPS/Ameer Al Mohammedaw

Hetanews.com - Sejumlah faksi Irak yang memihak Iran mengeluarkan pernyataan bersama, beberapa hari setelah Komandan Pasukan Qud baru Iran Esmail Ghaani mengunjungi Baghdad.

Ia mengungkapkan kegagalannya dalam menyatukan jajaran pasukan Syiah di Irak, ketika mereka terus bertengkar tentang pembentukan pemerintahan baru dan penunjukan Zurfi.

Delapan faksi yang memihak Iran di Irak berjanji untuk menyerang Amerika dalam tempo secepatnya. Faksi-faksi itu juga menuduh Perdana Menteri yang baru diangkat, Adnan al-Zurfi berkolusi dengan Washington.

Dilansir dari Aawsat, mereka mengeluarkan pernyataan bersama beberapa hari setelah Komandan Pasukan Qud baru Iran Esmail Ghaani mengunjungi Baghdad.

Ia mengungkapkan kegagalannya dalam menyatukan jajaran pasukan Syiah di Irak, ketika mereka terus bertengkar tentang pembentukan pemerintahan baru dan penunjukan Zurfi.

Menurut pernyataan itu, faksi yang berdiskusi termasuk Asaib Ahl al-Haq, Liwaa Imam Ali, dan Gerakan Harakat Al-Nujaba lantas kompak berjanji untuk menyerang pasukan Amerika Serikat di Irak. Mereka juga ramai-ramai mengutuk Zurfi.

“Setelah menolak untuk mengindahkan keputusan rakyat Irak dan parlemen untuk menarik pasukan Anda (Amerika Serikat) dan melanjutkan agresi terhadap kedaulatan Irak, jelas Anda (AS) adalah kekuatan pendudukan yang hanya menanggapi kekuatan semata,” kata pernyataan itu.

Ia menambahkan, “ancaman Amerika baru-baru ini untuk menargetkan faksi-faksi perlawanan dan para pemimpin hanyalah upaya untuk menutupi kekalahan.”

Faksi-faksi meminta anggota parlemen untuk menahan kepercayaan dari Zurfi, memaksanya untuk mundur demi menggagalkan “konspirasi.”

“Kami menyatakan sikap teguh dan berprinsip, kami menolak penunjukkan kandidat intelijen AS (disebut) Adnan al-Zurfi. Pun, kami memperingatkan Presiden Irak, dengan pencalonannya atas orang ini, ia melanggar kehendak demonstran publik dan arahan dari para demonstran.

Bagaimana mungkin otoritas keagamaan menghadirkan calon kontroversial yang dituduh melakukan korupsi,” kata pernyataan itu lagi. Faksi-faksi Irak seperti Asaib Ahl Al-Haq dan Kataib Hezbollah, diketahui telah menargetkan pasukan Amerika Serikat di Irak, mendorong yang terakhir untuk melakukan serangan balasan terhadap mereka.

Perselisihan yang melibatkan tiga negara, yakni Amerika, Irak, dan Iran tak kunjung reda. Setelah Amerika membunuh Qasem Soleimani, lalu disambut dengan serangan pada pangkalan militer Paman Sam.

Pada Maret 2020 lalu, dilaporkan Amerika juga telah mengerahkan sistem pertahanan udara Patriot mereka ke Irak usai laporan mengindikasikan, “eskalasi besar” akan terjadi di dalam negeri.

Serangan roketmenghantam pangkalan militer Amerika Serikat di Irak. Militer AS mengonfirmasi dua tentaranya tewas dalam serangan pada 11 Maret 2020 waktu setempat.

Mengutip para pejabat AS, Kamis (12/3/2020), dua tentara dan satu pasukan Inggris tewas dalam serangan roket di Kamp Taji, utara Baghdad, Irak, sedang 12 lainnya mengalami luka-luka.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat mengonfirmasi jumlah korban. Mereka juga menambahkan, ada sekitar 18 roket yang menghantam pangkalan tersebut.

Pernyataan itu juga menyebutkan Pasukan Keamanan Irak menemukan sebuah truk berisi roket beberapa mil dari Kamp Taji. Serangan mematikan tersebut menambah jumlah tentara AS yang tewas di Irak menjadi empat orang dalam empat hari.

Dua marinir AS tewas pada 8 Maret 2020 lalu dalam sebuah misi untuk melenyapkan benteng kelompok teroris ISIS di kawasan pegunungan Irak utara-tengah.

Lebih dari 5.000 tentara AS telah dikerahkan di Irak untuk mendukung pasukan Irak dalam pertempuran melawan gerilyawan ISIS, terutama dalam memberikan pelatihan dan saran.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.