HETANEWS

Corona dari Mata Petugas Jenazah dan Tukang Peti Mati

Harahap, salah satu tukang peti mati di daerah Medan. Foto: Al Jazeera

Hetanews.com - Indonesia memiliki salah satu tingkat kematian COVID-19 tertinggi di dunia, tapi belum ada tindakan progresif pemerintah sejauh ini.

Pada 1 April 2020, Rajiman Sormin secara resmi pensiun setelah dua belas tahun bekerja di Rumah Sakit Umum Adam Malik, Medan.

Pensiun adalah masa yang paling ia nanti, setelah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk memandikan, membalsem, dan mendandani orang mati. Dia telah berencana untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya.

“Jika saya diminta untuk kembali, saya bersedia,” katanya kepada Al Jazeera.

“Jika dokter membutuhkan saya, tentu saya akan membantu mereka. Jika saya harus mati, saya akan mati. Tuhan akan memutuskan. Mengapa harus takut?”

Indonesia sekarang memiliki salah satu tingkat kematian COVID-19 tertinggi di dunia, yaitu sekitar 9 persen, menurut Badan Mitigasi Bencana Indonesia (BNPB), sedikit lebih rendah dari Italia.

Pada Rabu, (1/3/2020) Juru bicara Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengatakan, 170 orang telah meninggal karena virus sejak 2 Maret, dan 1.790 dinyatakan positif menderita penyakit itu. Ada kekhawatiran jumlahnya bisa jauh lebih tinggi karena statistik provinsi sering bertentangan dengan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat.

Pekerja Di Garda Depan

Di antara yang tewas adalah beberapa dari mereka yang berada di garis depan, termasuk dua direktur rumah sakit dan 12 dokter, menurut Asosiasi Medis Indonesia (IDI). Salah satu dokter itu adalah Ucok Martin dari Medan, teman dan kolega Sormin.

“Dia sangat ramah. Dia selalu membantu pasien dan keluarga jika mereka tidak mampu membayar pengobatan. Beberapa hari lalu, dia menawarkan untuk mentraktir saya makan siang dan mendorong saya untuk memesan lebih banyak makanan buat dibawa pulang. Dia tahu saya tidak menghasilkan banyak uang sebagai seorang petugas mayat.”

Dalam putaran nasib yang kejam, Martin adalah seorang dokter paru-paru. Tidak jelas di mana dia terpapar COVID-19, karena dia baru saja kembali dari perjalanan ke Yerusalem, dengan koneksi melalui Malaysia. Dia baru saja kembali bekerja di Rumah Sakit Umum Adam Malik sebelum jatuh sakit.

“Awalnya dia melakukan rontgen. Beberapa hari kemudian, seluruh hasil rontgen paru-paru berwarna putih. Paru-parunya telah diambil alih oleh virus. Itu tidak adil. Dia menyelamatkan begitu banyak orang yang sakit paru-paru, tapi penyakit serupa yang justru membunuhnya.”

Para petugas medis yang sudah pensiun termasuk petugas jenazah bersiap untuk dipanggil lagi sewaktu-waktu jika jumlah mayat karena corona meningkat tajam.
Foto: Al Jazeera

Pertanyaan kritis pun pada akhirnya terlontar, berkaitan dengan bagaimana menjaga pekerja garis depan tetap aman di Indonesia. Sementara, kondisi hari-hari ini, petugas medis kekurangan alat pelindung diri (APD), sehingga mereka harus berimprovisasi dengan jas hujan plastik dan memakai ulang hazmat sekali pakai.

“Indonesia tidak serius mengambil langkah-langkah transparan dan efektif guna menangani pandemi ini,” kata Usman Hamid, Direktur Amnesty Indonesia.

“Jika ini dibiarkan berlanjut, jumlah kematian pasien dan staf medis akan terus meningkat. Ini bisa menjadi krisis kemanusiaan, terutama untuk sektor kesehatan.”

Sementara Sormin siap untuk kembali bekerja jika diperlukan, dia juga menunjukkan tugasnya akan memerlukan pelatihan ulang mengingat keadaan luar biasa saat ini.

“Proses untuk mempersiapkan mayat berbeda sekarang,” jelasnya.

Diketahui, Indonesia telah memerintahkan semua korban yang dicurigai atau dikonfirmasi sebagai pasien COVID-19 untuk dimakamkan dalam waktu empat jam setelah kematian mereka. Mayat-mayat itu dibalut dengan tiga lapis terpal plastik dan kemudian dibungkus dalam kantong mayat plastik.

Keluarga tidak diizinkan untuk melihat orang yang mereka cintai atau membuka kantong mayat kapan saja sebelum penguburan. Anggota keluarga yang meninggal juga akan ditempatkan di peti mati kayu tambahan yang disediakan oleh rumah sakit.

"Kita Tidur Selagi Bisa"

Akibatnya, panti pemakaman Medan mengalami penurunan dalam bisnis. Mohammad Khairul Harahap, yang bekerja sebagai pembuat peti mati, mengatakan kepada Al Jazeera.

Mereka biasanya menjual 60 peti mati sebulan, tetapi sekarang jumlah itu menurun secara dramatis ketika rumah sakit umum bersikeras, pasien suspek atau yang terkonfirmasi corona dikuburkan di peti mati yang disediakan di rumah sakit.

Namun, imbuhnya, dia menerima pesanan peti mati dari sejumlah keluarga orang yang telah meninggal di rumah sakit swasta di kota dan belum dinyatakan positif COVID-19, meskipun memiliki semua gejala terkait.

“Satu peti mati yang kami jual adalah untuk pasien corona yang diduga turis. Dia sangat tinggi, sehingga kita harus membuat peti mati besar khusus untuknya.”

Harahap mengatakan, panti pemakaman tahu ketika almarhum adalah pasien COVID-19, karena tubuhnya akan dibungkus plastik. Meski tanpa tes corona, mereka yang dicurigai menderita corona akan tetap dibungkus plastik.

Ini serupa di tempat lain di negara ini, termasuk di ibu kota, Jakarta, di mana gubernur Anies Basewdan mengatakan kepada media pada 30 Maret 2020,  283 orang telah dimakamkan sesuai dengan ketentuan virus corona. Bahkan ketika BNPB menetapkan jumlah korban jiwa untuk seluruh negara pada 170 orang pada 2 April 2020.

Sementara bisnis mungkin lambat saat ini, Harahap mengatakan dia sedang bersiap untuk peningkatan permintaan yang tak terhindarkan karena jumlah kematian naik dan Rumah Sakit Umum Adam Malik kehabisan peti mati.

Dengan demikian, ruang duka telah meningkatkan produksi peti mati, yang terbuat dari durian dan kayu nangka yang dipernis. Itu tengah ditumpuk di bagian atas ruang duka.

“Pada saat ini, sangat sepi (pesanan), sehingga kita sering tidur siang di peti mati karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Kita tidur selagi bisa, karena itu semua akan segera berubah.”

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.