HETANEWS

Di tengah pandemi Virus Corona, tempat ini membuat kita mengajukan pertanyaan terpenting dalam Hidup

Hetanews.com - Para pengunjung Antartika kerap terkagum dan merasa diri mereka kecil oleh ukuran benua itu dan iklimnya yang ekstrem.

Benua itu juga membuat wartawan BBC Justin Rowlatt merenungkan soal kemampuan manusia untuk memecahkan persoalan bersama mereka dan berharap akan masa depan.

Kami berangkat dari gletser We dekat McMurdo, pangkalan riset AS di Antartika, menuju ke pusat Hamparan Es Antartika Barat.

Sesudah satu jam terbang, yang terlihat dari lubang jendela kecil berbentuk bulat adalah hamparan es sepanjang cakrawala.

Satu jam kemudian… masih sama.

Jam berikutnya. Tiada perubahan …

Terbayang, kan? Kami akhirnya mendarat sesudah tiga setengah jam di udara.

Habitat manusia terdekat - lokasi tempat berangkat kami tadi - sama dengan jarak Moskow ke London (atau Sabang ke Lombok, sekitar 2.800 kilometer) dan hanya ada lapisan es tipis di sepanjang jalan.

Cuma ada lapisan es sebesar itu di benua ini, sehingga sulit tak merenungkan betapa manusia tak penting dalam situasi demikian.

"Membuat dirimu merasa benar-benar kecil," adalah kata-kata semua orang yang pernah ke sana.

Namun jika menggali lebih jauh, kebanyakan orang tak merasa terancam; Antartika membuat kita merasa kecil. Faktanya, banyak orang merasa menemukan sesuatu yang membuat mereka lebih yakin karena melihat sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih kuat daripada diri mereka.

Gabrielle Walker, penulis buku tentang Antartika, menulis tentang hal ini. Kita suka berpikir bahwa diri kita penting, katanya.

Namun perasaan ini membawa tanggung jawab tertentu: jika dirimu penting, kamu perlu buktikan.

"Di sini kita tak perlu membuktikan apa-apa. Cuma bisa pasrah," kata Gabrielle.

Kita tak bisa merasa penting di tempat maha luas ini. Dan jika kita tak penting, hal-hal lain terasa jauh lebih sederhana.

Antartika memberi kita kebebasan untuk menanyakan pertanyaan yang benar-benar berarti bagi kita, kata Gabrielle.

Apa yang penting bagi saya?

Apa yang harus saya lakukan dengan hidup saya?

Apa yang sungguh-sungguh saya rindukan selagi saya di sini, dan kenapa?

Dan siapa yang merindukan saya?

Banyak orang yang mungkin bertanya hal serupa saat sedang termenung di rumah mengkarantina diri di tengah ancaman virus corona ini. Namun ketika saya akhirnya tiba di hadapan gletser yang sedang dipelajari oleh ilmuwan yang bersama saya ini, perasaan tak penting itu buyar.

Rasanya, saya seperti mencapai garis depan perubahan iklim: tempat di masa keseimbangan yang menahan dunia kita selama puluhan ribu tahun mulai tergelincir jatuh.

Mustahil untuk luput pada kekuatan raksasa yang sedang bekerja di sini. Bagaikan jeritan marah yang terperangkap dalam satu bingkai foto. Glester ini sedang terkoyak dan pecah.

Di sini es yang tingginya satu mil sedang runtuh ke laut sejauh tiga mil per tahun di garis sepanjang 100 mil, proses ini terus semakin cepat. Percepatan ini - yang mempengaruhi seluruh lapisan es Antartika Barat - adalah hasil dari pemanasan global yang dihasilkan oleh gaya hidup kita.

Gambaran ini menciptakan kesan bahwa es di sini membuat kita kewalahan. Padahal yang terjadi sebaliknya, kita yang membuat es kewalahan.

Saya kaget betapa saya tergerak oleh apa yang saya lihat. Seorang rekan mewawancara saya untuk sebuah program, dan tangis saya meledak. Perlu beberapa hari bagi saya untuk memahami emosi saya.

Saya berpikir tentang orang-orang yang membuat ekspedisi saya berhasil: pilot dan awak pesawat, orang-orang yang berada di pusat riset, orang-orang yang mengendarai truk di sana sembari membereskan landasan es.

Kita tak akan ada di sini tanpa mereka. Juga orang-orang yang setuju pada proyek ini dan mendanainya. Juga para pembayar pajak, atau para pengumpul dana. Bahkan juga istri dan anak saya di rumah.

Tim kecil kami hanya bisa menjangkau garis terdepan gletser ini berkat upaya raksasa manusia. Hanya dengan bekerja bersama sebagai komunitas kita bisa menjangkau tempat terpencil begini.

Dan hanya dengan ke tempat seperti ini kita bisa mengerti apa yang sedang terjadi di dunia kita dan apa artinya itu bagi kita semua.

Dan, tentu saja, dengan kerja bersama sebagai satu komunitas juga yang akan bisa membuat kita memangkas emisi yang menyebabkan pemanasan global.

Saya terbang kembali ke pusat riset di McMurdo ketika saya merasakan sesuatu yang lama tak saya rasakan: harapan.

Terkadang keserakahan, kekerasan dan konflik yang merupakan ciri utama kemanusiaan, tapi itu keliru. Ciri utama manusia sepanjang sejarahnya adalah kemampuan kita untuk bekerja sama.

Sumber: bbc.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.