HETANEWS

Presiden PKS ke Jokowi: Jangan Dengar Penjilat dan ABS

Presiden PKS, Mohamad Sohibul Iman.

Jakarta, hetanews.com - Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman meminta Presiden Joko Widodo mengabaikan bisikan pembantunya yang memiliki kepentingan bisnis atau ambisi politik dalam menangani penyebaran virus corona (Covid-19). Permintaan itu disampaikan Sohibul dalam surat terbukanya untuk Jokowi, Jumat (3/4).

Menurutnya, Jokowi juga tidak boleh mendengarkan masukan dari orang-orang yang hanya mau menjilat dan bersikap 'asal bapak senang'.

"Jangan dengarkan orang-orang di sekitar Bapak yang hanya mau menjilat Bapak dan bersikap asal Bapak senang! Jangan dengarkan pandangan dan bisikan para pembantu Bapak yang punya kepentingan bisnis atau ambisi politik," kata Sohibul dalam surat terbukanya, Jumat (3/4).

Dalam penanganan penyebaran virus corona, Sohibul melanjutkan, Jokowi juga tidak boleh hanya mendengarkan suara para pemodal besar yang punya kepentingan mengejar keuntungan investasi semata. Menurutnya, Jokowi tidak boleh salah dalam memilih penasihat dalam penanganan penyebaran virus corona.

Sohibul mengingatkan bahwa Jokowi mempertaruhkan nasib seluruh masyarakat Indonesia dalam setiap kebijakan yang diputuskan.

"Jangan salah pilih penasihat di lingkaran Bapak, salah ambil kebijakan nasib 260 juta warga RI dipertaruhkan," tutur mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Sohibul berkata, Indonesia harus memiliki kesamaan pandangan dalam menyikapi penyebaran virus corona, yakni mengutamakan keselamatan masyarakat dibandingkan hal lain seperti kepentingan ekonomi.

Dia mengklaim hal ini sejalan dengan pendapat sejumlah ahli bahwa perekonomian akan pulih lebih cepat bila negara mampu merespons penyebaran virus corona secara tepat serta tepat.

Hal sebaliknya justru akan terjadi. Menurutnya, ekonomi akan sulit untuk dipulihkan bila negara tidak cakap dan akurat dalam menangani penyebaran virus corona.

"Jika kita semakin cepat dan tepat meresponsnya, maka semakin cepat ekonomi akan pulih. Dan sebaliknya, jika kita semakin lambat dan tidak akurat dalam menanganinya maka ekonomi juga akan semakin lambat pulihnya," ucap Sohibul. 

Dia menerangkan bahwa akar masalah dari ekonomi saat ini adalah krisis pandemi virus corona. Menurutnya, ancaman krisis ekonomi hanya bagian dari akibatnya.

Jika diibaratkan, lanjut Sohibul, apabila ancaman krisis ekonomi adalah asap kabut yang menutupi pandangan manusia maka solusinya bukan menghilangkan asap kabut, melainkan memadamkan apinya terlebih dahulu.

Berikutnya, Sohibul meminta Jokowi memiliki pandangan yang sama bahwa ekonomi nasional dan global akan pulih kembali cepat atau lambat, sementara nyawa masyarakat adan tenaga medis yang meninggal dunia akibat virus corona tidak akan bisa dikembalikan.

Dia pun mengingatkan bahwa setiap warga yang diumumkan oleh pemerintah meninggal dunia akibat virus corona bukan sebatas angka statistik. Sohibul berkata setiap masyarakat Indonesia yang meninggal akibat virus corona adalah saudara yang memiliki keluarga.

"Bayangkan jika itu terjadi kepada diri kita, keluarga kita, kerabat kita dan sahabat kita," ujarnya.

Sohibul menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh beranggapan bahwa setiap warga negara yang meninggal dan yang terinfeksi virus corona sebagai biaya dari krisis, apalagi menganggap hal itu sebagai biaya dari pemulihan ekonomi.

Sohibul menyatakan bahwa hal yang sangat penting untuk dilakukan Jokowi saat ini adalah mendengarkan nasihat kebijakan dari orang atau pihak yang tepat, seperti para ahli kesehatan masyarakat, ilmuwan, ahli epidemiologi, tenaga medis, hingga dokter dan perawat yang berjuang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan nyawa masyarakat Indonesia.

"Sekali lagi, mereka lah yang berjuang dengan segenap jiwa dan raga tanpa memiliki kepentingan politik dan bisnis! Dengarkan pandangan tulus mereka Pak!" ujar Sohibul.

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.