Simalungun, hetanews.com- Pemkab Simalungun belum dapat memastikan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) yang meninggal saat dirawat RSUD Perdagangan, Simalungun berinisial HP (66) pada Kamis, 2 April 2020, positif atau negatif Covid-19.

Dalam konferensi pers kepada sejumlah media, Bupati JR Saragih didampingi oleh Dandim 0207 Simalungun, Kapolres Simalungun dan Kadis Kesehatan dr Lidya, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil laboratorium. Dari hasil rapid tes (tes cepat) pasien negatif corona.

"Pada saat itu hasil labnya ini, kita belum punya swab tes (alat tes Covid-19) jadi kita belum bisa mengirim hasilnya ke Depkes, jadi tidak sempat kita kirim. kita sudah pesan dan dua minggu ke depan baru datang, jadi kita tidak bisa mengatakan apakah dia positif," ujarnya.

Bupati juga mengatakan meninggalnya korban, pada hari ke delapan, sejak dirawatnya di RSUD Perdagangan, sehingga tim medis tetap menetapkan HP berstatus PDP.

Selanjutnya Bupati menerangkan bahwa saat ini Orang Dalam Pantauan (ODP) di Simalungun sebanyak 60 orang. 855 orang ODP tanpa gejala yang mana meraka memiliki riwayat  baru pulang dari sejumlah daerah seperti; Pekan Baru, Malaysia dan dari daerah lain yang dikhawatirkan berasal dari daerah yang terjangkiti Covid-19. 

"Delapan hari di rumah sakit dia meninggal sementara WHO mengatakan selama 14 hari baru bisa dipantau, berartikan masih dalam perjalanan, jadi dokter spesialis tetap menetapkan dia PDP jadi dia meninggal karena PDP," kata Bupati lagi.

Pasca meninggalnya pasien PDP warga Nagori Bangun Panei, Kecamatan Dolok Masagal Kabupaten Simalungun pihaknya semakin melakukan pengawasan ketat di nagori tersebut.

"Saya sudah keluarkan surat pemberitahuan, supaya semakin diawasin sampai 14 hari ke depan oleh tim kesehatan, perangkat desa maupun Kodim dan Polres Simalungun untuk lebih memperketat pengawasan namun bukan berarti mengisolir mereka," akhirnya.