HETANEWS

Data Pemerintah Disorot: Jumlah Positif Corona Sama dengan Jumlah yang Dites

Ilustrasi Tes virus Corona. Foto: Shutterstock

Jakarta, hetanews.com - Apakah ini kebetulan belaka? Bila benar, maka kebetulan ini terjadi 3 kali. Jumlah kasus baru positif virus Corona sama dengan jumlah orang yang dites per hari (jumlah spesimen baru). Ini terjadi pada tanggal 24, 31, dan 1 April 2020.

Data ini dihimpun detikcom dari situs-situs resmi pemerintah, yakni situs Infeksi Emerging Kementerian Kesehatan dan situs Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, diakses pada Rabu (1/3/2020). Silakan simak komparasi data berikut ini, persamaan jumlah ada pada tanggal 24, 31, dan 1 April 2020:

Kasus Baru Positif COVID-19

24 Maret 2020: 107 kasus baru/106 kasus baru*
25 Maret 2020: 105 kasus baru
26 Maret 2020: 103 kasus baru
27 Maret 2020: 153 kasus baru
28 Maret 2020: 109 kasus baru
29 Maret 2020: 130 kasus baru
30 Maret 2020: 129 kasus baru
31 Maret 2020: 114 kasus baru
1 April 2020: 149 kasus baru

Jumlah Spesimen Baru/Orang yang Dites COVID-19

24 Maret 2020: 107 spesimen baru/576 spesimen baru**
25 Maret 2020: 959 spesimen baru/510 spesimen baru**
26 Maret 2020: 514 spesimen baru
27 Maret 2020: 1.439 spesimen baru
28 Maret 2020: 491 spesimen baru
29 Maret 2020: 268 spesimen baru
30 Maret 2020: 129 spesimen baru
31 Maret 2020: 114 spesimen baru
1 April 2020: data belum disediakan Kemenkes

Bila melihat jumlah yang diberi tanda bintang, maka itu akan terlihat membingungkan. Ini karena terjadi perubahan angka seiring waktu. Pertama, pada kasus baru positif COVID-19, tanda bintang ada pada 24 Maret 2020. Pada tanggal itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto (Yuri) mengumumkan ada 107 kasus baru positif Corona.

Namun bila menengok ke situs Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 saat ini juga, angkanya sudah berubah menjadi 106 kasus baru positif COVID-19 untuk tanggal 24 Maret 2020.

Kedua, pada jumlah spesimen/orang yang dites COVID-19, tanda bintang ada pada 24 Maret 2020. Penghitungan jumlah spesimen baru per hari perlu dilakukan mandiri karena Kementerian Kesehatan RI tidak menampilkan data jumlah spesimen baru per harinya, hingga berita ini diturunkan.

Situs Kemenkes hanya menampilkan jumlah total spesimen, diperbaharui per hari. Maka untuk mengetahui jumlah spesimen baru per hari, jumlah total hari terbaru dikurangi dengan jumlah total sehari sebelumnya.

Pada 24 Maret 2020, Kemenkes sempat memunculkan jumlah orang yang diperiksa sebanyak 2.863 orang. Namun belakangan, angka 2.863 diubah menjadi 3.332 orang.

Angka 2.863 masih ada di situs Dinas Kesehatan Kota Padang sampai saat ini. Adapun jumlah orang yang diperiksa pada 25 Maret adalah 3.822 orang.

Karena angka orang yang diperiksa pada tanggal 24 Maret ada dua versi, maka penulis mencantumkan dua versi angka pula. Versi awal jumlah spesimen baru tanggal 24 Maret sama persis dengan jumlah kasus baru positif COVID-19 tanggal 24 Maret 2020.

Kesamaan data ini sempat disorot oleh James Massola, jurnalis The Sydney Morning Herald yang menulis 'Indonesia cases surge as south-east Asia braces'. Lewat akun Twitter-nya pada 24 Maret 2020, dia mempertanyakan kebenaran data yang disajikan pemerintahan Presiden Jokowi.

"Apakah Jokowi menyampaikan yang sebenarnya tentang virus Corona? Pada Selasa (24/3/2020), Kementerian Kesehatan melaporkan 2863 tes - naik 107 orang (yang dites). Angka positif (COVID-19) naik 107 juga. Ini mustahil secara statistik.

Jumlah 4000 rapid tes nampak tidak dilaporkan," cuit James Massola. Pemerintah belum memberikan jawaban atas sorotan terhadap data di atas.

Terlepas dari sorotan itu, kesamaan persis antara jumlah kasus baru positif COVID-19 dengan jumlah spesimen/orang yang dites COVID-19 terjadi lagi pada 30 Maret dan 31 Maret 2020.

Pada 30 Maret 2020, jumlah kasus baru positif COVID-19 dengan jumlah spesimen/orang yang dites COVID-19 sama-sama menunjukkan angka 129. Pada 31 Maret 2020, jumlah kasus baru positif COVID-19 dengan jumlah spesimen/orang yang dites COVID-19 sama-sama menunjukkan angka 114.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto (Yuri). Yang bersangkutan mempersilakan detikcom untuk menanyakan mengenai angka-angka tersebut kepada Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Balitbangkes Kemenkes).

"Kamu tanya Balitbangkes," kata Yuri.

Apakah angka-angka itu muncul sebagai kebetulan yang terjadi tiga kali?

Sumber: detik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.