HETANEWS

Virus Corona dan Islam: Ulama Pakistan Tolak Tutup Masjid

Ilustrasi Masjid Faisal di kaki bukit Margalla Hills di Islamabad, Pakistan. Foto: Getty Images/Anadolu Agency/Muhammed Semih Ugurlu

Hetanews.com - Sementara para ulama Islam di Pakistan menolak untuk menutup masjid, Perdana Menteri Imran Khan terus meremehkan ancaman virus corona di negaranya. Mungkinkah ini menjadi “resep untuk bencana” di Pakistan?

Pekan lalu, Presiden Pakistan Arif Alvi bersama gubernur-gubernur provinsi mengadakan pertemuan dengan ulama Sunni dan Syiah untuk meyakinkan mereka agar menutup masjid di seluruh negeri. Himbauan itu muncul di tengah meningkatnya kasus COVID-19 di negara itu. Namun, para ulama menolak permintaan itu.

“Kita tidak bisa menutup masjid … Itu tidak mungkin kita lakukan dalam keadaan apa pun di negara Islam ini,” kata Muneeb-bur-Rehman, salah satu ulama yang menghadiri pertemuan itu, dikutip dari DW.

Penolakan para ulama untuk menghindari salat berjemaah di masjid telah menimbulkan keraguan tentang tekad Pakistan untuk memerangi pandemi. Di Pakistan, COVID-19 telah menjangkit hampir 2.000 orang dan telah menewaskan sedikitnya 25 orang.

Sebelumnya pada Maret, ketika kasus virus corona di Pakistan relatif lebih rendah, pemerintah federal mengizinkan peziarah Syiah kembali ke negara itu dari Iran melalui provinsi Baluchistan.Para peziarah itu tidak dikarantina dengan ketat, yang menyebabkan lonjakan infeksi.

Pemerintah juga mengizinkan ribuan jamaah Sunni untuk mengadakan pertemuan Jamaah Tabligh (Tablighi Jamaat) di provinsi Pubjab. Banyak kasus COVID-19 baru muncul dari pertemuan massal itu.

Para ahli kesehatan mengatakan, langkah-langkah pemerintah tidak cukup tegas. Mereka khawatir jumlah kasus virus corona di negara Asia Selatan itu dapat meningkat secara eksponensial dalam beberapa minggu mendatang.

Otoritas Pakistan terus menenangkan para Islamis, menurut para aktivis masyarakat sipil, bahkan ketika negara itu menghadapi krisis kesehatan masyarakat yang memburuk.

Pembangkangan Ulama

Ilustrasi tabligh akbar yang diikuti Muslim se-Asia di tengah corona.
Foto: Antara

Banyak orang Pakistan menolak untuk salat di rumah mereka, menekankan agama lebih penting daripada yang lain.

“Saya salat Jumat di masjid. Lebih dari 300 orang hadir, seperti salat Jumat biasanya,” Muhammad Ashraf, pemilik kios di Islamabad, mengatakan kepada DW.

“Masjid adalah tempat yang aman. Saya tidak takut virus corona,” tegas Ashraf, menambahkan ia akan tetap menghadiri salat Jumat setiap minggu.

Banyak negara Islam telah menutup masjid dan melarang salat berjemaah setelah munculnya kasus virus corona. Arab Saudi bahkan menutup Masjidil Haram, situs paling suci di Islam, dan masjid-masjid lainnya demi membendung penyebaran COVID-19. Namun, bahkan contoh-contoh ini tidak membuat banyak orang Pakistan berubah pikiran.

“Pandemi menyebar karena dosa-dosa kita dan karena kita tidak mengikuti ajaran Islam,” tutur Ejaz Ashrafi, ulama senior dari partai Islamis Tehreek-i-Labaik (TLP), kepada DW.

Ashrafi memimpin salat Jumat di salah satu masjid di kota timur Lahore. “Orang-orang masih pergi ke pasar dan swalayan yang terus dibuka, namun negara hanya ingin menutup masjid. Kami akan terus salat di masjid,” katanya.

Fawad Chaudhary, menteri federal ilmu pengetahuan dan teknologi, menjelaskan kepada media virus corona menyebar di Pakistan “karena ketidaktahuan para ulama agama.” Pernyataan Chaudhary langsung menuai kecaman dari kelompok-kelompok Islam.

Kelompok HAM mengatakan pemerintah harus bertindak tegas terhadap ulama yang menentang perintahnya.

“Undang-undang dengan jelas menyatakan siapa pun yang dengan sengaja menyebarkan penyakit harus dipenjara atau didenda. Pemerintahan Perdana Menteri Imran Khan tampaknya sama sekali tidak berdaya,” tegas Osama Malik, ahli hukum yang berbasis di Islamabad, kepada DW.

Khas Enggan Berlakukan Lockdown

Pada Senin (30/3/2020), Perdana Menteri Khan mengumumkan negara itu tidak perlu memberlakukan lockdown sepenuhnya. Dia mengatakan pemerintahnya dapat menutup seluruh kota, tetapi ia memilih untuk tidak melakukannya.

Dia beralasan, setidaknya 25 persen dari populasi negara itu akan mati kelaparan jika ia menutup kota. Ketidaksukaan Khan sendiri terhadap lockdown telah membuat warganya berani meremehkan ancaman virus ke Pakistan, kata para ahli.

Pakar kesehatan menyatakan orang-orang yang tidak menganggap serius COVID-19 kurang tahu tentang penyakit ini. Berbeda dengan “strategi Khan,” kepala menteri provinsi memilih untuk memberlakukan lockdown.

CM Sindh Murad Ali Shah dari Pakistan People’s Party telah berhasil mengimplementasikannya untuk menahan penyebaran virus di provinsinya. Analis politik mengatakan, militer Pakistan telah membantu provinsi-provinsi memberlakukan lockdown sebagian.

Lockdown adalah satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran virus. Kasus-kasus ini diperkirakan akan meningkat dalam beberapa minggu mendatang jika pertemuan keagamaan tidak dilarang di seluruh negeri. Para ulama harus memahami keseriusan situasi,” jelas Dr. Qaisar Sajjad, sekretaris jenderal Asosiasi Medis Pakistan, kepada DW.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.