HETANEWS.COM

Jamaah Muslim Tablighi Dituduh India Sebarkan Virus Corona

Jamaat Muslim Tablighi di India dituding sebagai dalang yang membuat virus corona menyebar pesat. Foto: Economic Times

Hetanews.com - Salah satu klaster virus corona yang ditandai oleh pemerintah India, adalah kawasan Muslim di mana kelompok Jamaah Tabligh berpusat. Puluhan anggota kelompok itu dinyatakan positif terkena virus dan setidaknya tujuh orang meninggal.

Pemerintah India telah menutup markas kelompok misionaris Muslim Jamaah Tabligh (Tablighi Jamaat) dan memerintahkan penyelidikan atas tuduhan penyebaran virus corona di dalam kelompok itu.

Diduga, mereka telah menginfeksi puluhan orang dengan mengadakan pertemuan keagamaan. India telah mengkonfirmasi 1251 kasus COVID-19, 32 di antaranya telah meninggal.

Meski jumlahnya kecil dibandingkan dengan Amerika Serikat, Italia, dan China, pejabat kesehatan mengatakan India, negara dengan jumlah penduduk terbesar kedua di dunia, menghadapi lonjakan besar yang dapat membanjiri sistem kesehatan masyarakat yang lemah.

Salah satu klaster virus corona yang ditandai oleh pemerintah adalah kawasan Muslim di mana kelompok Jamaah Tabligh berpusat. Puluhan anggota kelompok itu dinyatakan positif terkena virus dan setidaknya tujuh orang meninggal.

Pihak berwenang mengatakan orang-orang terus mengunjungi markas pusat Jamaah Tabligh di New Delhi, baik dari bagian lain negara dan dari luar negeri. Kelompok itu juga tetap mengadakan sesi khotbah, meski pemerintah telah menghimbau sosial distancing (penjarakan sosial).

Ratusan orang terus berjejal di gedung markas kelompok hingga akhir pekan ketika pihak berwenang mulai menyuruh mereka keluar untuk dites. Lebih banyak bus tiba pada Selasa (31/3/2020) untuk membawa mereka ke pusat karantina di bagian lain kota.

“Sepertinya protokol social distancing dan karantina tidak dipraktikkan di sini,” kata pemerintah kota dalam sebuah pernyataan yang dikutip 9News.

“Penyelenggara melanggar protokol ini dan beberapa kasus pasien positif COVID-19 telah ditemukan … Kelalaian ini menyebabkan banyak nyawa telah terancam … Ini tidak lain adalah tindakan kriminal.”

Pihak berwenang berusaha melacak pergerakan anggota Jamaah Tabligh dan orang-orang yang kemungkinan melakukan kontak dengan anggota. Media menyebutkan, ada juga anggota Jamaah Tabligh dari Malaysia, Indonesia, Thailand, Nepal, Myanmar, Kyrgyzstan, dan Arab Saudi.

India, dengan populasi lebih dari 1,3 miliar, berada di bawah lockdown selama 21 hari yang akan berakhir pada pertengahan April untuk membendung penyebaran virus corona. Namun, puluhan ribu migran yang kehilangan pekerjaannya di ibu kota telah pulang ke pedesaan dan merusak upaya lockdown.

Musharraf Ali, salah satu administrator pusat Jamaah Tabligh di Delhi, mengatakan kelompok itu telah meminta bantuan polisi dan pemerintah kota untuk mencegah orang-orang yang berdatangan. Namun, lockdown telah mempersulit segalanya.

“Dalam keadaan yang memaksa seperti itu, tidak ada pilihan … selain untuk mengakomodasi pengunjung yang terdampar dengan tindakan pencegahan medis yang diperlukan, sampai situasi menjadi kondusif untuk memindahkan mereka,” menurut pernyataan Jamaah Tabligh yang dikutip 9News.

Jamaah Tabligh, salah satu gerakan misionaris terbesar di dunia, bulan lalu menjadi tuan rumah pertemuan di kompleks masjid di dekat Kuala Lumpur, Malaysia. Pertemuan itu telah menjadi sumber ratusan infeksi virus corona di seluruh Asia Tenggara.

Di Pakistan, kelompok itu membatalkan pertemuan di dekat kota Lahore bulan lalu, tetapi masih ada 1.100 orang yang tinggal di markas kelompok itu. Setidaknya 27 orang dinyatakan positif mengidap virus itu, kata Menteri Kesehatan Provinsi Punjab Pakistan Yasmin Rashid kepada Geo TV minggu ini.

Sebelumnya, pemerintah Pakistan mengizinkan ribuan jamaah Sunni untuk mengadakan pertemuan Jamaah Tabligh di provinsi Pubjab. Banyak kasus COVID-19 baru muncul dari pertemuan massal itu.

Para ahli kesehatan mengatakan, langkah-langkah pemerintah tidak cukup tegas. Mereka khawatir jumlah kasus virus corona di negara Asia Selatan itu dapat meningkat secara eksponensial dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.