HETANEWS

Isaac Newton, Karantina, dan Coronapreneur

Newton, Coronavirus, WFH. Foto: © Unsplash, Wikimedia Commons

Hetanews.com - Saat ini, frasa "social distancing" begitu menggema di benak setiap orang. Meskipun istilah ini tergolong baru, gagasan mengisolasi diri untuk menghindari wabah pandemi adalah sebuah konsep yang sudah begitu lama. Dan siapa sangka, di masa lalu, ketika karantina pandemik seperti ini terjadi, ada inventor-inventor besar yang justru lahir.

Salah satu yang sering dibicarakan orang adalah Sir Isaac Newton. Ketika itu, Isaac Newton baru berusia 20 tahun saat wabah 'The Great Plague' melanda London dan sebagian Inggris. Wabah ini sendiri berlangsung selama 1 tahun dan membunuh sekitar 100.000 orang, atau 20 persen penduduk London waktu itu.

Penyakit ini diidentifikasi sebagai penyakit pes, yaitu infeksi oleh bakteri Yersinia pestis, yang ditularkan melalui kutu di tikus. Penyakit ini telah datang di Eropa 300 tahun sebelumnya dan dikenal sebagai "The Black Death" dan kembali tiap 10 tahun.

Wabah Besar London merupakan wabah besar terakhir. Wabah tahun 1665 tersebut hanya dikenang sebagai "the great plague" karena merupakan salah satu wabah besar terakhir di Ingggris (sebelum Covid-19).

Sir Isaac Newton.
Foto: Comic Vine

Waktu itu, Newton hanyalah seorang mahasiswa di Trinity College Cambridge, London. Newton menerima gelar sarjana dari Trinity pada Januari 1665 tepat saat wabah turun ke London.

Universitas Cambridge ditutup pada 7 Agustus 1665 karena wabah, dan mendorong para akademisinya untuk “melarikan diri” ke kawasan pedesaan yang tak padat penduduk.

Woolsthrope Manor, rumah tempat Newton mengisolasi diri.
Foto: DeFacto - Own work

Newton pun sama. Dia mengisolasi diri ke kawasan pertanian keluarganya di Woolsthrope Manor di Lincolnshire, Inggris bagian timur, hingga kampusnya dibuka kembali pada akhir 1667, atau setahun kemudian.

Selama masa “social distancing” ini, Newton mulai memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini menggelayut di benaknya. Masa-masa itu menjadi masa produktif Newton dalam pengembangan ilmu optik dan cahaya, kalkulus, serta hukum gerak dan gravitasi.

Newton mencoba memecahkan soal-soal matematika dari kampus. Makalah yang ditulisnya itu digadang-gadang sebagai cikal bakal kalkulus yang kita kenal sekarang.
Saat itu pula Newton mendapatkan prisma dan bereksperimen di kamarnya.

Bahkan ia membuat lubang kecil di jendela yang menghasilkan sinar cahaya kecil masuk ke kamar. Dari sini ia terpikir untuk mengembangkan ilmu optik dan cahaya.

Tepat di luar jendela rumahnya di Woolsthrope ada pohon apel. Pohon itulah yang menjadi kisah legenda Newton menemukan teori gravitasi saat apel-apel itu berjatuhan di kepalanya. Kisah legendaris ini kemudian menginspirasi Steve Jobs untuk membuat logo Apple pertama kali.

Logo Apple pertama kali 1977.
Foto: Wikimedia Commons

Newton kembali ke Cambridge pada tahun 1667, dan dengan teori-teori yang telah ditulisnya selama di karantina. Dan dalam waktu enam bulan, dia diangkat menjadi fellow, dua tahun kemudian, menjadi seorang profesor.

Tak hanya Newton, kita juga mengenal Shakespeare yang juga menulis karya besarnya waktu karantina. Lalu ada Simone de Beauvoir, Victor Hugo, dan mungkin masih banyak lagi.

Tentu mungkin tak banyak dari kita, selama karantina Covid-19 ini yang akan menemukan atau mengembangkan cabang-cabang baru matematika atau merevitalisasi sains, atau menemukan teori tentang dark matter, atau sesuatu yang akan mengubah dunia, namun sejarah telah membuktikan, bahwa ada hal positif yang bisa merubah masa depan kita, di masa masa karantina seperti ini.

Salah satunya adalah menjadi Coronapreuner, yang merupakan gabungan dari “Coronavirus dan “Entrepreneur” , artinya tentu saja menjadi wirausahawan selama ‘musim’ Corona ini.

Mari kita berpikir sejenak. Setelah wabah ini berakhir, kita akan melihat sebuah dunia akan berubah. Kebiasaan-kebiasaan, keperluan, values, kebutuhan, keinginan manusia, juga akan banyak berubah.

Kira-kira, dapatkah kita saat memikirkan keinginan baru apa saja yang akan dihasilkan dari ‘social distancing’ ini, di mana lebih banyak orang yang bekerja di rumah, ruang kelas siswa pindah dari kelas ke WhatsApp atau Google Meet, lalu nonton konser atau film mungkin akan lebih banyak berubah ke online?

Dulu, saat populasi mulai berkembang, dan mulai banyak orang yang hidup di kota-kota, kebutuhan untuk produksi makanan yang lebih besar meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan ini, para pemikir kreatif kemudian menemukan alat dan mesin untuk memungkinkan efisiensi pertanian yang lebih besar.

Segera setelahnya, permintaan akan alat dan mesin ini menciptakan kebutuhan baru skala produksi yang lebih besar. Para pemikir logistik merancang metode manufaktur baru dan lebih baik untuk memenuhi permintaan ini.

Dan, dalam waktu singkat, dunia meninggalkan era agrikultur, menuju era industri. Seabad kemudian, Setelah sekitar satu abad, keunggulan manufaktur akan dimiliki oleh mereka yang bisa memproses data lebih cepat. Kebutuhan akan mesin yang mampu menangani data dalam jumlah besar ini muncul.

Dan komputer pun tercipta. Lalu, era industry pun berganti menjadi era ekonomi Informasi. Fast forward, lalu lahir era internet, yang mengubah begitu banyak ruang-ruang ekonomi dunia. Kebutuhan spesifik akan sesuatu memicu setiap transisi dari satu bentuk kegiatan ekonomi ke yang lain.

Rasanya, hasil dari conoravirus, dan kebijakan Social Distancing yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran COVID-19 lebih lanjut, kemungkinan akan menghasilkan serangkaian luas kebutuhan yang sebelumnya tidak diketahui. Mengapa tidak? Setidaknya, akan ada tiga hal yang akan muncul karena wabah ini.

Work from Home (WFH) akan menjadi hal yang normal

Mungkin banyak yang berpendapat bahwa WFH hanya akan bersifat sementara. Tapi, banyak orang kemudian menyadari, bahwa begitu banyak ( kalua bukan semua) hal yang dikerjakan di kantor, bisa dilakukan dari rumah.

Meeting, mengejar deadline, koordinasi atasan bawahan, dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan pun mulai berpikir, betapau jauh lebih efisien dan murahnya, jika banyak karyawan yang WFH. Tak perlu bayar listrik, internet kantor, air, atau bahkan…tak perlu sewa kantor sekalian.

Work From Home.
Foto: Unplash

Kira-kira, kesempatan ‘wirausaha’ apa yang bisa diambil dari the new norm ini? Makin banyak orang yang akan memasang wifi bandwith besar, makin banyak orang perlu ‘teknisi’ IT untuk melayani rumah rumah, dan banyak lagi.

Tentu, ada hal di kantor yang tak mungkin kita sediakan di rumah. Misalnya, mesin fotocopy, atau divisi delivery (untuk mengirim barang ) yang di kantor hanya tinggal melangkah.

Nah, bisa jadi, makin banyak orang yang perlu ‘virtual assistant’ untuk mereka-mereka yang memilih tinggal di rumah dan bekerja dari sana. Masih banyak lagi potensi yang bisa kita temukan dari sini.

Belajar jarak jauh (online), kini menjadi hal biasa

Online learning kini menjadi industri yang tumbuh dan berkembang bahkan sebelum wabah Corona. Tentu kini online learning makin tumbuh dan dikenal. Produk-produk online learning mereka kita mulai dikenal oleh jutaan murid dan guru yang mungkin selama ini mengandalkan buku.

Makin banyak, tentu saja, yang mulai menyadari betapa online learning juga merupakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Potensi online learning Ini akan mampu memperluas ketersediaan program untuk siswa yang kurang mampu membayar pendidikan karena kelas online akan ditawarkan dengan biaya lebih rendah.

Selain itu, dengan tinggal di rumah, para siswa dan mahasiswa tidak akan membebani diri mereka dengan biaya kost, atau biasa transportasi pulang pergi ke sekolah.

Apa peluangnya di sisi ini? Banyak!

Kesempatan baru tentu terbuka, bagi mereka yang mampu membuat modul belajar online yang inovatif, interaktif, menarik, dan tentu saja ‘mencerdaskan’.

Selain itu, kalau dulu kita mengenal kursus/bimbingan belajar, kini bimbingan belajar tentu saja juga bisa online. Dengan, misalnya, Google meet, kita bisa melakukan bimbingan belajar jarak jauh dengan beberapa orang sekaligus, tanpa harus kesana-kemari ke rumah para siswa bimbel.

Hal yang sama juga bisa dilakukan oleh Lembaga-lembaga bimbel. Tanpa membayar sewa Gedung, listrik, dan biaya-biaya lain, semua bisa dilakukan secara lebih sederhana, efektif, dan efisien.

‘Aktifitas’ online akan makin banyak

Yang namanya manusia, tak mungkin bisa berdiam diri saja di rumah. Mereka perlu interaksi, mereka perlu hiburan, dan bersosialisasi. Sayangnya, kita tak bisa lagi (setidaknya untuk sekarang) nonton film di bioskop, nonton konser, nonton bola, dan lainnya.

Kini, selama karantina, banyak even-even olahraga yang ‘hanya’ bisa ditonton online, karena event tersebut tidak memperbolehkan adanya penonton.

Selama ini, saat kita masih bebas keluar, kita bisa melakukan aktifitas olahraga, main band, bersosialisasi dengan kawan, dan sebagainya. Kini, dengan begitu banyaknya waktu kita di rumah, kita tetap bisa melakukan aktifitas kita, merekamnya, dan kemudian meng-uploadnya ke sosial media kita.

Entah itu video, desain foto, infografis, atau podcast. Setiap orang punya kreatifitas dan kemampuan masing-masing. Selama ini, mungkin kita sudah melakukannya. Tapi, kinilah waktu yang tepat untuk membuatnya lebih serius, lebih rajin, lebih rutin.

Sumber: goodnewsfromindonesia.id

Editor: tom.