HETANEWS

Bagaimana Negara Termiskin di Eropa Hadapi COVID-19?

Presiden Zelensky akan menghadapi tantangan besar jika Ukraina sampai dihantak wabah corona. Foto: Reuters/Valentyn Ogirenko

Hetanews.com - Ukraina akan dilanda banyak masalah karena COVID-19. Para analis memprediksi akan ada resesi, dan bahkan skenario terbaiknya memperkirakan akan ada kontraksi ekonomi 5 hingga 10 persen, inflasi, dan setengah juta pengangguran.

Virus corona COVID-19 akan menghantam Ukraina, negara termiskin di Eropa, dan datangnya pandemi itu dapat mengganggu ekonomi dan pemerintah.

Sebagian besar analis memprediksi akan ada resesi, dan bahkan skenario terbaiknya memperkirakan akan ada kontraksi ekonomi 5 hingga 10 persen, inflasi, dan setengah juta pengangguran.

Pada 4 Maret 2020, Presiden Volodymyr Zelenskyy merombak kabinetnya. Pasar jelas tidak senang dengan ini. Setelah perombakan, hryvnia Ukraina anjlok. Negara ini membutuhkan hampir 10 miliar dolar dari Dana Moneter Internasional (IMF), tetapi tidak jelas apakah parlemen Ukraina akan memenuhi tuntutan IMF.

Ukraina menuju bencana besar, menurut analisis Melinda Haring dan Doug Klain dalam tulisan mereka yang dimuat di The National Interest.

Di Ukraina selatan, yang memiliki empat juta penduduk, rumah sakit hanya memiliki 130 ventilator. Empat puluh ventilator saat ini digunakan di ICU, yang berarti hanya tujuh puluh ventilator yang tersedia ketika COVID-19 datang ke daerah itu.

“Rumah sakit sama sekali tidak siap,” Andrey Stavnitser, salah satu pemilik perusahaan yang mengoperasikan pelabuhan swasta terbesar di Ukraina, mengatakan pada The National Interest.

Sejauh ini, ada 480 kasus yang dikonfirmasi dan sebelas kematian, tetapi tes masih jarang dilakukan, sehingga tingkat masalahnya belum diketahui. Gambaran yang lebih besar sama suramnya, menurut Haring dan Klain.

Ukraina memiliki 6 ribu ventilator untuk populasi 44 juta. Sementara itu, Jerman, yang penduduknya berjumlah 82 juta, memiliki 25 ribu ventilator dan baru saja memesan 10 ribu ventilator tambahan.

Sistem perawatan kesehatan Ukraina, bisa dibilang, reyot. Sistem itu juga diliputi dengan suap dan praktik-praktik yang tidak profesional lainnya. Stavnitser mengatakan, ketika test kit COVID-19 tiba di Odesa, kota terpadat ketiga di negara itu, pemerintah daerah memperebutkannya.

Tidak ada koordinasi, dan peraturan berubah dengan cepat, kata Stavnitser. Para ahli memperkirakan alat dan obat yang dibutuhkan untuk menangani COVID-19 akan tiba dalam tiga minggu, tetapi lemari persediaan di rumah sakit sudah kosong.

Mereka telah kekurangan sarung tangan, masker, ventilator, dan oksigen. Ditambah lagi, populasi negara itu sebagian besar orang tua, yang lebih rentan terhadap infeksi virus.

Menteri Kesehatan Ukraina Illya Yemets memperingatkan, “semua pensiunan akan mati”. Ia kemudian dipecat oleh parlemen Ukraina pada 30 Maret. Sebaliknya, Dr. Ulana Suprun, mantan menteri kesehatan dan dokter dengan pengalaman praktik di AS, telah berusaha untuk menenangkan warga.

“Tingkat kematian lansia tidak mungkin 100 persen. Menteri (Illya Yemets) sangat keliru,” kata Suprun kepada Ukrainska Pravda.

Mengesampingkan perselisihan para dokter, Haring dan Klain menilai, pandemi ini akan menghantam ekonomi Ukraina. Pemerintah telah menutup bandara dan transportasi umum, dan menghimbau orang-orang untuk bekerja dari rumah.

Jelas, ada batas nyata yang menunjukkan berapa lama tindakan pencegahan ini bisa bertahan. Survei online baru-baru ini menemukan, hanya 27 persen warga Ukraina yang memiliki tabungan yang cukup untuk bertahan hidup selama lebih dari sebulan jika pemerintah memberlakukan lockdown.

Ini adalah masalah nyata bagi Ukraina. Menurut Gennadiy Chizhikov, presiden Kamar Dagang dan Industri Ukraina, antara 500 ribu hingga 700 ribu Ukraina telah di-PHK karena adanya pandemi. Menurut perkiraannya, jumlah ini bisa meningkat 5 kali lipat selama beberapa minggu ke depan.

Ilustrasi warga Ukraina.
Foto: Reuters

Stavnitser juga khawatir tentang munculnya penipuan seiring pemerintah dan bisnis berusaha untuk membeli persediaan yang sangat mereka butuhkan. Kharkiv, kota terbesar kedua Ukraina, telah memesan alat tes COVID-19 dari China. Ketika alat tes itu tiba, ternyata alat itu hanya bisa digunakan untuk mengetes flu biasa.

Terlepas dari masalah yang sangat nyata ini, gambarannya tidak sepenuhnya suram. Perusahaan-perusahaan telah menunjukkan kemauannya untuk membantu, kata Andy Hunder, presiden Kamar Dagang Amerika di Ukraina.

Mungkin juga ada solusi dari dalam negeri. Negara itu dulu membuat ventilator, tetapi perusahaannya bangkrut. Aivaras Abromavicius, kepala perusahaan pertahanan milik negara Ukroboronprom, mengatakan mereka menemukan spesifikasi yang tidak lengkap untuk ventilator dan memberikannya kepada perusahaan swasta.

Perusahaan lainnya, Navator, sedang memproduksi masker dan berjanji akan menghasilkan 100 ribu masker minggu depan, ungkap Abromavicius.

Selain itu, Ukraina memiliki banyak sumber daya kompeten, serta pengetahuan teknik dan ilmiah yang berlimpah. Jika pemerintah tidak dapat memasok ventilator dan APD, orang-orang Ukraina akan mulai membuatnya sendiri.

Untuk saat ini, seiring Ukraina mulai bersiap untuk skenario terburuk, Suprun, dokter dan mantan menteri kesehatan, mengingatkan warganya untuk melakukan pembatasan sosial, cuci tangan, dan jangan panik.

“Kami masih di tahap awal epidemi di Ukraina,” pungkas Suprun.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.