HETANEWS

Malaysia dan Singapura di Ambang Resesi Akibat Pandemi COVID-19

Ilustrasi mata uang Malaysia, Ringgit yang bisa terperosok jika pemerintah tak tepat menangani pandemi corona. Foto: 123rf

Hetanews.com - Langkah-langkah stimulus akan membantu menangani krisis akibat pandemi COVID-19, tetapi perdagangan Malaysia dan Singapura menunjukkan pertumbuhan yang negatif sepanjang 2020.

Malaysia dan Singapura, dua negara dengan ekonomi yang paling parah terdampak pandemi COVID-19 di Asia Tenggara, berupaya mengurangi dampak ekonomi dari wabah di negara masing-masing.

Kedua negara tersebut diproyeksikan tergelincir ke dalam resesi tahun ini, meskipun ada pengumuman paket stimulus senilai multi-miliar dolar baru-baru ini. Belum ada tanda-tanda kasus infeksi virus corona baru telah menurun atau apakah bisnis akan kembali normal di kedua negara.

Paket-paket stimulus diluncurkan di kedua negara akhir pekan lalu, menyusul rencana pengeluaran sebelumnya yang diumumkan pada Februari 2020.

Hal itu dilakukan sebagian besar dalam menanggapi kerugian pariwisata karena kepergian mendadak wisatawan China setelah wabah penyakit yang menyerupai pneumonia itu pertama kali merebak di Kota Wuhan, China.

Keadaan darurat kesehatan kini melanda dunia. Pandemi COVID-19 tak ketinggalan menghantam Eropa dan Amerika Serikat yang sekarang dipandang sebagai pusat pandemi baru.

Infeksi virus corona baru telah melonjak dalam beberapa minggu terakhir di Asia Tenggara, meski tidak separah yang terjadi di Eropa dan AS. namun, pandemi di kawasan ini tetap mendorong penerapan langkah-langkah untuk menutup perbatasan, membatasi perjalanan, dan menjaga jarak (social distancing).

Malaysia, yang sekarang menunjukkan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di kawasan, telah menutup sekolah-sekolah dan bisnis-bisnis yang tidak penting serta mengerahkan tentara untuk mengawasi pembatasan nasional terhadap pergerakan publik yang akan tetap berlaku hingga setidaknya 14 April 2020. Negara itu telah mencatat 2.470 total kasus infeksi virus, termasuk 35 kematian.

Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, dalam upaya untuk melunakkan dampak ekonomi dari penguncian wilayah parsial selama empat minggu dan memoles reputasi kepemimpinannya dengan para pemilih yang terpolarisasi, mengumumkan stimulus sebesar 250 miliar ringgit Malaysia atau US$58,3 miliar pada Jumat (27/3/2020).

“Kami adalah bangsa yang berperang dengan kekuatan yang tak terlihat. Situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya ini tentu saja membutuhkan langkah-langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” katanya dalam pidato yang disiarkan televisi yang mencakup upaya berdamai dengan segmen masyarakat yang secara politik tidak puas.

“Pemerintah ini mungkin bukan pemerintah yang Anda pilih, tapi saya ingin Anda tahu, pemerintah ini peduli pada Anda.”

Muhyiddin dilantik pada 1 Maret 2020 setelah pergolakan politik yang mengguncang kekuasaan yang membuat koalisi yang berkuasa yang sebelumnya terpilih runtuh.

Saat ia meluncurkan langkah-langkah stimulus terbaru Malaysia, yang menyaingi anggaran pemerintah tahunan terbaru, perdana menteri baru itu meminta masyarakat dari semua komunitas rasial untuk mendukung upaya darurat.

Paket Stimulus Ekonomi Berbasis-Rakyat Malaysia atau Paket Prihatin menyediakan satu kali transfer uang tunai untuk rumah tangga berpenghasilan rendah dan berpenghasilan menengah, di samping pinjaman lunak untuk usaha kecil dan menengah (UKM) yang mempekerjakan sekitar 66 persen dari 15,8 juta tenaga kerja di negara itu, menurut data resmi.

Skema tersebut mencakup Program Subsidi Upah yang akan membuat pemerintah mensubsidi upah senilai RM600 atau US$138 per bulan per karyawan selama 3 bulan untuk pekerja yang penghasilan bulanannya kurang dari RM4.000 atau US$923.

Langkah-langkah tersebut dirancang untuk meringankan penghematan bagi industri padat karya seperti pariwisata, perhotelan, makanan dan minuman, serta penyelenggaran acara.

Paket ini menargetkan UKM yang menghadapi pengurangan pendapatan lebih dari 50 persensejak Januari 2020, meskipun telah dikritik tidak memadai oleh beberapa perwakilan industri. Program ini konon mencakup 3,3 juta pekerja, meskipun UKM sendiri mempekerjakan sekitar 9 hingga 10 juta pekerja.

“Mendaftar ke program ini mencegah pengusaha beralih ke langkah-langkah penghematan biaya tenaga kerja lainnya seperti memberlakukan pemotongan upah atau cuti tidak berbayar bagi karyawan yang disubsidi upah,” menurut Nadia Jalil, ekonom kebijakan publik Malaysia, kepada Asia Times.

“Sebagian besar dari bisnis tersebut mungkin menemukan, meskipun ada jalan lain untuk moratorium pinjaman dan pinjaman lunak, tidak mungkin untuk mempertahankan diri mereka sendiri sepanjang tahun ini, ketika kondisi ekonomi diperkirakan akan tetap lesu. Hasilnya akan menjadi penghematan besar-besaran, dengan mungkin 25 persen dari UKM itu memilih untuk tutup.”

Muhyidin, PM Malaysia yang baru.
Foto: Nikkei Asian Review

Meski paket itu tidak mungkin mencegah resesi 2020, menurut direktur eksekutif Socio-Economic Research Center (SERC) Lee Heng Guie, “Langkah itu diharapkan dapat mengurangi besarnya kontraksi ekonomi.”

“Berbagai UKM akan kehabisan uang tunai dalam dua hingga tiga bulan dan tidak akan berada dalam kondisi keuangan yang baik untuk enam bulan ke depan hingga satu tahun jika krisis tidak mereda.” katanya.

Dikutip dari Asia Times, rencana stimulus Malaysia akan dilaksanakan secara kontroversial tanpa pengawasan parlemen. Fakta itu digarisbawahi oleh pemimpin oposisi Anwar Ibrahim, yang dalam siaran langsung Facebook mengemukakan kekhawatiran alokasi tersebut dapat mengalami kebocoran dan penggelapan.

Unit penelitian Fitch Solutions telah merevisi perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil 2020 untuk Malaysia turun menjadi 1,2 persen, dari 3,7 persen sebelumnya, dan turun dari 4,5 persen pada awal 2020.

Perkiraan itu mengharapkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah stimulus lebih lanjut dan memperkirakan perpanjangan dari penguncian wilayah parsial negara melampaui 14 April 2020 jika pandemi COVID-19 memburuk.

Singapura, meskipun tidak menutup ekonominya seluas Malaysia, telah menutup semua tempat hiburan sampai akhir April 2020, sementara pertemuan di luar tempat kerja dan sekolah harus dibatasi hingga 10 orang.

Negara kepulauan kaya itu diperkirakan akan menuju resesi terburuk dalam sejarah 55 tahun. Ekonominya telah menyusut sebesar 2,2 persen pada kuartal pertama dari tahun lalu, menurut perkiraan resmi sebelumnya.

Kontraksi parah dalam perekonomian Singapura dipandang sebagai penentu arah untuk kondisi di kawasan yang lebih luas.

“Pandemi COVID-19 adalah krisis paling serius yang kita hadapi dalam satu generasi,” tutur Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Singapura Heng Swee Keat ketika ia mengumumkan Anggaran Ketahanan sebesar 48 miliar dolar Singapura atau US$33,6 miliar pada 26 Maret 2020.

Langkah-langkahnya termasuk dukungan upah, skema pinjaman, keringanan pajak, serta dukungan untuk sektor penerbangan dan pariwisata negara kota itu yang terkena dampak buruk.

Untuk mendanai stimulus yang besar dan kuat, setara dengan 7,9 persen dari PDB, pemerintah Singapura akan menarik hingga 17 miliar dolar Singapura atau US$11,9 miliar dari cadangan nasional, langkah yang secara hukum membutuhkan persetujuan presiden Singapura.

Bersama dengan pengeluaran anggaran sebelumnya sebesar 6,4 miliar dolar Singapura atau US$4,4 miliar, sekitar 11 persen dari PDB telah digunakan untuk menopang perekonomian di tengah penularan infeksi virus corona baru.

Dana dari cadangan nasional terakhir kali ditarik pada 2009, ketika sebanyak 4,9 miliar dolar Singapura atau US$3,4 miliar dikerahkan untuk melindungi negara kota itu dari krisis keuangan global di tengah resesi terburuk di Singapura.

Cadangan devisa Singapura tidak diungkapkan kepada publik karena alasan strategis, meskipun perkiraan menempatkan angka antara 500 miliar dolar Singapura (US$350,8 miliar) hingga di atas 1 triliun dolar Singapura (US$701,6 miliar).

“Paket Anggaran Ketahanan akan membantu meredam penderitaan dan memperpanjang keberlangsungan sektor-sektor yang paling terpukul, tetapi tidak akan mencegah resesi,” tegas ekonom Maybank Kim Eng, Chua Hak Bin, dan Lee Ju Ye.

“Dukungan fiskal akan mengurangi kehilangan pekerjaan dan tingkat pengangguran, tetapi tidak akan mampu mengangkat pertumbuhan PDB atau garis pendapatan perusahaan.”

Mengikuti perkiraan sebelumnya dari penurunan kuartal pertama yang curam, Asia Times melaporkan, Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi negara-kota itu menjadi antara -1 dan -4 persen, turun dari perkiraan sebelumnya -0,5 menjadi 1,5 persen.

DBS Bank, bank terbesar di Singapura, memperkirakan perekonomian akan mengalami kontraksi -2,8 persen tahun ini.

“Ekonomi memasuki perairan yang belum dipetakan. Ini bisa menjadi resesi terburuk yang pernah terjadi di Singapura. Ancaman terhadap pondasi ekonomi yang mendasarinya tidak tertandingi,” ucap ekonom senior DBS Bank Irvin Seah.

Ia memperkirakan, total penghematan tahun ini akan mencapai 24.500, naik dari rata-rata tahunan sekitar 14.500.

Dalam langkah yang diperkirakan secara luas, Otoritas Moneter Singapura (MAS) pada Senin (30/3/2020) mengumumkan langkah-langkah pelonggaran untuk merangsang ekonomi, yang akan menimbulkan pengurangan kemiringan pita kebijakan dolar Singapura menjadi tingkat apresiasi nol, pelonggaran yang tidak terlihat sejak krisis keuangan global 2009.

Lee Hsien Loong, perdana menteri Singapura yang telah lama melayani, mengatakan akan diperlukan “beberapa tahun” bagi COVID-19 untuk mereda.

Menurutnya, “sangat mungkin” pemerintah Singapura dapat menarik kembali cadangannya tahun ini jika wabah memburuk. Negara-kota itu telah mencatat total 844 kasus infeksi virus corona baru, dengan hanya tiga kematian.

Para pelanggan menikmati hidangan dan duduk berjauhan di pusat kuliner kaki lima di Singapura, Rabu, 18 Maret 2020. Deretan kursi diselang-seling dan ditandai dengan selotip merah untuk membatasi jarak duduk antar individu sebagai salah satu pencegahan penyakit COVID-19.
Foto: AFP/Catherine Lai

Fitch Solutions mengatakan dalam sebuah catatan penelitian, mereka mengharapkan Singapura untuk mencatat defisit fiskal primer terbesar yang pernah ada yaitu 11,4 persen dari PDB pada 2020, dari 1,6 persen sebelumnya.

Unit penelitiannya mencatat, lebih banyak langkah-langkah stimulus kemungkinan akan diluncurkan tahun ini, meskipun pengeluaran tambahan cenderung pada skala yang lebih kecil.

Terdapat berbagai pendapat mengenai apakah langkah-langkah stimulus Malaysia dan Singapura dapat mendukung ekonomi mereka untuk pemulihan berikutnya setelah ancaman pandemi mereda.

Namun, para pialang saham Asia telah melaporkan lonjakan minat investor, terlepas dari krisis terbaru di sebagian besar pasar saham global sejak pandemi COVID-19 dimulai.

“Ini adalah waktu tersibuk yang pernah kami alami selama bertahun-tahun,” kata Frank Troise, kepala eksekutif regional bank merchant Senahill Partners yang berbasis di Singapura.

Ia mengutip kenaikan perusahaan teknologi dan jasa keuangan Barat yang mengandalkan ekonomi Asia memimpin pemulihan ekonomi pasca-wabah virus.

“Asia Tenggara dan China akan menjadi pemenang saat pandemi ini berakhir,” menurut prediksi bankir investasi veteran itu.

“Harapannya adalah mereka akan berada di posisi terbaik untuk tumbuh. Singapura dipandang sebagai garis depan dari situasi saat ini secara global, tidak hanya dalam hal bagaimana mereka merespons wabah virus, tetapi juga dengan paket stimulus yang telah mereka terapkan.”

“Mayoritas Asia telah menangani hal ini secara pragmatis dan mereka telah menanganinya dengan benar. Uang cadangan, dan sejujurnya uang nyata ada di Singapura selama pandemi ini mengalir dengan cukup baik. Mereka mampu mengatasi masalahnya, mereka telah menyuntikkan stimulus. tidak ada pergolakan politik, tidak seperti di Malaysia,” pungkas Troise.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.