HETANEWS

Korea Utara Tes Misil Keempat Kalinya dalam Sebulan

Pemimpin Korea Utara tiba di stasiun kereta sebelum keberangkatannya di Vladivostok, Rusia, 26 April 2019. Foto: Reuters/Shamil Zhumatov

Hetanews.com - Tanpa kehadiran Kim Jong Un, Korea Utara lakukan tes misil jarak pendek keempat kalinya bulan ini. Pada Senin (30/3/2020), Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA) melaporkan negara itu telah meluncurkan dua rudal dari “peluncur roket ganda” selama uji coba yang dilakukan pada Minggu (29/3/2020).

Menurut pihak berwenang Korea Selatan, dua rudal itu adalah rudal ketujuh dan kedelapan yang diluncurkan sejauh ini sejak awal tahun 2020.

Semua rudal diluncurkan pada Maret 2020 selama empat kali tes misil. Tes misil pada Minggu, (30/3/2020) itu berbeda dengan uji coba sebelumnya karena kali ini Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un tidak hadir untuk memimpin.

Kim sebelumnya memimpin setiap uji coba militer utama dan semua peluncuran rudal sebelum ini. Sebagai gantinya, Ri Pyong Chol, pejabat senior Korea Utara yang memimpin Departemen Industri Munisi di negara itu, “memandu” uji coba tersebut.

Menurut laporan KCNA, pejabat penting Korea Utara lainnya, termasuk Jang Chang Ha dan Jon Il Ho, turut hadir. Foto-foto dari uji coba yang dirilis Korea Utara tidak menunjukkan para hadirin.

Menurut KCNA, uji coba hari Minggu itu sekali lagi memverifikasi “spesifikasi taktis dan teknologi dari sistem peluncuran yang akan dikirim ke unit Tentara Rakyat Korea.”

Laporan KCNA juga mengklaim uji coba itu berhasil dilakukan. Kepala Staf Gabungan Korea Selatan melaporkan pada Minggu, (30/3/2020), rudal-rudal itu meluncur ke Laut Timur, atau yang dikenal dengan Laut Jepang.

Rudal itu dilaporkan terbang sejauh 230 kilometer dan mencapai puncaknya sejauh 30 kilometer. Peluncuran berlangsung dari dekat Wonsan, kota di pantai timur Korea Utara.

KCNA, mengutip Ri Pyong Chol, mengatakan uji coba menunjukkan “pengerahan operasional sistem senjata peluncur roket ganda adalah upaya signifikan yang sangat penting dalam mewujudkan niat strategis baru Komite Sentral Partai untuk pertahanan nasional.”

Setelah uji coba sebelumnya pada sistem itu, yang dikenal oleh komunitas intelijen AS sebagai KN25, para pejabat menekankan sistem tersebut sebentar lagi akan dapat dikerahkan dan akan segera dikirim ke Tentara Rakyat Korea.

Laporan itu juga menggarisbawahi adanya kesulitan untuk mengerahkan senjata-senjata ini kepada Tentara Rakyat Korea. “Ri Pyong Chol menyadari tentang masalah yang relevan yang timbul dalam memberikan sistem senjata ke unit-unit Tentara Rakyat, dan menetapkan tugas-tugas yang relevan untuk bidang penelitian ilmu pertahanan nasional dan pabrik amunisi,” menurut laporan KCNA.

Uji coba lain Korea Utara bulan ini menampilkan KN25 dan KN24, sistem rudal balistik jarak pendek yang menyerupai Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat MGM-140 (ATACMS) milik Amerika Serikat.

KN25, yang sebelumnya terlihat dengan empat tabung rudal pada sebuah transporter-erector-launcher paling banyak diluncurkan, terlihat dalam gambar yang dirilis oleh Korea Utara pada Senin (30/3/2020) untuk menampilkan enam canister. Varian baru dari KN25 tampaknya menggunakan sasis peluncur yang juga digunakan oleh KN24.

Apa Alasan Korea Utara Menguji Coba Senjata?

Korea Utara menembakkan senjata dalam foto tak bertanggal ini, yang dirilis pada 16 Agustus 2019.
Foto: KCNA via Reuters

Menurut Robert E. Kelly, profesor hubungan internasional di Pusan National University, provokasi Korea Utara seperti itu biasanya memiliki beberapa penyebab:

Pertama, Korea Utara mungkin merasakan kebutuhan empiris untuk menguji senjata yang dikembangkannya. Semua negara tentu saja melakukan ini, dan Korea Utara telah mengembangkan banyak senjata dengan anggaran militernya yang besar.

Namun, penjelasan ini tidak terlalu kuat, karena Korea Utara terkadang menguji senjatanya dan terkadang tidak. Mereka sering melekatkan retorika aneh pada uji coba, dan sering menjadwalkannya pada waktu yang tidak tepat.

Karena pemilihan waktunya sering tidak tepat, uji coba biasanya dianggap sebagai tanda mereka tidak senang pada sesuatu yang dilakukan oleh Korea Selatan.

Dunia juga biasanya sangat memperhatikan peluncuran rudal Pyongyang, yang secara teknis dilarang oleh PBB. Jadi, biasanya peluncuran itu dianggap memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar menguji senjata.

Kedua, uji coba semacam itu dapat menandakan ketidaksenangan Korea Utara dengan seluruh dunia. Kasus yang paling jelas dari itu adalah macetnya perundingan denuklirisasi yang diprakarsai oleh pemerintahan Presiden Korea Selatan Moon Jae In dan Presiden Amerika Donald Trump.

Kedua pemimpin itu telah menjanjikan kesepakatan atau semacam terobosan dengan Korea Utara. Namun, janji itu belum terwujud. Trump khususnya, tampaknya telah menarik diri dari perundingan itu.

Dia terlihat puas dengan hanya foto-foto dan mengadakan pertemuan, dan tidak tertarik pada substansi pertemuan yang sebenarnya. Trump akan menggunakan citra itu untuk mendukung pemilihan ulangnya di Pilpres tahun ini.

Dia mungkin tidak akan bertemu Kim Jong Un lagi kecuali Kim menawarkan konsesi yang lebih konkret. Mengingat hal ini, uji coba rudal yang dilakukan di tahun-tahun sejak KTT pertama di Singapura cenderung menekan Trump untuk membuat konsesi.

Ketiga, uji coba itu hanya mengingatkan kita akan keberadaan Korea Utara. Seperti yang dikatakan Soo Kim dari Rand Corporation, itu adalah kartu “jangan lupakan aku” milik Korea Utara.

Korea Utara, seperti semua negara, sensitif terhadap penghinaan atau ketidaktertarikan. Gengsi itu penting. Ini jauh lebih penting bagi Korea Utara mengingat posisi politik mereka yang unik sebagai negara pesaing langsung ke Korea Selatan.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.