HETANEWS

Mengapa Taiwan Jadi Masalah Bagi WHO?

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen tiba di ibu kota Haiti Port-au-Prince hari Sabtu, 13 Juli 2019. Foto: EPA-EFE

Hetanews.com - Taiwan dipandang sebagai salah satu dari sedikit negara di dunia yang telah berhasil membendung penyebaran virus corona tanpa memberlakukan ‘lockdown’.

Terlepas dari upaya tanggapnya untuk membendung penyebaran virus corona, Taiwan masih dikucilkan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena hubungannya yang kompleks dengan China.

Ini semua terungkap selama akhir pekan saat pejabat tinggi WHO menghindari pertanyaan tentang Taiwan dalam salah satu wawancara TV, menarik kritik dan bahkan tuduhan bias.

Apa Yang Terjadi?

Pada Sabtu (28/3/2020), stasiun televisi Hong Kong RTHK menyiarkan wawancara Bruce Aylward, asisten direktur jenderal WHO, dengan jurnalis Yvonne Tong melalui panggilan video.

Di segmen itu, Tong bertanya apakah WHO akan mempertimbangkan kembali untuk memasukkan Taiwan ke dalam organisasi tersebut. Aylward kemudian diam sejenak, lalu mengatakan dia tidak bisa mendengar pertanyaan itu dan meminta untuk ganti ke pertanyaan lain.

Tong kembali mendesaknya, mengatakan dia ingin berbicara tentang Taiwan. Pada titik ini, Aylward tampaknya menutup teleponnya. Saat jurnalis menelepon Aylward lagi, dia bertanya apakah dia bisa mengomentari tanggapan Taiwan terhadap virus corona COVID-19.

Aylward kemudian menjawab, “Ya, kita sudah bicara tentang China.” Kalimat terakhirnya itu mencerminkan sikap China terhadap Taiwan, yang dianggap sebagai provinsi yang memisahkan diri. Namun, Taiwan menganggap dirinya sebagai negara merdeka.

Apa Hubungan Taiwan Dengan WHO?

Reaksi Aylward secara luas dipandang sebagai indikasi hubungan canggung WHO dengan Taiwan, yang bukan anggota. Keanggotaan WHO hanya diberikan kepada negara-negara anggota PBB, yang tidak mengakui Taiwan, atau negara yang pengajuannya disetujui oleh Majelis Kesehatan Dunia.

Artinya, Taiwan telah dikeluarkan dari pertemuan darurat dan arahan pakar global tentang pandemi virus corona. Diplomat Taiwan Stanley Kao juga mengatakan Taiwan telah ditolak untuk menghadiri pertemuan tahunan Majelis Kesehatan Dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Itu juga berarti WHO telah menggabungkan statistik virus corona Taiwan dengan statistik China. Langkah itu, menurut Kao, menyalahi aturan dunia informasi yang akurat dan tepat mengenai pandemi.

Pengucilan itu, ditambah dengan pujian berulang WHO atas tanggapan China terhadap wabah tersebut, telah menyebabkan beberapa orang menuduh organisasi itu bias politik terhadap China. Sejak lama, China telah menjadi kontributor utama bagi organisasi tersebut.

WHO bukan satu-satunya organisasi global yang mengucilkan atau tidak secara resmi mengakui Taiwan. Contoh lainnya termasuk Komite Olimpiade Internasional dan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional.

Namun, wartawan BBC Cindy Sui mengatakan, dari semua kelompok ini, WHO mungkin yang paling penting bagi Taiwan, yang memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia.

Pulau itu sebelumnya memiliki hubungan baik dengan Beijing, dan sempat memiliki status pengamat di Majelis Kesehatan Dunia. Namun, pulau itu kehilangan status itu dalam beberapa tahun terakhir karena memanasnya perselisihan antara Taipei dan Beijing.

Mengapa Pengucilan Taiwan Jadi Masalah?

Ilustrasi sampel darah dari pasien positif coronavirus.
Foto: Generall Indonesia

Taiwan selalu mengajukan keberatan setiap kali dikucilkan dari badan global, dengan mengatakan langkah itu tidak adil dan diskriminatif. Kali ini, mereka juga mengajukan keberatannya, menambahkan Taiwan seharusnya tidak ditinggalkan pada saat kerja sama global sangat diperlukan. Awal bulan ini,

Taiwan menuduh WHO mengabaikannya ketika pemerintah bertanya tentang penularan dari orang ke orang pada awal wabah di China, yang katanya membahayakan jiwa.

“Kami berharap melalui epidemi ini, WHO dapat menyadari epidemi tidak memiliki perbatasan nasional, tidak ada satu negara pun yang harus dikucilkan.

Karena setiap negara yang dikucilkan dapat menjadi celah … kekuatan negara mana pun tidak boleh diabaikan, sehingga negara itu dapat memberikan kontribusi kepada dunia,” kata Menteri Kesehatan Taiwan Chen Shih-chung pada konferensi pers baru-baru ini, yang dikutip BBC.

Taiwan juga menunjukkan mereka belajar banyak setelah mengelola wabah virus corona, dan pengalamannya dapat dibagikan kepada dunia. Taiwan dipuji karena penanganan epidemi yang cepat dan tegas, yang telah relatif terkendali dan hanya menyebabkan beberapa kematian.

Langkah-langkah yang mereka lakukan termasuk menghentikan penerbangan masuk dari China dan memberlakukan karantina pada pelancong sejak awal wabah, yang menurut para ahli adalah kunci dalam menghentikan penyebaran di masyarakat.

“Mereka juga telah melakukan tes terfokus pada orang yang diduga memiliki virus corona, dan juga pelacakan kontak dan pembatasan sosial. Saya pikir tanggapan mereka cukup baik,” ujar Profesor Benjamin Cowling, ahli epidemiologi di Universitas Hong Kong, kepada BBC.

Reaksi Terhadap Wawancara

Setelah wawancara Aylward, WHO menyatakan stafnya tidak memiliki kapasitas untuk menjawab pertanyaan tentang keanggotaan Taiwan, menambahkan kapasitas berada di tangan “negara-negara anggota WHO”.

Ia juga mengatakan pihaknya telah bekerja sama dengan para ahli dan petugas kesehatan Taiwan untuk memastikan aliran informasi yang tepat dan untuk berbagi penanganan terbaik.

Pada Senin (30/3/2020), Presiden Tsai Ing-wen menanggapi pernyataan WHO, mengatakan dia “berharap semua negara akan lebih memahami kemampuan dan kontribusi Taiwan dalam mengalami wabah ini, dan mempertimbangkan partisipasi Taiwan dalam respons global terhadap pandemi”.

“Sikap Taiwan selalu jelas: Taiwan memiliki kemampuan dan kemauan untuk bekerja sama dengan negara-negara dalam perlindungan kesehatan, dan juga bersedia berbagi pengalaman yang bermanfaat,” ucapnya, dikutip dari BBC.

China belum secara resmi mengomentari masalah ini, tetapi di jejaring media sosial Weibo, banyak orang China yang mendukung tanggapan Aylward.

Di luar kehebohan politik, Taiwan dan China terus memerangi virus. Keduanya berada di antara sejumlah lokasi Asia yang menghadapi gelombang infeksi kedua yang disebabkan oleh kembalinya warga dari wilayah lain seperti Eropa.

Hingga Senin (30/3/2020), Taiwan memiliki lebih dari 300 kasus yang dikonfirmasi, yang sebagian besar merupakan kasus impor, dan sejauh ini hanya ada lima orang yang meninggal karena virus.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.