HETANEWS

Corona di Indonesia: China Jadi Juru Selamat, Apa Peran Australia?

Presiden Joko Widodo berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping saat pertemuan bilateral di sela-sela KTT One Belt One Road di Beijing. Foto: AP/Kenzaburo Fukuhara

Hetanews.com - Setelah lama meremehkan pandemi COVID-19, Indonesia akhirnya mengakui kasus pertamanya dan terus mengalami lonjakan jumlah infeksi virus corona baru. Australia yang biasanya menjadi rekan erat kini justru tak bisa banyak berperan membantu.

Ketika China hadir sebagai juru selamat, akankah pengaruhnya justru menghambat penanganan pandemi dan menimbulkan gangguan bagi relasi Indonesia-Australia?

Penyebaran pandemi COVID-19 yang cepat ke seluruh Indonesia adalah tantangan serius yang dapat menimbulkan implikasi strategis bagi Australia.

Namun, tidak seperti dalam bencana sebelumnya, hanya ada sedikit bantuan yang dapat dilakukan Australia bagi Indonesia dalam jangka pendek. Sebaliknya, China justru datang sebagai juru selamat.

Setelah berminggu-minggu menyangkal memiliki kasus COVID-19 dan mengklaim tindakan penyaringan yang memadai telah dilakukan, Indonesia kini menghadapi bencana kesehatan.

Meskipun infeksi pertama dilaporkan hanya awal bulan ini, angka kasus terkini menunjukkan lebih banyak orang di Indonesia sekarang meninggal karena infeksi virus daripada jumlah pasien yang telah pulih, menjadi tingkat kematian tertinggi di Asia Tenggara.

Indonesia juga berada di antara peringkat negara-negara terendah di dunia dalam hal tingkat pengujian. Artinya, jumlah kasus sebenarnya bisa jauh lebih buruk daripada yang telah dilaporkan.

Virus corona baru telah terdeteksi di 29 dari 34 provinsi di Indonesia. Wilayah-wilayah padat penduduk di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur mencatat lebih dari 80 persen dari lebih dari 1.000 kasus positif corona yang dikonfirmasi.

Sejumlah video yang diunggah di media sosial menunjukkan orang-orang Indonesia tumbang karena mengalami gagal napas di jalanan, telah membuat sebagian besar kelas menengah melakukan isolasi mandiri.

Pun, memaksa beberapa kalangan etnis Tionghoa mengungsi di Singapura, serta mendorong kaum elit berlindung di balik dinding kompleks militer dan di perumahan mewah untuk menunggu krisis mereda.

Pemerintah pusat telah mencoba mengikuti negara-negara lain dengan menerapkan langkah-langkah bekerja dari rumah dan menjaga jarak (social distancing), tetapi semuanya terbukti sulit untuk ditegakkan.

Menurut analisis Bradley Wood dari ASPI The Strategist, jutaan orang Indonesia bergantung pada pendapatan dari sektor informal yang dibangun di sekitar pergerakan orang demi memenuhi kehidupan sehari-hari mereka. Ironisnya, penutupan kantor, pasar, dan pabrik di seluruh Pulau Jawa meningkatkan risiko penularan lokal.

Banyak orang Indonesia tidak dapat bekerja dari rumah. Penurunan insentif ekonomi telah memaksa ribuan orang untuk kembali lebih awal ke desa-desa mereka menjelang masa liburan Idul Fitri usai Ramadhan, kemungkinan tindakan yang menyebarkan virus corona baru lebih lanjut.

Perlu cukup banyak waktu sebelum rakyat Indonesia memahami sejauh mana sebenarnya krisis COVID-19 yang kita hadapi. Pemerintah Indonesia kini mempertimbangkan larangan perjalanan lokal untuk mencegah jutaan orang mudik ke kampung halaman mereka, tetapi keputusan itu saat ini mungkin sudah terlambat.

Penularan lokal di luar ibu kota Jakarta telah terjadi, sementara tempat teraman bagi banyak orang sekarang adalah desa asal mereka. Meninggalkan kota-kota besar dapat memberi kaum miskin kota kesempatan yang lebih baik untuk mengisolasi diri dalam waktu yang lama.

Militer Indonesia telah membangun rumah sakit regional darurat dan mengambil alih sejumlah properti pemerintah yang tidak vital sebagai persiapan untuk apa yang kemungkinan akan menjadi aliran deras ribuan pasien dalam beberapa pekan mendatang.

Personel Masyarakat Palang Merah Indonesia mengenakan pakaian pelindung selama operasi menyemprotkan cairan disinfektan di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Utara. Wisma atlet selama perhelatan Asian Games 2018 itu akan dialihfungsikan sebagai rumah sakit darurat untuk merawat pasien penyakit COVID-19.
Foto: The Jakarta Post/Seto Wardhana

Sistem kesehatan Indonesia sedang mengalami kesulitan untuk mengatasi beberapa kasus yang terdeteksi. Negara ini memiliki salah satu defisit terburuk dalam hal tempat tidur rumah sakit per kapita di kawasan ini, dengan hanya sekitar 310.000 ranjang yang tersedia untuk 260 juta penduduknya, yang secara kasar setara dengan 1,2 tempat tidur rumah sakit per 1.000 orang.

Rasionya bahkan lebih buruk bagi unit perawatan intensif, dengan sekitar 2 tempat tidur per 100.000 orang. Banyak rumah sakit di Indonesia juga kekurangan pasokan oksigen, ventilator, dan peralatan lain yang dapat menyelamatkan pasien dengan infeksi parah.

Bahkan jika Indonesia dapat menambah jumlah tempat tidur dan mendapatkan cukup peralatan medis untuk memenuhi permintaan, negara ini masih kekurangan dokter spesialis pernapasan dan perawatan intensif yang terampil. Artinya, petugas layanan kesehatan menjadi kunci bagi respons pemerintah.

Itulah sebabnya pemerintah perlu memprioritaskan pasokan alat perlindungan diri (APD) bagi para pekerja garis depan. Setidaknya tujuh dokter telah meninggal karena infeksi COVID-19. Berbagai rumah sakit terpaksa menggunakan solusi sementara seperti menyediakan jas hujan plastik dalam upaya terakhir untuk melindungi staf medis.

Jika tingkat infeksi virus corona baru di kalangan petugas kesehatan garis depan terus meningkat, pemerintah Indonesia akan menghadapi masalah moral serius yang dapat memperburuk krisis.

Pemerintah menempatkan pekerja layanan kesehatan di hotel, seolah-olah membuat mereka lebih dekat dengan rumah sakit, yang akan membuat mereka lebih mudah untuk diawasi. Kelemahan dari langkah itu adalah hal itu berpotensi meningkatkan risiko penularan pandemi COVID-19 di kalangan petugas kesehatan.

Memberikan bantuan medis ke Indonesia adalah suatu hal yang biasanya akan dilakukan Australia, tetapi negeri kanguru itu memiliki kekurangan pasokannya sendiri untuk bersaing dengan peran tersebut saat ini.

Sebaliknya, Indonesia terpaksa menerima tawaran dari China dan bahkan menggunakan militernya sendiri untuk mengambil peralatan medis. Itu merupakan pertanda Indonesia sudah putus asa untuk mendapatkan peralatan medis.

Keberhasilan tanggapan pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi dapat bergantung pada seberapa banyak bantuan yang didapatkan dari China.

Indonesia memiliki pilihan terbatas untuk mencegah krisis. Jika penguncian wilayah (lockdown) diterapkan untuk mengurangi penularan penyakit lokal, menerapkannya akan menimbulkan lebih dari sekadar masalah tenaga kerja. Pemerintah pusat akan bertanggung jawab untuk menyediakan makanan bagi jutaan orang Indonesia yang tidak mampu menyediakan makanan bagi diri mereka sendiri.

Kekurangan pangan dapat dengan mudah mengakibatkan keruntuhan hukum dan ketertiban. Skala konfliknya kemudian kemungkinan akan membuat pasukan keamanan kewalahan dan melemahkan kekuasaan pemerintah.

Seperti kebanyakan negara, prioritas Indonesia adalah menghindari krisis ekonomi lainnya. Pemerintah telah menyuntikkan sekitar US$18 miliar likuiditas ke pasar keuangan. Ekonomi Indonesia didorong oleh konsumen, yang telah membantu mengatasi krisis keuangan sebelumnya.

Namun, krisis kesehatan COVID-19 yang berkepanjangan akan membutuhkan pengeluaran pemerintah yang substansial dan respons kebijakan yang membuat ekonomi domestik terhenti. Indonesia akan membutuhkan bantuan keuangan dan akan ada beberapa pilihan selain China.

Ketidakstabilan sosial ekonomi di Indonesia di masa lalu seringkali diikuti oleh ketidakstabilan dan perubahan politik. Oleh karena itu, Australia harus memperhatikan indikator-indikator penting dengan cermat, beberapa di antaranya telah dipenuhi Indonesia, lantas memberikan bantuan medis dan keahlian sesegera mungkin sebelum Indonesia menjadi sepenuhnya bergantung pada China untuk menangani krisis.

Australia akan memiliki kapasitas terbatas untuk memberikan bantuan keuangan yang mungkin diperlukan Indonesia. Namun, negara itu dapat mengimbangi ketergantungan Indonesia pada peralatan berkualitas rendah dari China, yang telah dialami di negara-negara seperti Spanyol. Hal itu justru dikhawatirkan dapat memperpanjang krisis.

Segera setelah Australia menangani pandemi COVID-19 mereka sendiri, negara itu harus mulai menyusun rencana untuk membantu Indonesia dengan keahlian di bidang kesehatan dan keselamatan, diagnosis dan perawatan di tempat kerja, yang semuanya dapat dilakukan dari jauh.

Jika tidak, Bradley Wood dari ASPI The Strategist menyimpulkan, China akan memonopoli pengaruh dan berpotensi mengambil keuntungan strategis dari situasi wabah di Indonesia, hasil yang akan berdampak buruk bagi kepentingan Australia di kawasan tersebut.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.