HETANEWS

Pekerja Freeport Papua Ditembaki OPM, Warga Selandia Baru Tewas

Dalam foto yang diambil bulan Mei 2019, dan dirilis oleh Tentara Pembebasan Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka, pria dewasa dan anak-anak dari Tentara Pembebasan Papua Barat berpose sambil memegang senjata di wilayah Nduga di pusat dataran tinggi provinsi Papua, Indonesia. Foto: AP

Hetanews.com - Sejumlah pria bersenjata yang mengklaim diri anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), membunuh pria Selandia Baru di kantor tambang Freeport Papua, Indonesia.

Sekawanan penyerang bersenjata tersebut menembak mati seorang pria Selandia Baru dan melukai enam orang lainnya di kantor pertambangan Indonesia Freeport-McMoRan Inc pada Senin (30/3/2020), kata polisi, demikian lapor Reuters.

Orang-orang bersenjata melepaskan tembakan sekitar jam 2 siang. (03.00 GMT) di kantor yang berlokasi di Kota Timika, Provinsi Papua, ungkap PT Freeport Indonesia dalam sebuah pernyataan resmi.

Polisi mengatakan para penyerang adalah anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB). Namun, aparat enggan menjelaskan lebih lanjut detail motif dan kronologinya.

Separatis telah meluncurkan serangkaian serangan dalam beberapa tahun terakhir di daerah sekitar operasi Grasberg terdekat perusahaan  tambang tembaga terbesar kedua di dunia.

Penembakan dan penyergapan ini sendiri berlangsung secara sporadis. Kawanan OPM menyasar kendaraan yang bepergian dengan rute pasokan utama ke tambang.

PT Freeport Indonesia lagi-lagi menandaskan, pria Selandia baru yang tertembak itu merupakan salah satu anggota staf perusahaan. Lebih lanjut, dari enam korban lain yang cedera, dua di antaranya paling serius.

Adapun identitas tiga korban penembakan yang diketahui, yakni Graeme Thomas Weal (56), warga negara Selandia Baru yang meninggal karena luka tembakan ada dada kiri tembus ke belakang.

Selain itu, ada Jibril Bahar (49) yang terkena luka tembak di perut dan paha kanan, serta Ucok Simanungkalit (52) terkena serpihan peluru pada sikut kanan dan punggung belakang.

Selain ketiga korban luka tembak, ada dua korban yang juga mengalami trauma karena berada di lokasi kejadian, yaitu Yosephina dan Frans Firdaus. Pekerja lantas dievakuasi dari kantor di distrik Kuala Kencana kota dan dari daerah sekitarnya, tambah perusahaan.

Adapun kondisi keamanan perusahaan hingga berita ini diturunkan, konon masih dipantau secara intensif.

Meski demikian, juru bicara Freeport Indonesia Riza Pratama menjelaskan pada Reuter lewat pesan singkatinsiden penembakan itu tak berimbas banyak pada operasional perusahaan di lubang tambang.

Di tempat terpisah, juru bicara kepolisian Papua Ahmad Mustafa Kamal membenarkan, korban adalah warga negara Selandia Baru.

“Pasukan keamanan gabungan sedang melakukan pengejaran di kawasan hutan di Kuala Kencana,” kata Kamal dalam pernyataan itu.

Daratan Papua, yang berbagi jadi Pulau Papua dengan negara Papua Nugini, adalah koloni Belanda yang dimasukkan ke Indonesia setelah referendum yang didukung oleh PBB pada 1969.

Sejak itu, wilayah tersebut telah mengalami rentetan konflik separatis dengan berbagai eskalasi selama beberapa dekade.

Respons Dubes RI Untuk Selandia Baru

Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, mengucapkan belasungkawa sembari berharap publik internasional sadar ikhwal siapa sebenarnya KKB di Papua ini.

“Saya berharap hal tersebut dapat membuka mata banyak pihak mengenai wajah sesungguhnya kelompok kriminal bersenjata.” kata Tantowi dalam rilis resmi yang diterima redaksi Mata Mata Politik, Selasa (31/3/2020).

Berdasarkan rilis ini, polisi menjelaskan, penembakan di Freeport itu terjadi pada Senin (31/3/2020). Penembakan, imbuh polisi, didalangi oleh kelompok Joni Botak. Ada delapan orang pelaku yang terlibat dalam penembakan, tiga di antaranya menggunakan senjata laras panjang.

Menurut keterangan yang disampaikan Tantowi, polisi yang berhasil diidentifikasi, yakni Lino Mom Ilimar dan Antonius Aim.

“Penembakan di Kuala Kencana ini menambah beban masyarakat Papua dan aparat keamanan, yang tengah bekerja keras menanggulangi wabah COVID-19. Ini memperlihatkan bahwa kelompok kriminal bersenjata tidak mempedulikan dampak perbuatannya terhadap masyarakat Papua sendiri,” tutur Tantowi.

“Kelompok kriminal bersenjata selalu berdalih bahwa serangannya ditujukan kepada aparat keamanan. Namun, fakta menunjukkan, mayoritas korban adalah masyarakat sipil,” pungkasnya.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.