HETANEWS

Corona Indonesia: Ahli Ingatkan Lonjakan Kematian

Wisma Atlet Kemayoran disulap menjadi RS Darurat corona di Indonesia. Foto: Nusantara TV

Hetanews.com - Indonesia menyumbang hampir setengah dari 250 kematian yang dilaporkan dari seluruh Asia Tenggara. 

Presiden Indonesia Joko Widodo mengatakan, ia tengah berencana menerbitkan aturan yang lebih ketat mengenai mobilitas dan social distancing ketika sebuah studi justru memperingatkan risiko lebih dari 140.000 kematian akibat virus corona pada Mei 2020 Peringatan itu sangat mungkin terjadi jika pemerintah setempat tak melakukan tindakan yang lebih keras.

Para ahli medis mengatakan kepada 9News, negara terpadat keempat di dunia itu harus mengambil langkah dalam memberlakukan pembatasan yang lebih ketat karena kasus-kasus yang diketahui dari penyakit pernapasan menular ini telah meroket dari nol pada awal Maret 2020 menjadi 1414, dengan 122 kematian.

Indonesia menyumbang hampir setengah dari 250 kematian yang dilaporkan dari seluruh Asia Tenggara, tetapi kurang dari seperlima dari sekitar 8.400 kasus yang telah dikonfirmasi di kawasan ini. Hampir sepertiga dari kasus tersebut ada di Malaysia.

Sebagian besar infeksi di Indonesia terkonsentrasi di ibu kota Jakarta dan sekitarnya. Kota berpenduduk 10 juta jiwa ini telah menyatakan keadaan darurat hingga menutup sekolah dan tempat hiburan publik, tetapi sejauh ini belum ada lockdown penuh karena Presiden enggan memberlakukannya.

“Saya (sekarang) memerintahkan batasan sosial berskala besar, social distancing dipertegas, lebih disiplin, dan efektif,” kata Presiden Jokowi dalam pertemuan kabinet. Ia menekankan sebelumnya, hanya pemerintah pusat yang dapat memutuskan karantina regional.

Sementara itu, pada Senin (30/3/2020), Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengatakan, telah meminta Jokowi untuk menyetujui karantina regional, “lockdown” untuk Jakarta.

Dia mengatakan kepada Reuters , dia meragukan angka kematian sebenarnya yang telah diinformasikan oleh sejumlah rumah sakit sebanyak 283 pasien. Mungkin ada lebih banyak dari ini, tapi tak dirawat dengan prosedur standar pasien COVID-19.

“Ada jaminan dalam pengujian dan jumlah orang yang diuji sedang terbatas,” kata Anies, meminta otoritas pusat untuk bertindak lebih agresif.

“Rumah sakit telah memberi tahu kami, pasien memiliki penyakit menular ‘, tetapi mereka tidak mengatakan COVID19.”

Presiden telah mendorong social distanching tetapi mempertanyakan apakah orang Indonesia memiliki disiplin untuk penutupan penuh, berbeda dengan negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia, dan Thailand, tulis 9News.

Namun, ia tampaknya mempertimbangkan kembali pendekatan ini setelah para pakar kesehatan masyarakat mempresentasikan model prediksi kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Indonesia (Bappenas), pada Jumat, (28/3/2020).

Para pakar itu menggarisbawahi perlunya intervensi yang lebih kuat untuk mencegah peningkatan cepat dalam kasus infeksi dan kematian.

Model tersebut menunjukkan, Indonesia dapat memicu tiga tahap intervensi, yaitu ringan, sedang, dan tinggi. Yang terakhir akan mencakup tingkat pengujian yang sangat signifikan dan membuat social distancing menjadi wajib.

Dengan intervensi ringan, yang mencakup social distancing opsional dan membatasi kerumunan publik, para peneliti dari Universitas Indonesia mengatakan, jumlah korban virus dapat melonjak hingga lebih dari 140.000 di antara lebih dari 1,5 juta kasus pada Mei, tulis 9News.

“Ini hanya perkiraan konservatif,” ungkap Pandu Riono, salah satu peneliti kepada Reuters. “Namun, kita harus siap bahkan dalam situasi seperti ini.”

Riono mengkarakterisasi langkah-langkah yang saat ini diambil oleh Indonesia, dari pengujian cepat dan penempatan laboratorium regional hingga pengujian sampel, karena hanya mendekati intervensi ringan.

Para pakar kesehatan mengatakan, Indonesia menghadapi lonjakan kasus virus corona setelah respons pemerintah yang lambat. Pemerintah diyakini telah menutupi skala wabah di Tanah Air dengan tingkat pengujian yang masih sangat rendah dan kekurangan signifikan tempat tidur di rumah sakit, staf medis ,dan fasilitas perawatan intensif.

Sumber: matamatapolitik..com

Editor: tom.