HETANEWS.COM

Corona, Jokowi Perintahkan Impor Bahan Baku APD Dilonggarkan

Jokowi menyebut 28 produsen APD di dalam negeri siap memasok kebutuhan, namun butuh bahan baku yang diimpor. (Dok. Biro Sekretariat Presiden/Muchlis).

Jakarta, hetanews.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memerintahkan jajarannya untuk melonggarkan aturan impor bahan baku alat pelindung diri (APD). Sebab, pasokan APD di dalam negeri mulai menipis seiring dengan meningkatnya kasus positif virus corona.

"Untuk mendukung produksi APD saya juga minta diberikan kemudahan untuk bahan baku yang masuk dari impor. Berikan kemudahan," ujar Jokowi dalam video conference, Senin (30/3).

Ia juga meminta agar APD bisa diproduksi di dalam negeri, sehingga yang diimpor hanya bahan baku saja. Menurutnya, ada 28 produsen APD di Indonesia yang siap memasok kebutuhan di dalam negeri.

Berdasarkan data yang diterima, Jokowi menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 3 juta APD hingga akhir Mei 2020 mendatang. Ini lantaran jumlah pasien yang positif terinfeksi virus corona terus bertambah setiap hari.

"Karena itu saya minta dilakukan percepatan pengadaan untuk APD dan saya juga minta agar digunakan produk dalam negeri," tegas Jokowi.

Sebelumnya, pemerintah telah membebaskan bea masuk dan cukai terhadap barang impor yang digunakan untuk penanganan virus corona.

Mengutip laman resmi Sekretariat Kabinet, pemerintah juga memberikan kemudahan lainnya untuk mendatangkan barang impor terkait penanganan virus corona, yaitu tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), dikecualikan dari Pajak Penghasilan (PPh) 22 Impor, dan pengecualian tata niaga impor.

Barang impor yang akan diberikan kemudahan selain APD, yaitu alat medis, masker, dan hand sanitizer. Fasilitas ini bisa digunakan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, Badan Layanan Umum (BLU), yayasan atau lembaga nirlaba, dan perorangan atau swasta.

Sementara itu, Jokowi juga meminta seluruh apotek dan toko yang memasok kebutuhan sehari-hari tetap buka meski kini banyak perusahaan menerapkan bekerja dan rumah (work from home). Hal ini agar kebutuhan masyarakat tetap bisa terpenuhi.

"Tapi dengan tetap menerapkan protokol jaga jarak yang ketat," tandasnya.

sumber: cnnindonesia.com

Editor: sella.