HETANEWS

Social Distancing India, Privilese bagi Mereka yang Kaya

Beros Moni Das, salah satu warga miskin India. Foto: The New York Times/Saumya Khandelwal

Hetanews.com - Bagi pekerja harian di Mumbai, India, tinggal di rumah berarti membiarkan anak-anak dan istrinya mati. Menjaga jarak (social distancing) dan mematuhi peraturan penguncian wilayah demi mencegah penyebaran pandemi COVID-19 merupakan hak istimewa. Itu hanya bisa dilakukan oleh segelintir kecil masyarakat India yang relatif sejahtera.

Pada Selasa (24/3/2020), Perdana Menteri India Narendra Modi mengumumkan penutupan wilayah (lockdown) secara nasional selama 21 hari, salah satu langkah terkuat di tingkat nasional untuk mencegah penyebaran virus corona baru.

Keputusan itu menandai pergeseran tajam kebijakan India. Hanya seminggu sebelumnya, negara terpadat kedua di dunia itu dipandang sebagai anomali misterius yang relatif tidak terpengaruh oleh pandemi COVID-19 yang mematikan.

Namun, begitu penguncian dimulai, jumlah kasus yang dikonfirmasi di India mulai tumbuh secara eksponensial, meningkat menjadi 933 pada Sabtu (28/3/2020).

Sementara India telah mengambil tindakan tegas, terdapat kekhawatiran hal itu sudah terlambat serta terlalu banyak orang miskin dan tunawisma di negeri itu akan berisiko terpapar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan penyebaran pandemi COVID-19 sudah berlangsung sejak 11 Maret 2020 lalu.

Saat itu, India menolak melabelinya sebagai keadaan darurat kesehatan dan sebagian besar negara di dunia menolak mengambil langkah tegas. Bahkan sekarang, India baru menguji kurang dari 30.000 orang, mewakili salah satu tingkat pengujian terendah di dunia.

Menurut proyeksi Ramanan Laxminarayan, ahli kesehatan masyarakat terkemuka dan direktur Center for Disease Dynamics, Economics, and Policy yang berpusat di Amerika Serikat, meskipun telah menerapkan lockdown, puncak pandemi kemungkinan akan melanda India pada akhir April atau awal Mei 2020, sementara sekitar sejuta orang akan membutuhkan tempat tidur rumah sakit dan perawatan kritis pada saat itu.

Di sinilah bencana yang sebenarnya. India hanya memiliki 0,5 tempat tidur rumah sakit per 1.000 orang (Italia memiliki lebih dari enam kali lebih banyak) dan menghabiskan hanya 3,7 persen dari PDB untuk kesehatan (Amerika Serikat membelanjakan 17 persen dari PDB untuk perawatan kesehatan).

Sementara itu, India telah mengalokasikan sejumlah besar uang untuk membangun patung-patung tertinggi di dunia sebagai wujud nasionalisme yang menjengkelkan.

Tahun lalu, Yogi Adityanath, kepala menteri Uttar Pradesh, negara bagian terpadat di India, menyisihkan US$91 juta untuk pembangunan patung dewa Hindu Rama, bahkan ketika ratusan orang di negaranya telah meninggal karena penyakit ensefalitis atau radang otak dalam beberapa tahun terakhir, dengan fasilitas darurat utama kekurangan tabung oksigen yang diperlukan.

Tujuan Adityanath adalah membangun patung yang lebih tinggi dari patung pejuang kemerdekaan Sardar Vallabhbhai Patel setinggi 0,18 kilometer, yang diresmikan oleh Modi pada 2018 dan menelan biaya US$400 juta.

Masalahnya bukan hanya kesalahan alokasi dana jangka panjang. Bahkan ketika Modi mengumumkan penguncian wilayah pada 24 Maret tanpa menyebutkan bagaimana rakyat India akan mendapatkan persediaan kebutuhan sehari-hari, kata-katanya telah memicu kepanikan.

Orang-orang bergegas ke jalanan dalam jumlah besar sebelum Modi bisa menyelesaikan pidatonya. Apotek dipenuhi dengan wajah-wajah gelisah, sementara seruan menjaga jarak (social distancing) dengan cepat dilupakan. Di supermarket, keluarga yang gelisah membeli barang-barang kebutuhan pokok. Susu dan telur segera diborong habis dari rak pusat perbelanjaan.

Namun, sementara orang-orang dengan hak istimewa yang merupakan minoritas kecil di India mampu mengisi lemari es mereka dengan persediaan kebutuhan selama berminggu-minggu, kalangan pekerja dan buruh harian negara itu berbondong-bondong pulang ke kampung halaman mereka, seringkali dengan bertelanjang kaki, beberapa dengan menggendong bayi yang diikat ke punggung mereka dan anak-anak kecil menangis di belakangnya sementara polisi memukuli mereka tanpa ampun karena melanggar aturan jam malam.

Di Mumbai, ibu kota keuangan India, sekitar 300 pekerja migran menjejalkan diri mereka sendiri di truk kontainer makanan sehingga mereka bisa mencapai rumah jauh dari pengawasan polisi yang bersiap menggebuk dengan tongkat.

Foto-foto menyedihkan para pria muda dengan tubuh telanjang berkeringat yang keluar dari kontainer penuh sesak menjadi berita utama di sejumlah kanal televisi negara itu.

Di wilayah tetangga Dharavi, daerah kumuh terbesar di Asia dengan populasi 1 juta di daerah kurang dari 1,6 kilometer persegi, para pekerja tertawa ketika mereka ditanya apakah telah mempraktikkan menjaga jarak dalam keseharian.

Menurut analisis Rana Ayyub dari Foreign Policy, bahkan berbicara tentang menjaga jarak terasa tidak layak di dekat ruangan yang terdiri dari delapan orang yang berjejalan dengan hampir tidak ada ruang untuk bernapas.

Ghanshyam Lal, buruh migran yang bekerja di penyamakan kulit Mumbai, telah memberi makan delapan orang di sebuah keluarga dengan upah hariannya sebesar US$3 sehari.

Dia mengaku tidak peduli tentang virus corona baru daripada tanggung jawab menyediakan makanan di atas meja. Lal khawatir tentang istrinya Asha yang sedang menjalani dialisis di rumah sakit pemerintah dan sekarang mungkin akan diusir untuk memberi tempat bagi pasien yang lebih kaya yang dites positif terjangkit virus.

“Betapa mudahnya bagi perdana menteri untuk mengatakan jangan keluar dari rumah. Jika saya tidak bekerja selama seminggu, anak-anak saya dan istri saya akan mati.”

Perdana Menteri India Modi.
Foto: Shutterstock

Ketakutan Lal tidak berlebihan. Di kota dengan populasi 20 juta jiwa, rumah sakit pemerintah hanya memiliki 400 ventilator dan seribu tempat tidur untuk perawatan intensif.

Di Rumah Sakit Kasturba Gandhi di Mumbai, yang mengambil sebagian besar pasien yang dites positif terkena virus corona baru, dokter-dokter mengaku, tetangga mereka menjauhkan diri dari para anggota keluarga dokter.

“Kami menyelamatkan nyawa orang-orang. Kami hanya bisa bersedih di kamar mandi sementara kami diperlakukan seperti kasta rendahan di luar rumah sakit.”

Pada Minggu (22/3/2020), orang-orang kaya India keluar di balkon mereka bertepuk tangan dan membenturkan alat dapur untuk menandai hari jam malam nasional.

“Modi, Modi,” seru mereka. Itu adalah perayaan nasionalisme yang salah tempat, sekaligus menyoroti kesenjangan mendasar di India. Di satu sisi, ada kelas menengah ke atas negara itu, kaum elit yang telah memborong cairan pembersih tangan, puree mangga, dan kopi bubuk, serta mengunggah swafoto patriotik di media sosial.

Namun, kalangan kelas bawah dengan jumlah yang jauh lebih besar, kaum miskin India yang berjuang melawan kemiskinan, tidak memiliki akses ke sabun, air, atau toilet, dan hidup berjejalan di daerah kumuh. Orang-orang tersebut juga sangat rentan terjangkit virus. Bagi mereka, menjaga jarak adalah hak istimewa yang aneh.

Ketidaksiapan perawatan kesehatan dan sistem sosial India untuk menangani pandemi COVID-19 diperburuk oleh penegakan hukum yang abai situasi dalam mengerahkan kekuatan brutal terhadap rakyatnya.

Pada Rabu (25/3/2020) saat penguncian wilayah dimulai, seorang pria berusia 32 tahun dipukuli hingga tewas oleh polisi di Benggala Barat ketika dia keluar untuk membeli susu bagi keluarganya.

Ketika polisi tidak membantai orang miskin, mereka mengabaikan penderitaan buruh migran yang berjalan berkilo-kilometer dari satu negara bagian ke negara bagian lain untuk mencoba menjangkau keluarga mereka dengan perut kosong dan tanpa transportasi umum.

Rahul Musahar, bocah lelaki berusia 11 tahun yang dulu bekerja dengan ayahnya setiap hari, dipindahkan ke rumah sakit pemerintah di Distrik Bhojpur di Bihar minggu lalu.

Musahar belum makan dalam tiga hari. Ibunya yang sedang mengandung anak keduanya berusaha mati-matian untuk memberi makan dirinya sendiri dan putranya.

Karena penguncian wilayah, ayah Musahar yang hanya mendapatkan sedikit uang untuk bertahan hidup dalam sehari, tidak bisa menyediakan makanan.

Musahar meninggal sekembalinya dari rumah sakit, bukan dibunuh oleh virus tetapi oleh kelaparan. Kelaparan yang sama juga berpotensi membunuh banyak orang di India jika pemerintah tidak mengambil tindakan segera.

Mungkinkah India menyiapkan diri dengan lebih baik?

Pada Februari 2020, sementara sebagian besar dunia termasuk negara tetangga China melontarkan kekhawatiran tentang virus corona baru yang menyebar cepat, India menjadi berita utama global karena pembantaian berdarah di ibu kota negara itu, New Delhi.

Sebanyak 54 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka. Semua kematian itu dipicu oleh ujaran kebencian dari menteri-menteri papan atas di kabinet Modi. Polisi kota hanya menyaksikan dan tidak berbuat apa-apa.

Sementara dunia bergegas menyetok masker dan sarung tangan, India sibuk memadamkan api komunal yang dipicu oleh pemerintahnya sendiri.

Ilustrasi warga miskin India yang terancam karena kebijakan social distancing PM Modi.
Foto: Reuters

Ribuan keluarga mengungsi dalam kekerasan New Delhi. Keluarga mereka meringkuk di rumah sakit dan penghidupan mereka hancur. Mereka terpaksa tinggal di kamp-kamp penampungan sementara di ibu kota. Kemudian, ketika India tiba-tiba tersadar akan ancaman COVID-19, kamp-kamp itu tiba-tiba diratakan dengan tanah dan para pengungsi dibiarkan tanpa bantuan.

India yang sudah bergulat dengan tingkat pengangguran terburuk dalam beberapa dekade serta nasionalisme yang meningkat dan memecah belah sekarang harus menghadapi pandemi COVID-19 yang akan memukul ekonominya.

Wabah virus corona baru terutama menimbulkan dampak dahsyat bagi para pekerja informal yang tidak memiliki perawatan kesehatan atau jaring pengaman sosial. Menurut WHO, India memiliki peran besar dalam mengendalikan pandemi kali ini. India adalah rumah bagi seperenam populasi dunia.

Sementara keputusan pemerintah India untuk mengunci wilayah telah dilakukan secara terlambat, langkah itu berpotensi meminimalisir kerusakan.

Dengan semua bentuk transportasi umum dibatalkan, termasuk maskapai penerbangan domestik dan internasional, perjalanan dan perkumpulan massal akan berkurang drastis.

Namun, langkah berani seperti ini perlu disertai dengan solusi bagi warga miskin India yang kurang beruntung secara ekonomi dan sosial. Beberapa minggu ke depan akan sangat penting bagi seluruh India, Rana Ayyub dari Foreign Policy menyimpulkan, terutama bagi kalangan miskin.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Ikuti Heta News di Facebook, Twitter, Instagram, YouTube, dan Google News untuk selalu mendapatkan info terbaru.