HETANEWS.COM

Cinta dan Rivalitas: AS Memandang China Musuh atau Teman?

Presiden China Xi Jinping, Ibu Negara Peng Liyuan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan Ibu Negara Melania menghadiri makan malam kenegaraan di Aula Besar Rakyat di Beijing, China, 9 November 2017. Foto: Reuters/Thomas Peter

Hetanews.com - Bisakah AS dan China menjadi saingan yang kejam dan mitra yang intens di waktu bersamaan, terutama di musim pandemi COVID-19 sekarang?

Mengutip pernyataan Presiden Kennedy saat menjelaskan perlunya kerjasama dengan Uni Soviet dalam menghadapi bahaya nuklir: “Kita semua menghirup udara yang sama. Kita semua menghargai masa depan anak-anak kita, dan kita semua fana. “

Graham Allison dan Christopher Li menulis di National Interest, demi mengalahkan virus corona, Amerika memerlukan identifikasi, apakah China akan dianggap sebagai musuh atau kawan?

Sementara, konsensus di Washington cenderung mendefinisikan China sebagai sumber masalah, faktanya adalah kita tidak dapat berhasil memerangi virus corona tanpa menjadikan China bagian dari solusi.

Persaingan antara AS dan China akan menjadi penentu hubungan mereka sejauh ini. Itu jadi konsekuensi yang tak terhindarkan dari realitas struktural.

Sekeras apapun orang menyangkalnya, China yang naik cepat memimpin perang melawan COVID-19 pun perang dagang, benar-benar berpotensi menggeser posisi AS dari urutan kekuasaan.

Terlepas dari kenyataan ini, ketika dihadapkan pada ancaman khusus yang tidak dapat dikalahkan sendiri, apakah negarawan AS bisa legowo menjadikan China sebagai lawan sekaligus mitra strategis?

Virus tidak membawa paspor, tidak memiliki ideologi, dan tidak peduli batas. Ketika tetesan liur, dahak, batuk, dan bersin pasien corona dihirup oleh orang sehat, dampaknya akan menyerang siapa saja, entah orang Amerika, Italia, atau China. Fakta yang tak terhindarkan adalah sebanyak 7,7 miliar orang yang hidup hari ini menghuni satu planet kecil, Bumi.

Seperti yang dicatat oleh Presiden Kennedy dalam menjelaskan perlunya koeksistensi dengan Uni Soviet dalam menghadapi bahaya nuklir: “Kita semua menghirup udara yang sama. Kita semua menghargai masa depan anak-anak kita, dan kita semua fana. ”

Ketika krisis melanda, pertanyaan pertama yang banyak ditanyakan adalah: Siapa yang harus disalahkan? Dalam hal ini, China memang terasa cocok mengambil peran antagonis. Di mana corona pertama kali muncul?

Di Tiongkok. Siapa yang gagal menghentikan krisis sejak awal? Otoritarianisme Tiongkok lah yang telah menekan laporan awal, menunda transmisi berita buruk kepada atasan, dan menyembunyikannya.

Terlepas dari upaya terbaik pemerintah China untuk menulis ulang narasi sejarah, itu tidak dapat menyamarkan fakta, ada banyak alasan kenapa kita patut menyalahkan Tiongkok.

Di sisi lain, ada sinyalemen pemerintah Paman Sam hanya mengkambinghitamkan China sebagai alibi untuk lari dari tanggung jawabnya.

Presiden Trump bersikeras menyebut patogen itu “virus China.” Seorang Senator Republik terkemuka memberi makan para ahli teori konspirasi di media sosial dengan menyebut, virus ini telah “melarikan diri” dari laboratorium bio-senjata Tiongkok.

Padahal, tantangan mendesak yang dihadapi Amerika mengalahkan corona bukanlah China. Kegagalan mereka sendiri untuk memobilisasi respons sesuai dengan ancaman.

Berapa minggu setelah negara-negara seperti Singapura dan Korea Selatan mulai menerapkan langkah-langkah darurat, kenapa pemerintah AS tetap menolak?

Siapa yang gagal mempersiapkan patogen berikutnya setelah melihat versi film ini sebelumnya dengan merebaknya MERS pada 2012, Swine Flu pada 2009, dan SARS pada 2003?

Di dunia di mana Korea Selatan mulai menguji 10.000-20.000 warga per hari dalam beberapa minggu, kenapa pemerintah AS masih gengsi menirunya?

Seorang pelanggan berbelanja di Wasabi Store di Penn Station di New York, Amerika Serikat, Senin, 16 Maret 2020.
(Foto: Lev Radin/Pacific Press/LightRocket/Getty Images)

Mengakui fakta-fakta buruk tentang kegagalan sendiri, dan mengakui keberhasilan orang lain, tidak berarti menyiratkan kesetaraan moral.

Seperti kebanyakan orang Amerika, mereka mestinya berangkat dengan keyakinan, demokrasi di negara itu pada dasarnya baik, dan otoritarianisme China yang dipimpin Partai Komunis yang menyangkal hak warganya adalah hal tak terpuji.

Namun, fakta-fakta lain sulit disangkal. Setelah satu bulan keterlambatan, pada 20 Januari 2020 pemerintah China secara terbuka mengakui ancaman itu, mengumumkan virus dapat menular dari manusia ke manusia.

Dua minggu sebelumnya, ia memberi tahu WHO tentang penyakit ini, merangkai genom, dan mengunggahnya secara online, sehingga para ilmuwan di seluruh dunia dapat memulai pencarian vaksin.

(Perusahaan yang berbasis di Boston, Moderna, mendengar panggilan itu dan dalam waktu kurang dari dua bulan menciptakan vaksin yang sekarang telah memasuki labirin pengujian pemerintah AS).

Begitu negara itu mengakui ancaman dan mengakui ini sebagai  “krisis dan ujian besar,” pada 21 Januari 2020, China melakukan perang paling agresif terhadap virus yang pernah ada di dunia. Ini termasuk mengunci Wuhan, kota bermukimnya 10 juta orang di mana virus pertama kali muncul. Penguncian juga berlangsung hingga daerah lain di Provinsi Hubei.

Metode pengunciannya pun sangat ketat, dengan menempatkan pos pemeriksaan pengujian wajib di sekitar kota di lingkungan perumahan dan titik transit publik; mengubah hotel, stadion, dan sekolah menjadi pusat medis darurat; membanjiri kota dengan ribuan pekerja konstruksi demi membangun rumah sakit baru secara kilat (satu rumah sakit 1.000 tempat tidur dibangun dalam sepuluh hari); dan mengerahkan puluhan ribu personel militer China (PLA) untuk mendistribusikan pasokan medis dan mengelola operasi.

Pengumuman dari pemerintah China tidak akan pernah bisa diterima begitu saja. Pemerintahnya telah memanipulasi data. Tidak dapat dipungkiri, para pejabat Beijing telah bekerja keras berusaha membentuk narasi yang menyamarkan kegagalan mereka pada fase pertama usaha ini.

Seorang Wakil Juru Bicara untuk Kementerian Luar Negeri China telah memiliki keberanian untuk mengepulkan teori konspirasi yang dipropagandakan bahwa Angkatan Darat AS memperkenalkan virus tersebut.

Namun, terlepas dari kebisingan tersebut, pada titik ini, bukti dari semua sumber menunjukkan, upaya ini sebenarnya telah berhasil menekuk kurva infeksi ke nol. Toko Amerika termasuk Apple, Starbucks, dan McDonalds sekarang terbuka kembali untuk bisnis di China.

Sementara itu, dilansir dari National Interest, yang penting bagi AS saat ini adalah melakukan segala yang mungkin untuk menghentikan virus corona dari menginfeksi jutaan warga negara dan menewaskan ratusan ribu orang.

Jika ilmuwan medis di China mampu mengembangkan obat anti-virus yang mengurangi dampak pada yang terinfeksi, haruskah orang Amerika mengimpornya?

Bayangkan dalam satu atau dua bulan berikutnya para ilmuwan China menciptakan vaksin sementara otoritas Amerika bersikeras mereka tidak akan memilikinya untuk lebih dari satu tahun. 

Setelah terbukti efektif di Singapura atau Korea Selatan, apakah pembaca akan menunggu FDA mereka?

Mengingat seruan teriakan dari rumah sakit di seluruh AS dan responden lini pertama untuk masker N-95, jika China siap mengirim jutaan masker ke AS, seperti yang terjadi di Italia baru-baru ini, haruskah orang Amerika menyambut mereka?

Jika pelajaran yang telah dipelajari China dalam menciptakan corong diagnostik  mulailah dengan pengambilan suhu, berikan pada mereka yang menderita demam pemindaian CT, dan jika seseorang masih dicurigai terkena corona, maka lakukan uji swab semua cara yang telah terbukti efektif.

Jadi, haruskah kita menolak untuk belajar dari pengalaman China?

Kita seharusnya tidak menyembunyikan ilusi. Pada saat yang sama, kekalahan pandemi ini menggarisbawahi kepentingan nasional yang vital, baik AS maupun China tidak dapat diamankan tanpa kerja sama yang lain.

Kedua negara akan memiliki konsekuensi mendalam bagi persaingan yang lebih besar untuk persoalan kepemimpinan. Dari pertumbuhan ekonomi selama dua bulan bulan ke depan, hingga kepercayaan warga negara terhadap pemerintah. Masing-masing keberhasilan dan kegagalan dalam memenuhi ujian ini akan sangat berarti.

Sayangnya, sebagian besar komentar tentang aspek krisis ini nyaris tenggelam oleh upaya China untuk memanipulasi narasi. Tentu saja, China dengan penuh semangat menjual alur ceritanya dan fakta-fakta menenangkan untuk menunjukkan dirinya dengan cara terbaik.

Dalam perang nyata, mayat dihitung. Di bidang ekonomi, pertumbuhan riil menghasilkan lebih banyak barang. Dalam hubungan dengan negara-negara lain, kedatangan peralatan medis sangat dibutuhkan.

Hari ini, pasar keuangan bertaruh China pada dasarnya telah berhasil dalam pertempuran pertama ini. Jika setelah penurunan tajam pada kuartal pertama, sekarang kembali ke pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan AS bergoyang-goyang di antara jurang resesi dan depresi, maka kesenjangan antara PDB AS dan China bakal makin tajam.

Selain itu, kita jangan pernah melupakan kanvas yang lebih besar. Narasi Tiongkok adalah kisah kebangkitannya yang tak terhindarkan dan kemunduran Amerika. Sebuah negara yang memulai abad ini dengan PDB kurang dari seperempat penduduk Amerika, tapi kini telah melampaui AS untuk menciptakan ekonomi yang lebih besar.

Seorang militer yang terpaksa mundur dalam krisis Selat Taiwan pada 1996 ketika AS mengirim dua kapal induk ke teater selama dua dekade terakhir, telah membangun gudang senjata rudal yang akan memaksa AS untuk membuat pilihan berbeda.

Pun, sebagai buntut dari krisis keuangan 2008, kepemimpinan China menjelma sebagai negara kuat, meninggalkan AS yang terjebak dalam stagnansi sekuler.

Peluang Untuk Berkalaborasi

Ilustrasi tenaga medis meneliti spesimen laboratorium pasien corona.
Foto: The Jakarta Post

Pencarian ilmu pengetahuan tentang penyakit, penemuan obat-obatan, dan pengembangan protokol untuk pencegahan dan penyembuhan secara terbuka, butuh kerja sama internasional. Biomedis maju melalui penemuan di laboratorium seluruh dunia.

Penelitian secara inheren bersifat kolaboratif, lebih dari sepertiga artikel ilmiah yang diterbitkan oleh orang Amerika saat ini memiliki setidaknya satu rekan penulis asing. Sepertiga dari semua gelar doktor Amerika di STEM diperoleh oleh siswa China.

Jadi dalam kampanye untuk mengalahkan corona sekarang, dan membangun fondasi untuk mencegah pandemi yang disebabkan oleh virus baru di masa depan, AS dan China harus terlibat sebagai mitra, setidaknya dalam tiga bidang.

Pertama adalah data dari genom hingga epidemiologi. Sebagai virus baru, kita belajar lebih banyak tentang hal itu setiap hari karena lebih banyak data dikumpulkan dan dianalisis. Namun, kelangkaan data berkualitas di berbagai “laboratorium”, akan jadi ganjalan sendiri.

Ketika para ilmuwan China dengan cepat merangkai genom corona dan merilisnya ke dunia, mereka memungkinkan upaya penelitian global besar-besaran.

Dua minggu kemudian, para ilmuwan menggunakan urutan untuk mengonfirmasi mekanisme virus saat memasuki sel-sel yang terinfeksi, sebuah temuan yang direproduksi oleh laboratorium China pada hari berikutnya.

Bahkan, perburuan untuk vaksin saat ini sedang berlangsung bergantung pada rilis awal genom virus. Ketika uji coba vaksin pertama dimulai di Amerika, seperti yang diamati oleh Direktur NIAID Anthony Fauci, itu adalah “yang tercepat yang pernah kita dapatkan dari saat kita mendapatkan urutan ke waktu menjadi manusia.”

Terlebih lagi, dengan informasi genom, para ilmuwan dapat membandingkan infeksi dan memetakan penyebaran virus secara cermat, dengan cara yang mirip dengan membangun pohon keluarga.

Kedua, melibatkan diagnosis dan langkah-langkah kesehatan masyarakat. Jika China mengembangkan proses yang efisien untuk menyaring orang-orang di bandara, bisnis, dan sekolah, dapatkah Amerika Serikat mengadopsinya?

Sebaliknya, jika peneliti mengembangkan dan memvalidasi diagnostik tinggi yang terbukti lebih murah, cepat, dan akurat, apakah itu tidak akan dibagikan?

Dari US$22 miliar peralatan medis yang diimpor Amerika Serikat setiap tahun, banyak di antaranya sangat penting bagi sistem perawatan kesehatan Amerika untuk menanggapi jumlah kasus COVID-19 yang meroket di dalam negeri, sekitar seperempatnya datang dari China sebelum perang tarif.

Ketiga adalah penelitian biomedis. Harvard Medical School baru-baru ini mengumumkan kolaborasi baru dengan mitra China untuk mengalahkan COVID-19. Pemimpin mitra China Zhong Nanshan, dokter yang juga memimpin satuan tugas virus corona pemerintah China pada 2003 jadi orang pertama yang mengidentifikasi SARS.

Perusahaan patungan Harvard-Guangzhou Institute ini berupaya memahami biologi dasar virus SARS-CoV-2 dan cara-cara berinteraksi dengan virus guna mempercepat pengembangan diagnostik dan perawatan yang lebih baik.

Untuk mengembangkan antivirus, misalnya, para ilmuwan perlu memahami bagaimana virus menginfeksi manusia dan mengidentifikasi pintu yang digunakan coronauntuk memasuki sel inang, dapat memberikan petunjuk untuk merancang kunci.

Singkatnya, alih-alih melakukan demonisasi bersama, orang Amerika dan China mesti berpikir untuk bersama-sama mengalahkan musuh yang mematikan ini. Kemitraan, meskipun hanya kemitraan terbatas, dengan demikian merupakan kebutuhan strategis.

Bisakah AS dan China menjadi saingan yang kejam dan mitra yang intens pada saat yang sama?

Memegang dua gagasan yang tampaknya saling bertentangan di kepala kita secara bersamaan akan sulit. Tetapi keberhasilan dalam mengalahkan iblis ini tidak membutuhkan apa-apa.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!

Masukkan alamat E-mail Anda di bawah ini untuk berlangganan artikel berita dari Heta News.

Jangan lupa untuk memeriksa kotak masuk E-mail Anda untuk mengkonfirmasi!