HETANEWS

Pasien Positif Covid-19 Yang 'Sembrono' Keliaran Di Indonesia Bakal Diburu Badan Intelijen

Logo BIN. Foto: dok

Hetanews.com - Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia kian meluas. Hingga Sabtu (28/3) hari ini, jumlah pasien positif Covid-19 di Tanah Air telah mencapai angka 1.155 dan tersebar di 29 provinsi.

Demi menekan angka penyebaran ini, Badan Intelijen Negara (BIN) pun ikut turun tangan. BIN akan memburu pasien positif Covid-19 yang masih berkeliaran di masyarakat.

BIN juga terus memburu saudara-saudara kita yang sembrono sudah tahu terpapar tapi terus beredar," tutur Juru Bicara BIN, Wawan ujar Purwanto, dilansir Kumparan pada Sabtu (28/3) hari ini.

Lebih lanjut, Wawan juga mengaku bahwa BIN saat ini telah bekerjasama dengan aparatur negara lainnya untuk mendatangkan obat-obatan dan peralatan medis guna "memerangi" pandemi corona. Wawan menjelaskan bahwa pihaknya bersatu untuk mengedukasi masyarakat di tengah pandemi ini.

"BIN dan seluruh aparatur negara tetap lakukan yang terbaik untuk rakyat. BIN dan aparatur negara terus datangkan obat dan APD serta alkes dari berbagai penjuru, meskipun belum sempurna tapi terus diupayakan secara maksimal. Kita bersatu dalam mengedukasi masyarakat," ungkap Wawan.

"BIN juga terus bersinergi dengan kementerian lembaga terkait, bahu membahu, siang malam terus bergerak mencari solusi terbaik untuk negeri. Aparat bersama masyarakat menyemprot disinfektan, membagi masker, hand sanitizer, halo-halo membubarkan kerumunan."

Lebih lanjut, Wawan menuturkan bahwa BIN berharap masyarakat bisa bersatu dalam menghadapi pandemi corona ini.

"Memang kita harus bekerjasama, saatnya bela negara, perang rakyat semesta hadapi pandemi corona sampai tuntas. Tidak ada kata menyerah, tidak ada kata menelantarkan rakyat," tutur Wawan.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia dinilai masih "lunak" dalam menangani kasus corona. Lunak di sini maksudnya, tindakan hanya sebatas imbauan untuk tetap berada di rumah, social distancing dan meliburkan sekolah.

Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur Institute For Demographic and Poverty Studies (IDEAS), Yusuf Wibisono. Jika kondisi dibiarkan berlanjut maka di hari ke-50 bisa meningkat menjadi 10 ribu kasus yakni 20 April. Dan skenario terburuk, pada pada hari ke-70 yakni sekitar pertengahan Mei 2020 jumlah kasus bisa mencapai 200 ribu.

Sumber: wowkeren.com

Editor: tom.