HETANEWS

Manuver China untuk Lindungi Kepentingannya di Timur Tengah

Presiden China Xi Jinping dan Putra Mahkota Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan tiba di istana presiden di ibukota Uni Emirat Arab, Abu Dhabi pada tanggal 20 Juli 2018. Foto: AFP/Getty Images/Karim Sahib

Hetanews.com - Kapan payung pertahanan AS yang sudah lama menaungi Teluk Persia, wilayah yang paling termiliterisasi di dunia, digantikan oleh pengaturan keamanan multilateral China dan Rusia?

Komitmen AS yang semakin berkurang terhadap Teluk Persia dan wilayah Timur Tengah yang lebih luas, serta meningkatnya keraguan tentang nilai payung pertahanannya membuat Teluk terjebak dalam ketidakpastian.

Payung AS menyusut, tetapi baik China maupun Rusia tidak mampu atau tidak mau memikul tanggung jawab, risiko politik, dan biaya untuk menggantikan payung AS, terlepas dari kepentingan mereka.

China memiliki kepentingan untuk mengamankan pengaruh politik dan ekonominya yang semakin berkembang di Teluk, termasuk memastikan aliran minyak dan gas serta melindungi investasi infrastrukturnya di kawasan itu.

Meskipun demikian, China sejauh ini masih menahan diri untuk mengerahkan kekuatannya, alih-alih, mereka menunggangi kehadiran militer regional AS. Sejak lama, China telah mendapatkan perlindungan gratis dari AS.

Bagi AS, keamanan di Teluk dikerahkan demi menjaga kepentingan nasional AS, termasuk perlindungan aset China. Yang perlu dilakukan China adalah membuat gerakan minimal, seperti berkontribusi pada upaya multi-nasional di Teluk dan perairan yang berdekatan untuk melawan perompak Somalia.

Presiden Iran Hassan Rouhani dan Presiden China Xi Jinping berjalan bersama saat upacaya penyambutan di istana kepresidenan di Tehran bulan Januari 2016.
Foto: EPA

Sementara itu, China bisa mengejar strategi jangka panjang untuk meningkatkan kemampuannya.

Strategi itu termasuk pembangunan proyek infrastruktur yang terkait Inisiatif Sabuk dan Jalan, atau Belt and Road Initiative (BRI) dengan tujuan ganda (seperti pelabuhan strategis Gwadar di Pakistan dan Duqm di Oman serta investasi komersial di Jebel Ali Dubai), pembangunan fasilitas militer luar negeri pertama China di Djibouti, dan pengeluaran yang signifikan untuk meningkatkan angkatan bersenjata China.

Semua itu dapat berubah dengan adanya kebijakan “America First” yang digadang-gadang Presiden AS Donald J. Trump.

Kebijakan itu telah menjadi pemicu perang dagang dengan China (yang dipandang sebagai pesaing strategis AS) dan tampaknya telah mengganggu stabilitas regional, dengan secara tidak langsung menyelaraskan kebijakan AS dengan kebijakan Arab Saudi dan Israel dan menargetkan Iran sebagai sumber segala kejahatan.

Perubahan ini belum diterjemahkan ke dalam pernyataan atau tindakan tertentu China. Meskipun demikian, perubahan arsitektur keamanan dari unipolar ke multilateral di Teluk telah membuka peluang diselenggarakannya latihan angkatan laut bersama pertama yang melibatkan pasukan angkatan laut China, Rusia, dan Iran, serta dukungan China pada proposal pendekatan keamanan multilateral di Teluk oleh Rusia.

Meski demikian, China telah mengindikasikan latihan militer bersama maupun hubungan dekatnya dengan sejumlah negara Timur Tengah lainnya tidak berarti negara itu ingin memiliki peran lebih besar dalam keamanan regional dalam waktu dekat.

Proposal yang diajukan Rusia, dalam banyak hal, sesuai dengan kebijakan-kebijakan China. Seruannya untuk pembentukan struktur multilateral melibatkan Rusia, China, AS, Eropa, dan India, yang akan berkembang dari konferensi keamanan regional di sepanjang garis Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, atau Organisation for Security and Cooperation in Europe (OSCE).

Meski China secara general mendukung proposal Rusia, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang tidak menyebut dukungan khusus untuk proposal itu. Geng menyatakan pihaknya menyambut ‘semua proposal dan upaya diplomatik yang kondusif untuk meningkatkan situasi di kawasan Teluk’.

Keengganan China untuk mendukung proposal Rusia dengan lebih sepenuh hati berakar pada pendekatan yang berbeda terhadap multilateralisme pada umumnya dan aliansi pada khususnya.

China telah menjauh dari aliansi, mereka lebih menekankan pada geo-ekonomi daripada geopolitik, sementara Rusia masih memprioritaskan aliansi.

Meskipun China masih menunjukkan dukungannya pada kepemimpinan AS yang berkelanjutan, China mengharapkan perluasan pengaturan keamanan yang akan menambah, alih-alih menggantikan, payung pertahanan AS di Teluk sebagai cara untuk mengurangi ketegangan regional.

China juga percaya pengaturan multilateral akan memungkinkannya untuk terus menghindari konflik dan perselisihan di Timur Tengah, khususnya persaingan Saudi-Iran.

Pengaturan multilateral di mana AS tetap menjadi pemain militer utama akan lebih sesuai dengan pola proyeksi bertahap China atas kekuatan militernya yang berkembang di luar perbatasannya.

Lebih mendasar lagi, pendekatan China yang didasarkan pada kepercayaan ekonomi dan bukan geopolitik adalah kunci untuk menyelesaikan perselisihan, yang sejauh ini memungkinkannya untuk lepas tangan dari berbagai konflik di Timur Tengah.

Namun, masih belum bisa dipastikan berapa lama pendekatan itu akan bertahan. Pendekatan semacam itu tidak mungkin melindungi China selamanya dari ‘kegemaran’ Timur Tengah untuk berkonflik.

Seperti yang dikatakan Jiang Xudong, peneliti Timur Tengah di Akademi Ilmu Sosial Shanghai: “Investasi ekonomi tidak akan menyelesaikan semua masalah lain ketika ada konflik agama dan etnis yang sedang terjadi,” dikutip dari Eurasia Review.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.