HETANEWS

Wajah Kemanusiaan dalam Bencana Corona

Seorang petugas kesehatan Kongo memberikan vaksin ebola kepada seorang anak di Pusat Kesehatan Himbi di Goma, Republik Demokratik Kongo, 17 Juli 2019. Foto: Reuters/Olivia Acland

Hetanews.com - Seorang ibu memohon kepada petugas polisi di perbatasan Wuhan agar membiarkan anaknya yang sekarat karena leukimia, bisa keluar dari kota zombie itu. Di Afrika Tengah, relawan medis memberikan bantuan tanpa diminta meski ancaman kematian dan kekerasan sewaktu-waktu menghadang mereka. Wajah kemanusiaan?

Wuhan bak kota mati. Jalanan lengang, toko-toko tutup, orang yang diterkam ketakutan akan virus corona pun memilih berdiam di rumah. Kesibukan hanya tampak di beberapa sisi kota, salah satunya di perbatasan yang ditandai dengan jembatan penghubung sungai Yangtze dan wilayah luar Provinsi Hubei, China.

Aparat berseragam lengkap, kadang berbalut hazmat atau hazardous–pakaian pelindung partikel berbahaya–menunggu dengan wajah cemas, kendati tetap siaga. Hari itu, sabtu (1/2/2020), seorang perempuan berusia 50 tahun, Lu Yuejin tergopoh-gopoh mendekati petugas.

Lu ingin keluar dari Hubei karena putri kesayangannya Hu Ping (26) menderita kanker darah atau leukimia, sehingga perlu segera diobati. Sementara, rumah sakit di Wuhan penuh sesak dengan pasien corona.

“Putri saya harus pergi ke rumah sakit di Jiunjiang. Dia harus mendapatkan perawatan, tapi mereka (polisi) tidak mengizinkan kami keluar,” ujar Lu, seperti dikutip dari NDTV.

Sang putri terduduk lemas di atas tanah, sembari menutupi tubuhnya dengan selembar selimut, sedang Lu terus memohon kepada aparat agar diizinkan keluar dari Wuhan.

“Tolong bawa putri saya keluar dari sini, saya tidak pergi pun tidak apa-apa, tapi tolong biarkan anak saya keluar,” kata Lu, memohon, nyaris terisak.

Lu tahu, haram hukumnya meninggalkan kota isolasi Wuhan saat epidemi virus yang membunuh lebih dari 300 orang dan membuat 14.380 orang terjangkit, sedang menggila di China. Ia juga mengerti, polisi hanya menjalankan tugas agar penduduk Wuhan tak beranjak keluar dari kota.

Namun, ini kondisi genting. Tak dinyana, polisi itu luluh dan menelepon ambulan. Keduanya akhirnya dibawa keluar kota dengan ambulan tersebut.

“Yang ingin saya lakukan hanyalah menyelamatkan nyawanya,” kata Lu lagi.

Bagi Anda penggemar film, mungkin akan mengira kejadian tersebut hanya dramatisasi yang tak mungkin terjadi di dunia nyata. Sangat sulit menemukan ada petugas yang menggadaikan masa depan pekerjaannya demi menolong penduduk kota yang dilarang keluar pemerintah.

Ingat film “Flu” (2003) besutan Kim Sung Su? Lu bisa jadi adalah versi nyata dari sosok Kim In Hae, warga Bundang, Korea Selatan yang harus berjuang menyelamatkan anaknya Kim Mi Reu (Park Min Ha) yang terpapar virus dan seluruh warga Bundang lainnya.

Virus yang jadi biang keladi di film itu memang lebih gawat dari corona. Adalah virus H7N9, yang diduga masih satu famili dengan virus flu babi mampu memicu kematian dalam waktu 36 jam. Gejala yang ditimbulkan mulanya seperti flu biasa, yakni demam, batuk, dan lemas. Namun, penyebaran epidemi ini tergambar jauh lebih mengerikan ketimbang virus corona.

Walhasil, kota pusat virus akhirnya resmi diisolasi dari dunia luar. Tentara-tentara disiagakan di tiap akses dari dan ke Bundang, transportasi umum disetop. Sementara, supermarket-supermarket diserbu warga yang ingin memasok kebutuhan mereka.

Sayang, pemerintah tak benar-benar terbuka menguraikan betapa bahayanya virus ini. Pemerintah atas restu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bakal mengumpulkan warga satu per satu untuk diperiksa di stadion, sebelum dilempar ke kamp-kamp pengucilan.

Bagi mereka yang terjangkit virus, akan dipisahkan dan dibakar hidup-hidup. Sebaliknya, mereka yang sehat tetap dilarang keluar kota Bundang. Lebih ekstrem, Perdana Menteri Korea Selatan bahkan berniat membakar seisi kota tanpa kecuali agar virus tak menyebar.

Di saat-saat seperti itulah, ada orang macam Kim In Hae yang berjibaku memperjuangkan hidup orang lain, kendati bahaya lebih besar barangkali tengah mengintainya.

Akhir Januari 2020 silam, situs World of Buzz memberitakan soal keputusan seorang perawat Wang Yueha menjadi relawan di Wuhan. Sebuah video yang bikin hati rentan memperlihatkan sang suami Guoliang, ahli bedah urologi di Rumah Sakit Afiliasi Pertama Universitas Henan menangis histeris saat melepas kepergian istrinya.

Ada beberapa cara untuk menghindari penularan virus corona termasuk rutin mengganti masker dan memakai sarung tangan setiap keluar rumah.
Foto: CNN

Terdengar dalam video, pria berpakaian hitam ini berteriak “Wang Yuehua, aku mencintaimu. Aku mencintaimu,” sebelum dia menangis. Orang-orang di sekitarnya mencoba menenangkannya.

Namun, banyak dari mereka juga berlinang air mata kala melihat pria itu menangis sesenggukan. Atas nama kemanusiaan, Wang memang sengaja mendaftar jadi relawan medis diam-diam tanpa memberitahu suaminya karena takut tak diizinkan.

Keinginannya untuk turut memerangi virus corona lewat bantuan kemanusiaan jelas tak terbendung lagi. Ia naik bus bersama rekan-rekannya di hari kedua Tahun Baru China atau Imlek, 29 Januari 2020.

Hal semacam itu tentu bukan kejadian pertama. Saat wabah kusta menyerang daerah termiskin India, Kalkuta, Bunda Teresa memutuskan menjadi relawan di sana lepas dari segala kontroversinya.

Selama sepuluh tahun, ia membantu orang-orang melarat di tempat-tempat kumuh di Kalkuta, termasuk 100 ribu orang tunawisma. Ia juga membuka rumah sakit di lahan milik kuil Hindu di Kalighat.

Tak hanya itu, ia melanjutkan dengan membangun rumah bagi anak-anak yang dibuang dari keluarganya karena terjangkit penderita lepra.

Di Vietnam–daerah yang sejak 1995 memiliki prevalensi penyakit yang tinggi mengutip Huffington Post, seorang biarawatiSr Mary Nguyen Thi Hong Hoa juga merawat pasien kusta. Ia menyediakan mereka tunjangan bulanan, sembako, obat-obatan, dan kursi roda. 

Saban tahun, Hoa bekerja untuk membangun sepuluh rumah baru bagi para penyintas penyakit, lengkap dengan air sumur baru dan kontainer semen untuk menampung air hujan. Setiap rumah memerlukan biaya antara US$ 1.500 dan US$ 2.500 (Rp19,5-Rp32,5 juta) dan didanai dermawan asing.

Di Afrika, saat wabah ebola melanda di Kivu Utara, sebuah provinsi di timur laut Republik Demokratik Kongo selama kurun 2018-2019, tak ada satu pun aktivis LSM atau bantuan kesehatan internasional yang mendekat. Sebanyak 500.000 orang mati karena penyakit ini.

Pemerintah justru menggunakan wabah Ebola sebagai dalih melarang penduduk di Kivu Utara, turut memberikan suaranya dalam pemilihan presiden (Pilpres) Desember 2018. Belum termasuk ancaman kekerasan yang dilancarkan Allied Democratic Forces (ADF). Beruntungnya, beberapa orang masih bersedia menjadi relawan di daerah itu meski tak mendapat sokongan pemerintah.

 Korban meninggal akibat virus corona mencapai 17 orang, sedang ratusan sisanya kritis atau dirawat di rumah sakit.
Foto: France 24

Beberapa ilustrasi cerita di atas menunjukkan, di tengah kondisi segenting apa pun, selalu bisa ditemukan wajah kemanusiaan. Martin Luther King Jr. pernah berujar, “Semua orang bisa menjadi hebat, karena semua orang bisa melayani.”

Hal itulah yang doba diartikulasikan oleh banyak relawan saat berniat membantu sesamanya yang tak beruntung karena terpapar virus atau digulung bencana.

Dalam sebuah artikel di The Washington Post, psikolog Jennifer Crocker menuturkan dalam studinya, insting manusia untuk membantu orang lain yang kesulitan, tak semata-mata didorong hasrat memanusiakan yang lain, tapi juga demi mencapai “kesenangan” pribadi.

Dari studinya terhadap sejumlah siswa dan pelajar yang menjadi relawan, ia menemukan, yang memegang “tujuan belas kasih” ini lebih sedikit mengalami depresi, kecemasan, dan kesepian. Mereka menerima lebih banyak dukungan dari rekan-rekan mereka, bahkan bisa berkembang lebih baik.

Pola ini juga tersebar luas. Anak-anak dan orang dewasa mendapat kesenangan karena membantu orang lain. Dokter yang merasa iba terhadap pasiennya, kolega yang mendukung satu sama lain tampil lebih efektif dan lebih puas di tempat kerja. Pun, orang dewasa secara sukarela bisa hidup lebih lama dan tetap lebih sehat daripada mereka yang tidak membantu orang lain.

Meski kebaikan selalu menguntungkan, tapi analisis Crocker ini tak sejalan dengan ucapan Marthin Luther King Jr. bahwa kebaikan yang dangkal tak akan menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan yang hakiki.

Jadi, mari kita berdoa agar kemanusiaan yang ada dalam kondisi kesempitan, bencana, dan wabah murni didorong keinginan untuk memanusiakan manusia, alih-alih mengejar kesenangan pribadi.

Sumber: matamatapolitik.com

Editor: tom.