HETANEWS

Memahami Dampak Lockdown Bagi Perekonomian Indonesia

Ilustrasi lockdown. Foto: Istimewa

Hetanews.com - Pada 12 Maret 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan penyakit yang disebabkan oleh virus korona tipe baru atau Covid-19 sebagai pandemi. Hal ini langsung menimbulkan ekspektasi negatif bagi pemodal portepel atau portofolio luar negeri.

Menjaga jarak sambil memelihara nafkah orang banyak

Memenuhi anjuran WHO untuk penelusuran dan pencegahan perluasan wabah, Indonesia mengumumkan kasus positif Covid-19 untuk pertama kali pada 9 Maret 2020.

Sampai dengan Senin (23/3/2020) pukul 15.00 WIB, berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19, sebanyak 579 orang positif Covid-19 di Indonesia. Sebanyak 49 orang meninggal dan 30 orang sembuh.Di tengah masyarakat, media sosial dan alat komunikasi sudah menjadi hal yang umum.

Berbagai kalangan mengemukakan ide, mulai dari perdebatan kebenaran perihal efektivitas kunyit untuk meningkatkan daya tahan tubuh sampai perlu atau tidaknya penghentian aktivitas secara total (lockdown).

Dalam perdebatan yang terakhir ini kita harus menyikapinya secara bijaksana.Perekonomian merupakan satu kesatuan arus mengalir (circular flow) yang terdiri dari masyarakat konsumen dan produsen.

Secara sederhana, pengeluaran satu entitas merupakan rezeki bagi yang lainnya. Produksi dari satu entitas tidak hanya merupakan barang dan jasa yang siap dikonsumsi, tetapi juga pendapatan bagi rumah tangga yang bekerja di pabrik dan rumah tangga produksi.

Dari segi pelaku sektor produksi, perekonomian Indonesia didominasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan, pada 2019, entitas produksi Indonesia didominasi UMKM, yaitu 99,99 persen dari total jumlah unit usaha yang ada.

Sementara itu, dari sisi nilai tambah, UMKM menyumbang sekitar 63 persen dari produk domestik bruto.Dari segi ukuran jumlah pekerja dan omzet, yang terkecil adalah usaha mikro dengan kontribusi nilai tambah sekitar 34 persen PDB. Sementara secara entitas berjumlah sekitar 98 persen dari 63 juta jumlah total unit usaha yang ada, termasuk perusahaan besar.

Tidak seperti pegawai kerah putih di perkantoran, bagi usaha mikro dan pekerjanya, hidup adalah dari hari ke hari dengan mengandalkan omzet dan pendapatan harian. Omzet usaha mikro per tahun rata-rata sekitar Rp 76 juta, berarti Rp 6 juta sebulan atau Rp 200.000 per hari. Bagi kelompok ini, akses dan kesempatan menjual produk mungkin lebih penting dibandingkan dengan bantuan tunai dan kredit.

Penjual di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, atau Pasar Gede, Solo, punya kotak uang, yang meskipun isinya bisa jadi uang kertas yang lusuh, menjadi sumber investasi dan untuk berjaga-jaga.

Bagi mereka, kesehatan dan penghidupan menjadi satu. Mereka berusaha mencari nafkah untuk tetap sehat dan mereka berusaha tetap sehat untuk dapat mencari nafkah.

Bukan kebetulan jika sebagian besar negara yang memutuskan lockdown adalah negara maju yang berlokasi di benua. Pertimbangannya, logistik dan ukuran sektor informal.

Korea Selatan sebagai negara maju dengan sektor informal kecil menyadari perannya sebagai penghubung sistem logistik dunia yang dapat dengan mudah direbut negara-negara tetangganya.

Kebijakan alternatif yang cukup berhasil dalam meredam penyebaran wabah adalah pengujian drive-thru, komunikasi massa, dan penggunaan teknologi. Singapura sebagai titik kumpul internasional sejauh ini tidak memilih lockdown. 

Indonesia memilih mengurangi mobilitas orang, menjaga jarak (social distancing), mengurangi kerumunan orang, dan tes cepat secara massal.

Sejak 13 Maret 2020, perguruan tinggi telah mengambil inisiatif, bukan lockdown atau libur, namun menghentikan kuliah tatap muka dengan kuliah pembelajaran jarak jauh.

Langkah ini diikuti sekolah dasar hingga lanjutan. Alternatif ini merupakan komproni antara kegiatan belajar-mengajar dan keperluan untuk mencegah penularan Covid-19.

Strategi yang sama dapat dilakukan untuk membantu sektor informal yang hidup dari penghasilan harian seperti warung, pedagang kecil, industri rumah tangga, sopir angkot, dan ojek dalam jaringan.

Tanpa perintah lockdown pun mereka sudah kehilangan pelanggan dengan makin sepinya sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan tempat keramaian yang lain.

Sektor informal mempunyai peranan penting dalam menjaga resiliensi perekonomian. Saat ini secara makro, berbagai stimulus telah dilakukan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat, nilai dari pajak yang ditanggung pemerintah untuk enam bulan ke depan, dana desa, bantuan tunai, relaksasi kredit untuk dunia usaha dan UMKM.

Pada awalnya, strategi ini ditujukan untuk mengompensasi penurunan permintaan akibat terpuruknya sektor hotel dan restoran, serta perdagangan dan manufaktur. Dalam perjalanan waktu, kebijakan ini akan sangat berguna untuk masa pemulihan nanti.

Daya beli hanya akan efektif kalau masih ada barang dan jasa yang dihasilkan sektor produksi, termasuk UMKM, setidaknya pada tingkat aktivitas minimum. Jika tidak, dampaknya adalah inflasi yang berkelanjutan.

Secara mikro, berbagai platform daring yang populer untuk memesan makanan, barang, atau kurir dapat dimobilisasi untuk memelihara keseimbangan sisi permintaan dan produksi pada tingkat minimum. Di perdesaan, agen laku pandai bank-bank BUMN, badan usaha milik desa, dan koperasi dapat melakukan hal yang sama.

Secara keseluruhan, kebijakan makro-mikro penanggulangan wabah Covid-19 diharapkan akan dapat mempertahankan ekspektasi positif semua entitas ekonomi, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kebijakan makro-mikro itu sangat diperlukan untuk Indonesia agar tetap tumbuh setelah badai ini berlalu.

Sumber: ui.ac.id

Editor: tom.